Lhoksukon, Line1.News – Embun pagi masih memeluk erat Lhoksukon saat cahaya lampu Masjid Syuhada KM 1 mulai berpendar terang di tengah kegelapan Subuh, Ahad, 26 April 2026/8 Dzulqa’dah 1447 H. Di dalam rumah Allah itu, dinginnya udara Aceh Utara seolah sirna, digantikan oleh hangatnya getaran spiritual yang merambati ribuan hati yang berkumpul di sana.
Masjid Syuhada pagi itu bukan sekadar tempat sujud; ia bertransformasi menjadi dermaga jiwa. Di bawah naungan komunitas Tadzkiratul Ummah (TU) Aceh, ribuan jemaah—dari ulama kharismatik hingga masyarakat biasa—larut dalam Safari Subuh yang mengharukan.
Puncaknya terjadi saat Teungku H. Jamaluddin Ismail, atau yang akrab disapa Walidi, memimpin zikir. Suara sang Imam Besar Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon itu mengalun syahdu, memecah kesunyian fajar. Saat seruan “Poma dan Ayah” (Ibu dan Ayah) serta untaian doa ampunan dilantunkan, menembus relung kalbu.
Bahu para jemaah berguncang. Isak tangis tak lagi tertahan. Di sela-sela zikir, air mata menetes membasahi sajadah, membawa rindu dan permohonan ampun ke haribaan Ilahi.
“Banyak jamaah yang tak kuasa menahan haru. Pagi itu benar-benar menjadi taman munajat yang tak terlupakan,” ujar Dr.(C). Teungku Muhammad Hatta, Anggota TU Aceh yang akrab disapa Bung Hatta.
Kesyahduan itu makin lengkap dengan tausiyah dari Waled Ridwan Batee 12. Dengan nada bicara yang menyejukkan, ia mengingatkan bahwa ibadah tanpa ilmu dan adab hanyalah raga tanpa jiwa. Menurutnya, ibadah yang benar harus berlandaskan ilmu, niat yang lurus, serta diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim sebagai benteng dari gangguan setan.
Waled juga menekankan pentingnya membersihkan hati dari sifat tercela serta saling memaafkan sebagai bekal menuju akhirat.
Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Sekjen TU Aceh Abati Samsul, Sekretaris Pembina Zulkarnaini, hingga jajaran ulama lainnya, semakin mempertegas kuatnya ikatan ukhuwah di Aceh Utara.
Bagi Bung Hatta, Safari Subuh ini bukan sekadar rutinitas mingguan. Ia adalah sebuah pesan tentang kebangkitan. “Dari Subuh yang hidup, lahir kesadaran. Dari zikir yang menggetarkan, tumbuh peradaban yang berakar pada ilmu, adab, dan kasih sayang,” pungkasnya mantap.
Saat mentari perlahan muncul di ufuk timur, ribuan jemaah melangkah keluar masjid dengan wajah yang lebih cerah. Mereka pulang membawa jiwa yang telah “dicuci” bersih oleh zikir dan doa di keheningan Lhoksukon.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy