Lhokseumawe – Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil atau Ayahwa menangis saat menyampaikan kondisi terkini dampak banjir di kabupaten yang memiliki desa terbanyak di Indonesia.
“Lihat masyarakat,” ucap Ayahwa sambil mengusap air matanya saat pertemuan dengan awak media di Pendopo Bupati Aceh Utara di Lhokseumawe, Rabu siang, 3 Desember 2025.
“Saya berduka cita, [sebagian korban banjir masih] kelaparan,” kata Ayahwa, lalu kembali mengusap air matanya.
Ayahwa menyatakan dampak banjir melanda Aceh Utara kali ini lebih parah daripada tsunami. “Mungkin tsunami kenak-nya hanya pesisir dan hanya sementara. Tapi, [dampak banjir] sampai hari ini sudah sembilan hari kenak-nya bencana ini 27 kecamatan. Cuma 2 kecamatan yang tidak kenak habis,” ungkapnya.
“Tapi, sampai hari ini kondisinya, mayat-mayat belum habis ditemukan. Di [wilayah Kecamatan] Langkahan [salah satu kawasan pedalaman] masih ada mayat,” tambah Ayahwa.
Surat Pernyataan Ketidakmampuan
Bupati Aceh Utara pada Selasa, 2 Desember kemarin, telah membuat surat Pernyataan Ketidakmampuan Penanganan Darurat Bencana. Surat Nomor: 400/1832/2025 itu ditujukan kepada Presiden RI.
“Sehubungan dengan surat kami tentang pernyataan tanggap darurat Nomor: 400.7.23.2/1789/2025 terkait penanganan bencana alam banjir Kabupaten Aceh Utara yang terhadi sejak 26 November 2025, dapat kami laporkan sebagai berikut:
Pertama, bencana alam banjir yang terjadi di Kabupaten Aceh Utara daya rusaknya melebihi bencana alam gempa dan tsunami Aceh pada 2004, di mana kerusakan hanya terjadi daerah pesisir. Sedangkan banjir pada 26 November 2025, daya rusaknya meliputi seluruh wilayah Kabupaten Aceh Utara baik pesisir maupun pedalaman terdiri dari 27 kecamatan dan 852 gampong/desa.
Kedua, sampai hari ke8, bencana alam banjir telah merenggut 121 nyawa manusia dan korban hilang 118 jiwa, serta mengakibatkan rusaknya infrastruktur publik, hilangnya tempat tinggal masyarakat di beberapa gampong dan sebagian besar lainnya mengalami rusak berat.
Ketiga, saat ini dapat kami laporkan kondisi Kabupaten Aceh Utara pascabencana alam banjir masih banyak desa terisolir dan tidak dapat dijangkau oleh transportasi darat disebabkan masih tingginya genangan air, menumpuknya material kayu, tebalnya lumpur, serta pohon dan tiang listrik yang roboh ke badan jalan.
Menindaklanjuti hal tersebut di atas kami menyatakan ketidakmampuan upaya penanganan darurat bencana, dan mohon kepada Bapak Presiden agar membantu penanganan banjir di Aceh Utara.
Demikain pernyataan ketidakmampuan ini kami sampaikan dan atas bantuan Bapak Presiden kami ucapkan terima kasih,” bunyi surat tersebut yang dibacakan Ayahwa di hadapan para wartawan.
Surat tersebut ditembuskan kepada Ketua DPR RI, Ketua DPD RI, Mendagri, Menteri PU, Menteri Perumahan Rakyat, Kepala BNPB, Gubernur Aceh, Ketua DPRA, dan Ketua DPRK Aceh Utara.
9 kecamatanh Terisolir
Ayahwa juga menyampaikan hingga Rabu (3/12), daerah masih terisolir di Aceh Utara sebanyak 9 kecamatan. “Kondisinya masih belum dapat kita tembus. Ini kita sudah berusaha, alat-alat berat sudah kita kirimkan, terobos sedikit demi sedikit supaya bisa masuk ke dalam,” ujarnya.
Merespons keluhan banyak masyarakat terdampak banjir belum mendapatkan bantuan, Ayahwa mengatakan, “Keterbatasan anggaran, BTT (belanja tidak terduga) kita kecil, sehingga yang ada kita beras, sehingga kemarin bantuan-bantuan dari perusahaan hanya sedikit”.
“Mungkin ada catatan, [jumlah bantuan logistik sementara] hanya satu truk, seperti BPD (Bank Aceh) hanya baru satu (mobil penumpang) L-300 sembako yang diberikan,” tambah Ayahwa.
Minta TPP Pegawai untuk Korban Banjir
Soal antisipasi terhadap potensi aksi anarkis sebagian warga korban banjir yang belum mendapatkan bantuan, Ayahwa mengatakan, “Makanya kita selalu mengimbau masyarakat agar selalu bersabar. Akan tetapi, kalau masyarakat tidak lagi dapat bersabar bagaimana ini, perutnya kosong. Maka ini kita usahakan sama-sama”.
“Yang pertama, kita beras. Yang kedua, BTT kita [minim]. Kemudian kemarin saya panggil semua pegawai di Aceh Utara, saya minta dulu keikhlasan dari semua pegawai, saya ambil TPP [Tambahan Penghasilan Pegawai] satu bulan untuk beli mi instan, telur, minyak [goreng], dan air mineral,” ujar Ayahwa.
“Ini yang bisa kesanggupan kita, maka kita transfer ke semua posko-poko di kecamatan. Kita buat posko di kecamatan masing-masing. Jadi, masyarakat kita melalui geuchik silakan [meminta] kepada posko di kecamatan masing-masing. 27 kecamatan ini sudah kita transferkan (kirimkan) beras, mi instan, dan air mineral di posko kecamatan masing-masing,” tambah Ayahwa.
Apakah masyarakat korban banjir di 9 kecamatan yang masih terisolir sudah mendapatkan bantuan? “Sebagian, yang bisa masuk sudah, yang belum masuk berarti belum mendapatkan. Bantuannya ada di posko kecamatan masing-masing,” ujar Ayahwa.
Menurut informasi, kata Ayahwa, bantuan logistik ke kawasan terisolir akan dipasok lewat udara menggunakan helikopter. “Menurut informasi hari ini,” ucapnya.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy