Ma’asyiral Muslimin yang Dirahmati Allah,
Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Alhamdulillah, berkat limpahan rahmat dan ‘inayah-Nya, kita masih mendapatkan nikmat iman, Islam, sehat, panjang umur, dan juga nikmat hidayah serta kekuatan, sehingga hati kita masih terpanggil menjalankan perintah Allah, dan bersimpuh di tempat yang insya Allah penuh berkah ini.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Baginda Alam, Nabi Besar Muhammad SAW. beserta keluarga dan para sahabatnya, hingga kepada kita yang senantiasa berharap ridha dan syafaatnya pada hari kiamat.
Di antara hikmah perjalanan Isra’ Mi’raj adalah diperlihatkannya sebagian kekuasaan Allah kepada Baginda Rasulullah SAW yang kala itu tengah dirundung duka mendalam karena ditinggal wafat orang-orang tercinta.
Demikian terungkap dalam surat Al-Isra’ ayat 17: “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami.”
Di antara sebagian kuasa Allah yang diperlihatkan kepada Baginda Nabi adalah Baitul-Ma’mur. Dalam Al-Quran, tepatnya dalam surat Ath-Thur, Baitul-Ma’mur disebutkan, bahkan menjadi sumpah Allah SWT: “Demi Baitul-Makmur, dan demi atap (langit) yang ditinggikan.” (QS. Ath-Thur [52]: 4-5).
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Penggunaan istilah Baitul-Ma’mur sebagai sumpah ini tentu menyimpan hikmah dan rahasia yang mendalam di belakangnya. Lantas seperti apa keistimewaan Baitul Ma’mur sebagai salah satu tanda kebesaran Allah yang ditunjukkan kepada Rasulullah. saat perjalanan Isra’ Mi’raj.
Keistimewaan Baitul-Ma’mur sendiri antara lain tampak pada salah satu hadits Rasulullah mengenai kisah perjalanan Mi’raj-nya. “Kemudian diangkatlah kepadaku Baitul-Ma’mur. Lantas, aku bertanya pada Malaikat Jibril. Ia menjawab, ‘Ini Baitul-Ma’mur dimana setiap hari 70 ribu malaikat salat di dalamnya. Ketika mereka keluar darinya, tidak pernah kembali lagi kepadanya hingga akhir hari mereka (Kiamat),” (HR Al-Bukhari).
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, para malaikat beribadah di dalam Baitul-Ma’mur. Betapa banyaknya jumlah mereka. Setiap hari sebanyak 70 ribu malaikat mendatangi Baitul Ma’mur. Mereka menunaikan tawaf di sana, dan tak pernah kembali lagi, sebagaimana para penduduk bumi menunaikan tawaf di Ka’bah.
Posisi Baitul-Ma’mur sendiri berada di langit ketujuh, tepat berada di bawah ‘Arsy, dan sejajar dengan posisi Ka’bah yang ada di bumi. Sehingga, seandainya ada sebuah batu dari Baitul Ma’mur yang jatuh, maka ia akan jatuh di atas Ka’bah. Kehormatannya di langit seperti kehormatan Ka’bah di bumi.
Di sana pula, Rasulullah menjumpai Nabi Ibrahim yang tengah menyandarkan tubuh ke salah satu dindingnya. Ia tampak dengan wajah yang sangat tampan. Demikian seperti yang diungkap dalam Tafsir Ibni Katsir, juz jilid V halaman 7.
Sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Namun di antara sederet hikmah Isra’ Mi’raj yang diberikan kepada Rasulullah SAW, hikmah terbesar dan paling masyhur adalah perintah salat lima waktu. Dianggap paling istimewa karena hikmah ini dapat diterima dan dirasakan hingga sekarang oleh umat Rasulullah, sekaligus menjadi manifestasi dan bentuk hakiki Isra’ Mi’raj yang dijalani oleh mereka.
Yang tak kalah masyhur, penetapan perintah salat lima waktu juga dikenal cukup dramatis, mengingat awal mula perintah salat lima waktu ini berasal dari 50 waktu dalam sehari semalam. Sesuai dengan saran dari Nabi Musa, Rasulullah memohon keringanan kepada Allah ta’ala.
Maka jumlah waktu salat dikurangi lima waktu menjadi 45 waktu. Namun, Nabi Musa kembali menyarankan kepada Rasulullah agar jumlah itu kembali dikurangi. Pertimbangannya, umat Rasulullah SAW tidak akan mampu menunaikan salat sebanyak itu.
Akhirnya, Rasulullah kembali memohon keringanan kepada Allah. Setelah beberapa kali diusulkan Rasulullah, Allah pun menetapkan lima waktu salat sehari semalam.
Kendati hanya lima waktu, pahala salat tersebut sama dengan pahala shalat 50 waktu. Demikian seperti yang disampaikan oleh Syekh Al-Barzanji: “Maka salat lima waktu memiliki ganjaran lima puluh waktu salat, sebagaimana yang dikehendaki Allah dalam azali dan ketetapan-Nya.”
Adapun hikmah dan tujuan diturunkannya perintah salat tentunya cukup banyak, antara lain mencegah perbuatan keji dan mungkar, mendekatkan diri kepada pertolongan Allah, membersihkan diri dari salah dan dosa, meraih ketenangan hati, dan mendisiplinkan diri dengan perintah Allah. Namun tentunya, semua itu tidak keluar dari hikmah utama salat yang disebutkan Allah dalam Al-Qur’an, yaitu: “Maka sembahlah Aku dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku,” (QS. Thaha [20]: 14).
Bersamaan dengan momen peringatan Isra’ Mi’raj ini, marilah kita tingkatkan pengamalan ibadah salat kita yang lima waktu, demi meraih kedekatan diri kepada Allah. Semoga kita, keluarga, dan keturunan kita termasuk golongan yang senantiasa menjalankan salat serta terkabul doa dan cita-cita.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy