Obesitas dan diabetes sudah lazim menjadi penyakit yang diidap penyuka makanan manis. Tapi, penelitian terbaru menyebutkan, ada satu penyakit lagi yang berisiko tinggi menghinggapi penyuka makanan manis: depresi.
Food and Wine, riset terbaru dalam Journal of Translational Medicine menyebutkan, orang-orang yang sering makan makanan manis lebih berisiko terkena depresi ketimbang yang sedikit makan makanan manis.
Penelitian itu melibatkan 182 ribu responden yang terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, orang yang peduli kesehatan, seperti masih suka makan buah dan sayur daripada makanan hewani dan makanan manis. Kedua, orang yang sangat suka makan daging, ikan, beberapa sayuran, dan makanan manis. Ketiga, orang yang sangat dan hanya menyukai makanan dan minuman manis.
Para peneliti menghitung risiko terkena penyakit kronis dan kondisi kesehatan mental setiap respoden. Lalu, ditemukan bahwa orang-orang dalam kelompok yang peduli kesehatan memiliki risiko gagal jantung 14 persen lebih rendah, dan risiko penyakit ginjal kronis 31 persen lebih rendah dibandingkan dengan kelompok lainnya.
Sementara kelompok yang sangat suka makanan manis memiliki risiko depresi 27 persen lebih tinggi, risiko stroke 22 persen lebih besar, dan risiko diabetes 15 persen lebih tinggi, dibandingkan dengan kelompok lainnya.
Namun, kelemahan dari riset itu, peneliti hanya menemukan hubungan makanan manis dan depresi tanpa tahu penyebab sebenarnya. “Kami tidak dapat menjawab secara pasti apakah konsumsi gula menyebabkan depresi,” ujar rekan penulis studi Nophar Geifman, profesor kesehatan dan informatika biomedis di University of Surrey.
Selain riset itu, ada penelitian lain yang mengaitkan makanan manis dengan depresi. Hillary Ammon, psikolog klinis di Center for Anxiety & Women’s Emotional Wellness mengungkapkan dalam penelitiannya tentang hubungan langsung antara asupan gula dan peningkatan tingkat depresi. Dia menduga peningkatan asupan gula berdampak langsung pada mekanisme otak.
Gail Saltz, profesor madya psikiatri di Sekolah Kedokteran Weill-Cornell, Rumah Sakit Presbyterian New York juga mengatakan, pola makan mengandung banyak gula dapat meningkatkan peradangan tubuh sehingga turut meningkatkan risiko depresi. Gula juga dapat mengganggu bakteri dalam usus. “Ada hubungan antara usus dan otak yang dapat menjelaskan peningkatan depresi.”
Saltz juga menjelaskan, diet tinggi gula selanjutnya juga dapat meningkatkan produksi hormon stres kortisol dalam tubuh, yang meningkatkan risiko depresi.
Takaran konsumsi makanan manis yang aman bagi kesehatan
Berdasarkan pedoman Kementerian Kesehatan tentang jumlah konsumsi gula, garam, dan lemak (ggl) harian seseorang, dibatasi asupan gula per hari 50 gram atau sekitar 4 sendok makan.
Namun batasan ini sulit bagi sebagian masyarakat Indonesia. Terlebih kita terbiasa mengonsumsi makanan dan minuman manis. Contohnya saja, setiap selesai makan siang atau malam, kita terbiasa minum teh manis. Belum lagi, kita juga kerap ngemil makanan manis seperti martabak, es krim, dan lainnya.
Padahal studi yang diterbitkan Februari 2024 menemukan bahwa untuk setiap tambahan delapan sendok makan gula yang dikonsumsi seseorang, ada risiko depresi lebih tinggi. Namun, studi tersebut tidak membuktikan bahwa mengonsumsi gula menyebabkan depresi.
“Penting untuk melihat temuan ini dalam konteks pola makan dan pilihan gaya hidup secara keseluruhan, daripada berfokus pada satu jenis atau kelompok makanan saja,” kata Geifman. Saltz pun setuju dan mencatat hubungan antara depresi dan gula tidak terjadi dengan konsumsi gula sekali saja.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy