Kuala Simpang – Masyarakat Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, masih menanti bantuan dari pemerintah setelah sebulan lebih banjir dan tanah longsor yang menerjang daerah itu akhir November 2025 lalu.
Warga desa itu masih menempati tenda-tenda yang diberikan oleh pemerintah, para relawan, hingga gubuk-gubuk kecil yang dibangun secara mandiri di atas fondasi rumah yang disapu air bah.
Salah satu warga Desa Sekumur, Darmila, menyampaikan 44 hari pascabencana, pasokan listrik dari PLN di desanya masih padam. Dia dan warga lain hanya mengandalkan penerangan dari mesin genset secara terbatas.
“Listrik di kampung kami masih padam. Sekarang ada genset dari relawan dan genset ini di malam hari saja hidupnya,” kata Darnila, dikonfirmasi Line1.News, Jumat, 9 Januari 2026.
Darnila dan keluarganya kini bertahan di gubuk kecil berdinding tripleks yang didirikan secara mandiri. Sementara rumahnya sudah lenyap diterjang banjir bandang pada akhir November lalu.
Dia mengaku belum mendapat kabar bahwa pemerintah membangun hunian sementara (huntara) bagi korban banjir. Menurutnya, warga setempat masih mendiami tenda pengungsian seadanya.
“Belum ada kabar hunian sementara. Warga sendiri masih tinggal di tenda,” ungkap ibu rumah tangga berusia 47 tahun itu.
Darnila mengatakan bantuan logistik sudah banyak yang masuk ke desanya. Bantuan itu berupa bahan pangan, seperti beras, telur, minyak makan, air mineral, hingga mi instan.
“Cuma kami alat dapur yang masih kurang. Seperti kompor, periuk dan lain-lain. Itulah yang kami butuhkan,” ujar dia.
Selain itu, Darnila juga menyampaikan sudah ada sumur bor yang dibangun di dua lokasi. Sementara toilet atau WC umum, juga sudah tersedia berkat bantuan dari Malaysia.
“Air bersih sudah ada dan sumur bor juga sudah ada. Kemudian ada tiga WC umum masuk dari Malaysia,” tuturnya.
Hingga kini, aktivitas warga belum pulih sepenuhnya. Sebagian masyarakat masih mencari barang-barang yang tersisa untuk mendirikan tempat tinggal sementara.
“Kalau aktivitas bekerja mencari nafkah, ya, belum. Sebagian warga masih mencari barang-barangnya yang hanyut seperti papan-papan untuk mendirikan dinding tenda,” jelasnya.
Darnila juga meminta pemerintah menyediakan perlengkapan sekolah bagi anaknya. Pasalnya, seragam sekolah milik putranya ikut terbawa arus banjir.
“Anak-anak sudah masuk sekolah, baju seragam banyak hanyut. Anak kami pakai baju bebas pergi sekolah. Kami berharap ada bantuan seragam sekolah,” pungkasnya.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy