Karang Baru – Perusahaan fashion asal Bandung, Mycelium Leather (MYCL), akan mendirikan pabrik kulit berbahan jamur di Aceh Tamiang.
Rencana pendirian pabrik itu telah disampaikan langsung oleh CEO MYCL Adi R Nugroho saat bertemu Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi pekan lalu.
Armia menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh atas rencana itu karena dinilai menjadi peluang besar dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat serta penyerapan tenaga kerja lokal.
“Saya sangat kagum dengan inisiatif anak-anak muda dari Bandung yang memanfaatkan jamur sebagai komoditas ekspor ramah lingkungan. Ini juga menjadi peluang nyata untuk penyerapan tenaga kerja lokal,” ujarnya dikutip dari Laman Pemkab Aceh Tamiang, Senin, 28 Juli 2025.
MYCL memiliki pangsa pasar di Eropa dan Amerika Serikat. Perusahaan ini disebut memproduksi kulit ramah lingkungan berbahan jamur dan kini telah memiliki cabang di Jepang.
Rencana pendirian pabrik di Aceh Tamiang dilakukan untuk memperluas produksi dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang ramah lingkungan, seperti pelepah kelapa sawit.
MYCL selama ini memproduksi kulit jamur menggunakan serbuk kayu namun hasilnya belum optimal. Setelah melakukan serangkaian uji coba pada beberapa komoditas seperti bongkol jagung dan sekam padi, pelepah kelapa sawit terbukti paling cocok karena kandungan selulosanya tinggi.
MYCL memastikan hanya akan menggunakan pelepah sawit dari kebun yang telah bersertifikat internasional ISPO dan RSPO. Hal ini dinilai sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan komitmen perlindungan lingkungan di Aceh Tamiang.
Terkait hal itu, Pusat Unggulan Perkebunan Lestari (PUPL) dan Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama sejumlah lembaga donor telah membina sekitar 2.200 petani sawit di Aceh Tamiang melalui empat koperasi dan satu perkumpulan petani sawit bersertifikat ISPO/RSPO.
Pasokan pelepah sawit dari petani binaan itu diyakini dapat memenuhi kebutuhan bahan baku MYCL untuk produksi kulit jamur.
Selain itu, jika pabrik MYCL berdiri akan mendukung pengurangan limbah kebun sawit dan membuka peluang ekonomi sirkular di Tamiang.
Armia menegaskan kehadiran investasi seperti pabrik MYCL sangat membantu daerah di tengah keterbatasan anggaran yang kini hanya tersisa 20 persen setelah sebagian besar APBK digunakan untuk belanja pegawai.
“Kita membuka pintu selebar-lebarnya untuk investor. Ini sangat membantu karena infrastruktur tidak bisa kita harapkan banyak dari APBK saat ini,” ujarnya.
Saat presentasi bersama MYCL, Armia memuji kualitas kulit berbahan jamur yang ternyata memiliki ketahanan api lebih baik dibandingkan kulit sapi.
“Kulit jamur ini sudah diuji tahan api dan kualitasnya sangat baik. Ini adalah inovasi luar biasa.”
Sementara Adi menjelaskan kualitas kulit jamur tinggi karena dinding sel mycelium mengandung chitin, protein, dan polisakarida yang mampu menekan api saat terbakar.
Tingginya mutu membuat permintaan pasar dunia terhadap kulit jamur sangat tinggi, termasuk dari Amerika Serikat dan Inggris.
Adi juga optimis pembangunan pabrik di Aceh Tamiang dapat memenuhi kebutuhan pasar global dengan tetap melibatkan petani lokal dalam rantai produksinya.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy