Pertumbuhan Ekonomi Naik Tapi Rakyat Sedang Susah, Legislator Minta Klarifikasi BPS

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Foto: Towfiqu Barbhuiya/Unsplash via Detik

Jakarta – Beberapa anggota Komisi X DPR RI meminta klarifikasi terkait data pertumbuhan ekonomi kepada Kepala Badan Pusat Statistik Nasional (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti saat rapat dengar pendapat di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Selasa malam, 26 Agustus 2025.

Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana menyoroti data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 sebesar 5,12 persen yang dipertanyakan banyak pengamat ekonomi soal metode penghitungannya.

“Ada kritik dari para ekonom untuk meminta BPS menjelaskan lebih gamblang cara menghitung pertumbuhan ekonomi secara transparan bagaimana?” kata Bonnie dikutip dari Laman DPR RI.

Anggota DPR lainnya, Juliyatmono, mengaku tak habis pikir pertumbuhan ekonomi kuartal II terkerek naik di tengah kondisi perekonomian yang sedang sulit. “Karena kenyataannya orang merasakan agak susah, tapi bertumbuh seperti ini,” ujarnya.

DPR, kata Juliyatmono, perlu penjelasan dari BPS. Sebab, para legislator juga perlu menjelaskan kepada publik metodologi singkat penghitungan pertumbuhan ekonomi. “Di mana posisi pertumbuhan itu yang paling sentral, misalnya,” ujar politisi Fraksi Golkar ini.

Pertanyaan juga muncul dari La Tinro La Tunrung. Menurut dia, publikasi BPS soal pertumbuhan ekonomi menimbulkan keraguan karena sejumlah lembaga ekonomi memprediksi ekonomi RI triwulan kedua tak bakal mencapai 5 persen.

Setiap survei yang dilakukan, kata dia, pasti ada margin error. “Tetapi kalau melihat angka-angka pertumbuhan ekonomi yang dilakukan oleh BPS, dibandingkan dengan yang lain, kita menambahkan plus minus, margin error itu tidak bisa sama,” ucap politisi Fraksi Gerindra ini.

Menurut dia, proyeksi sejumlah lembaga tak ada yang hasilnya hampir sama dengan perhitungan BPS. “Nah, sekarang pertanyaannya, siapa yang salah? Jangan sampai, karena ada keinginan-keinginan yang lain, sehingga terjadilah kesalahan dan fatalnya,” ucap dia.

Sebelumnya, Center of Economic and Law Studies (Celios) meminta Badan Statistik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengaudit data pertumbuhan ekonomi triwulan II 2025 yang dilaporkan BPS. Celios menilai ada indikasi perbedaan antara pertumbuhan ekonomi 5,12 persen dengan kondisi riil perekonomian.

Sementara itu, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti pada Selasa, 19 Agustus 2025, mengatakan tak mengubah metode penghitungan pertumbuhan ekonomi. Ia hanya menyatakan data yang digunakan lebih lengkap. “Sehingga kualitas penghitungan makin baik dan akurat.”[]

 

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy