Pengembangan Pariwisata Aceh, BI Sarankan Peningkatan Jumlah Hotel Berbintang

Hotel di London modifikasi untuk melayani liburan Muslim
Beberapa hotel di London telah membuat modifikasi untuk melayani liburan Muslim. Foto: BBC/Magdy Rustum

Banda Aceh – Bank Indonesia (BI) menyebut terdapat beberapa hambatan dan tantangan dalam pengembangan pariwisata di Aceh. Di antaranya, minimnya fasilitas baik utama maupun pendukung sehingga mengurangi minat wisatawan untuk mengunjungi Aceh.

Sebagai contoh, hanya terdapat 41 hotel bintang yang tersebar di beberapa kabupaten/kota dengan konsentrasi terbesar berada di Kota Banda Aceh sebanyak 20 hotel. Namun, terdapat 11 kabupaten/kota lainnya yang tidak memiliki hotel bintang sama sekali, seperti Sabang, Simeuleu, dan Bener Meriah.

“Ketimpangan ini mengindikasikan tantangan serius dalam pengembangan infrastruktur perhotelan di sektor pariwisata Aceh,” tulis BI Kantor Perwakilan Provinsi Aceh dalam Laporan Perekonomian Provinsi Aceh Mei 2025, dikutip Line1.News, Minggu, 10 Agustus 2025.

Berdasarkan hal tersebut, menurut BI, peningkatan jumlah hotel berbintang dengan dorongan investasi dari luar Aceh, serta peningkatan kualitas fasilitas dan SDM dapat dilakukan untuk meningkatan peran sektor pariwisata pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh. “Dan turut mendorong angka pertumbuhan perkenomian Aceh”.

Baca juga: Kunjungan Wisman ke Aceh Turun, TPK Hotel Naik

Saran BI tersebut mengingat saat ini sektor pariwisata belum mendominasi perekonomian Aceh secara umum. Hal ini tecermin pada rendahnya share Lapangan Usaha (LU) yang terkait dengan pariwisata terhadap PDRB Aceh.

Pada triuwlan I 2025, LU Jasa Akomodasi, Makanan dan Minuman hanya berkontribusi sebesar 1,65% dari total PDRB, dan LU Transportasi dan Pergudangan berkontribusi sebesar 7,80%.

“Angka tersebut termasuk kecil, jika dibandingkan dengan LU utama di Aceh seperti LU Pertanian dan LU Perdagangan yang berkontribusi masing-masing sebesar 32,53% dan 15,52%,” tulis BI.

Baca juga: BPS: Ekonomi Aceh Tumbuh 4,82 Persen di Triwulan II 2025

Namun, pada triwulan I 2025, sektor pariwisata di Aceh tercatat mengalami peningkatan. Hal ini tercermin pada LU yang berkaitan dengan sektor pariwisata, seperti LU Penyedia Akomodasi, Makan dan Minum (Akmamin) dan LU Transportasi. LU Akmamin tercatat tumbuh sebesar 6,26% (yoy), sedangkan LU Transportasi tercatat tumbuh sebesar 9,76% (yoy).

Selain itu, peningkatan pada sektor pariwisata juga tercermin pada peningkatan indikator lainnya. Di antaranya, jumlah penumpang pesawat pada Bandar Udara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh (tumbuh 78,29% yoy), jumlah wisatawan mancanegara (tumbuh 4,02% yoy), serta pembiayaan sektor perhotelan (tumbuh 164% yoy).

Potensi Pariwisata Aceh

BI turut memaparkan besarnya potensi pariwisata Aceh. Provinsi di ujung barat Sumatera ini dengan luas wilayah 56.839,09 km² dan garis pantai sepanjang 2.667,27, memiliki kekayaan budaya, keindahan alam melimpah, dan sejarah yang panjang.

Sebanyak 23 kabupaten/kota se-Provinsi Aceh yang dengan lebih dari 808 objek wisata telah terdata dan dikembangkan. Dari jumlah itu, 426 objek wisata alam, 268 objek wisata budaya, dan 114 objek minat khusus. Keseluruhan objek wisata tersebut dinilai memiliki nilai jual dan daya tarik tersendiri.

“Berlimpahnya keindahan alam, budaya, dan sejarah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri,” tulis BI.[]

 

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy