Lhokseumawe – Dekan Fakultas Syariah (Fasya) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Ph.D., mengatakan saat ini informasi mengalir deras dan tantangan global semakin kompleks. Itulah sebabnya, pentingnya fatwa yang bijak, yang didasarkan pada ilmu syar’i, hikmah, dan pertimbangan kemaslahatan.
“Serta memerhatikan maqasid syariah dalam menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan,” kata Muhammad Syahrial Razali Ibrahim dalam sambutanya pada Seminar Internasional bertajuk “Ulama, Fatwa, and Peaceful Jihad”, yang digelar Fasya UIN Sultanah Nahrasiyah, Kamis, 31 Juli 2025.
Syahrial Razali Ibrahim menyoroti urgensi peninjauan ulang terhadap konsep jihad fi sabilillah yang harus ditafsirkan ulang secara damai dan progresif.
“Konsep jihad fi sabilillah perlu diperjelas dan ditinjau ulang, terutama di tengah perubahan global yang mengharuskan kita menonjolkan citra ‘jihad damai’, yang didasarkan pada dakwah dengan hikmah dan nasihat baik, membangun peradaban, menyebarkan keadilan, dan mendukung isu kemanusiaan dengan cara yang benar,” ujar Ustaz Syahrial, dikutip Line1.News, Ahad, 3 Agustus 2025, pada laman Fasya UIN Sultanah Nahrasiyah.
Ustaz Syahrial menekankan tiga poin penting yang menjadi fokus dalam seminar tersebut. Pertama, menetapkan kaidah fatwa terkait dengan isu kontemporer dan menjelaskan peran mufti dalam menyeimbangkan teks syar’i dengan realitas masyarakat.
Kedua, menonjolkan konsep jihad damai sebagai sarana perubahan positif melalui pendidikan, reformasi sosial, dan dialog antarbudaya. Ketiga, dalam menghadapi tantangan penyelewengan atas nama agama demi untuk membenarkan kekerasan atau ekstremisme, diperlukan visi moderat yang mencerminkan toleransi Islam.
Dua narasumber utama lainnya yang tampil dalam seminar berlangsung secara virtual itu, Prof. Dr. Mhd. Syahnan, Guru Besar Filsafat Hukum Islam dari UIN Sumatera Utara, dan Prof. Ronald A. Lukens-Bull, Ph.D., Guru Besar Antropologi dan Studi Keagamaan di University of North Florida, Amerika Serikat.
Relasi Fatwa dan Jihad Damai
Profesor Mhd. Syahnan mengulas secara mendalam tentang otoritas keagamaan dan kepemimpinan moral ulama. Dia menyebut ulama memiliki peran strategis sebagai penjaga ilmu keislaman, pemberi panduan hukum melalui fatwa, serta penggerak dakwah yang mengedepankan jihad damai sebagai upaya non-kekerasan dalam membangun masyarakat.
Syahnan mencontohkan praktik ulama di berbagai negara, mulai dari Al-Azhar di Mesir, Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga peran ulama di Aceh melalui Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU).
Syahnan menegaskan bahwa fatwa bukan sekadar produk hukum, tetapi juga sarana membentuk kesadaran etis umat. Dia mengapresiasi berbagai gerakan keagamaan yang mengusung kampanye seperti “Fatwa Tanpa Kekerasan” untuk melawan radikalisme dan ekstremisme.
Menurut Syahnan, jihad damai menjadi relevan di era modern karena mampu menjaga keharmonisan sosial dan memperkuat persatuan bangsa.
Tentang Syahnan
Syahnan memiliki rekam jejak panjang di dunia keilmuan. Dia menempuh pendidikan tinggi di berbagai universitas bergengsi, termasuk SOAS University of London, McGill University Kanada, dan meraih gelar doktor dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Keahliannya meliputi filsafat hukum Islam, hukum Islam kontemporer, ekonomi syariah, hingga perbandingan hukum.
Selain aktif mengajar dan meneliti, Syahnan pernah menjabat Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sumatera Utara, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu, serta memimpin dan mengelola berbagai jurnal ilmiah bereputasi. Karya-karyanya tentang ulama, fatwa, dan moderasi beragama telah dipublikasikan di jurnal internasional terindeks Scopus.
Kontribusi Ilmiah
Fasya UIN Sultanah Nahrasiyah berharap dengan terselenggaranya seminar ini dapat memberikan kontribusi ilmiah dalam merespons dinamika keislaman global dan meneguhkan peran ulama dalam menebarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Seminar melibatkan sivitas akademika lintas negara ini juga diharapkan mampu memperkuat kajian keislaman yang moderat, ilmiah, dan aplikatif bagi masyarakat global.
Peran Ulama dalam Pendidikan Islam
Sehari sebelumnya, 30 Juli 2025, Profesor Ronald A. Lukens-Bull juga tampil sebagai narasumber dalam Seminar International bertajuk “Ulama, Islamic Law and Education in Indonesia”. Seminar ini hasil kolaborasi Fasya UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe dengan Lembaga Kajian Strategis Al Washliyah (LKSA), Majelis Pendidikan PB Al Washliyah, Universitas Al Washliyah (UNIVA) Labuhanbatu.
Ronald memaparkan perspektif antropologis mengenai peran ulama dalam pendidikan Islam di Indonesia. Dia menegaskan bahwa ulama, khususnya para kyai di pesantren, memiliki legitimasi sosial dan spiritual yang kuat, memainkan peran ganda sebagai pendidik dan pemimpin moral masyarakat.
Ronald menyoroti dinamika pesantren yang mampu merespons modernitas dan globalisasi tanpa kehilangan akar tradisionalnya, serta kemampuannya mendorong toleransi dan meredam radikalisme melalui budaya sufistik dan pendidikan plural.
Tentang Ronald
Ronald A. Lukens-Bull merupakan pakar terkemuka dalam bidang antropologi dan studi keagamaan dari University of North Florida. Dia telah mengabdikan karier akademiknya untuk memahami dinamika Islam, khususnya di Asia Tenggara, dengan penekanan khusus pada Indonesia.
Lulusan Ph.D. bidang Antropologi Sosial-Budaya dari Arizona State University ini memiliki rekam jejak panjang dalam penelitian, pengajaran, dan publikasi ilmiah terkait pendidikan Islam, gerakan keagamaan, pesantren, dan isu-isu sosial keislaman.
Ronald juga aktif membimbing mahasiswa dalam berbagai proyek riset, termasuk study abroad ke Asia Tenggara, Maroko, hingga Spanyol.
Dia dua kali menjadi penerima beasiswa Fulbright sebagai peneliti senior di UIN Yogyakarta (2018–2019) dan IAIN Sumatera Utara (2008–2009), serta pernah menjadi Fulbright Senior Specialist di Thailand (2005). Penelitiannya banyak mengeksplorasi pendidikan tinggi Islam, pesantren, pluralisme, dan radikalisme agama, yang menghasilkan sejumlah karya monumental.
Di antara bukunya yang berpengaruh adalah Islamic Higher Education in Indonesia: Continuity and Conflict (Palgrave, 2013), A Peaceful Jihad (Palgrave, 2005), serta Islam, Pendidikan, dan Indonesia: Pengamatan Selama Tiga Puluh Tahun (UIN SUKA Press, 2024).
Karya-karya Ronald tersebar di berbagai jurnal internasional bereputasi dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sebagai Editor-in-Chief jurnal Contemporary Islam sejak 2016, dia juga terlibat aktif dalam editorial beberapa jurnal seperti Journal of Indonesian Islam dan International Journal of Pesantren Studies.
Ronald telah me-review puluhan manuskrip buku dan artikel ilmiah untuk penerbit terkemuka seperti Oxford University Press, Routledge, Brill, hingga jurnal-jurnal antropologi dan pendidikan Islam.
Konsistensinya dalam mengembangkan riset dan pengajaran diwujudkan dalam kegiatan mentoring riset sarjana, pengembangan program studi luar negeri, hingga pelatihan publikasi ilmiah bertaraf internasional di berbagai perguruan tinggi Indonesia. Selain itu, ia aktif menjadi pelatih akademik dan penulis lepas sejak 2018.
Sebagai akademisi lintas batas, Ronald telah memberikan sumbangsih besar terhadap pemahaman Islam Indonesia dalam konteks global. Dengan perpaduan antara pendekatan antropologis dan kepekaan budaya lokal, dia menampilkan wajah Islam Indonesia yang moderat, plural, dan dinamis ke panggung akademik internasional.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy