Jakarta – Innalillahiwainnailaihi Rajiun, Ketua Dewan Pers periode 2000-2003, Atmakusumah Astraatmadja yang akrab disapa Pak Atma, meninggal dunia, pada Kamis, 2 Januari 2025.
“Turut berduka cita atas berpulangnya Atmakusumah Astraatmadja, Ketua Dewan Pers periode 2000-2003,” bunyi unggahan di akun Instagram Dewan Pers.
“Keluarga besar Dewan Pers mendoakan almarhum agar diterima di tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.”
Pak Atma meninggal dunia dalam usia 85 tahun. Guru para wartawan ini meninggal dunia pada pukul 13.05 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana, Jakarta.
Tokoh pers kelahiran 20 Oktober 1938 ini sebelumnya menjalani perawatan di Unit Perawatan Intensif di rumah sakit tersebut.
“Ayah sempat dirawat di ICU RSCM Kencana lantai 3 karena gagal ginjal. Mohon doa bagi ayah, semoga amal dan perbuatan selama hidupnya dikenang dan bermanfaat bagi semua yang ditinggalkan,” ujar putra kedua Atmakusumah, Rama Ardana Astraatmadja, dikutip Antara, Kamis.
Rama juga menyampaikan bahwa keluarga berterima kasih kepada Tim Tenaga Kesehatan RSCM. Tim dokter dan paramedis RSCM sempat memberikan perawatan terhadap Atmakusumah menggunakan alat terapi untuk melanjutkan fungsi ginjal (continues renal replacement theraphy/CRRT).
Sekilas Profil Pak Atma
Atmakusumah Atmaja merupakan Ketua Dewan Pers 2000—2003. Dewan Pers periode ini disebut sebagai Dewan Pers independen hasil Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dari Gerakan Reformasi.
Sebutan independen tersebut karena Dewan Pers pertama kalinya diketuai tokoh masyarakat. Sebelumnya, berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers (UU Pokok Pers) Dewan Pers notabene diketuai Menteri Penerangan Republik Indonesia.
Atmakusumah Astraatmadja menjadi saksi dan pelaku sejarah perjalanan pers Indonesia dari era pemerintahan Presiden Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Joko Widodo.
Pak Atma memulai karier jurnalistik pada usia 20 tahunan di Harian Indonesia Raya medio 1950-an hingga tutup pada 1958. Atmakusumah bergabung kembali menjadi redaktur pelaksana saat Indonesia Raya terbit kembali pada 1968 hingga dibredel Pemerintah Orde Baru pada 1974 terkait pemberitaan Malapetaka 15 Januari (Malari).
Ia sempat berkarier menjadi koresponden Pers Biro Indonesia (Press Indonesia Agency/PIA) 1960 yang melebur ke Kantor Berita Antara pada 1962 saat berkelana di Benua Eropa. Saat kembali ke Jakarta, Pak Atma menjadi Ketua Serikat Pekerja Antara pada 1966 hingga 1968.
Pak Atma juga pernah menjadi komentator isu dalam negeri dan luar negeri di RRI, Radio Australia (ABC) di Melbourne, Radio Jerman (Deutsche Welle), serta asisten pers dan spesialis di Layanan Informasi Amerika Serikat (United States Information Service/USIS, 1974—1992).
Semangat Atmakusumah dalam pendidikan jurnalistik dan hubungan masyarakat kian tercurahkan saat mengajar hingga menjadi Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dokter Soetomo (LPDS) sejak 1993 hingga 2002.
Hingga akhir hayatnya, ia masih tercatat mengasuh kanal “Atma Menjawab” seputar kasus jurnalistik di laman lpds.or.id dikelola lembaga yang didirikan Dewan Pers pada 23 Juli 1988 itu.
Ia juga penulis kolom di sejumlah media massa cetak nasional dan internasional. Selain menulis, Pak Atma juga menyunting buku, termasuk Tahta untuk Rakyat yang mengisahkan Sultan Hamengku Buwono IX. Melalui LPDS, ia pun menulis dan menyunting belasan buku mengenai dunia jurnalistik dan hubungan masyarakat.
Atmakusumah meraih Anugerah Ramon Magsaysay pada 31 Agustus 2000 untuk kategori Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif dari The Ramon Magsaysay Award Foundation di Manila, Filipina.
Ia juga menerima Kartu Pers Nomor Satu (Press Card Number One/PCNO) dari komunitas Hari Pers Nasional (HPN) 2010, Medali Emas Kemerdekaan Pers HPN 2011, dan Anugerah Pengabdian Sepanjang Hayat (Lifetime Achievement) Dewan Pers 2023.
Dalam berbagai kesempatan, seperti di kelas jurnalistik di LPDS, Pak Atma selalu mengingatkan jurnalis tidak hanya bertanggung jawab kepada media atau atasan mereka, tetapi juga kepada publik dan hati nurani mereka sendiri.
Pak Atma, lahir di Labuan, Banten, dari keluarga Joenoes Astraatmadja yang pernah menjadi asisten wedana, wedana, dan pejabat Bupati Bekasi.
Pasangan suami istri Atmakusumah-Sri Rumiati dikarunai tiga putra, Kresnahutama Astraatmadja alias Tamtam (produser film dan pendiri Pikser Indonesia Production di Jakarta), Rama Ardana Astraatmadja (produser film dan penyunting buku di Yogayakarta), dan Tri Laksmana Astraatmadja (doktor astrofisika partikel di Baltimore, AS).
Selamat jalan, Pak Atma! Terima kasih yang begitu dalam atas segala pengabdianmu terhadap kebebasan pers Indonesia. Jejak kontribusimu akan terus menjadi inspirasi bagi dunia pers.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy