Banda Aceh – Sekda Aceh M Nasir mengonfirmasi rencana pembukaan rute internasional Krueng Geukueh-Penang. Dia menyebutkan, Kapal Aceh Hebat 1 akan dioperasikan melayani pelayaran lintas negara tersebut mulai Januari 2026.
“Target kita jelas, kapal Ro-Ro lintasan Krueng Geukueh–Penang harus mulai berlayar pada 2026. Jika Pema (PT Pembangunan Aceh) siap bergerak lebih dulu [mengirim barang di akhir tahun 2025 ini], pemerintah akan memberi izin dan dukungan penuh. Ini bukan semata bisnis, tapi komitmen memenuhi janji gubernur kepada masyarakat,” ujarnya saat rapat pembahasan rencana operasional, Kamis, 13 November 2025.
Kapal Motor Penumpang (KMP) Aceh Hebat 1 memiliki bobot 2.441 gross tonnage (GT), panjang 70 meter, dan lebar 15 meter. Kapal ini disebut mampu mengangkut 250 penumpang dan 33 unit kendaraan campuran.
Dipesan sejak 2019, kapal tersebut dibuat di galangan PT Multi Ocean Shipyard, Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, dan melakukan pelayaran perdana pada 9 Maret 2021.
Baca juga: Kapal Aceh Hebat 1 Bakal Layani Rute Krueng Geukueh-Penang
Sebelumnya, pada Selasa, 2 Februari 2021, kapal tersebut menjalani uji rute dan sandar dari Pelabuhan Calang (Aceh Jaya) ke Pelabuhan Kolok Sinabang (Simeulue), membelah Samudera Hindia sejauh 175 mil laut dengan waktu tempuh 12 jam.
Menurut Kepala Dinas Perhubungan Aceh Faisal, jarak pelayaran Krueng Geukueh–Penang mencapai 205 mil laut.
Lantas, berapa lama waktu yang dibutuhkan Kapal Aceh Hebat 1 untuk memotong Selat Malaka demi “membuka jalur ekonomi baru antara Aceh dan Malaysia”?
Perkiraan Line1.News, dalam kondisi laut normal, Aceh Hebat 1 membutuhkan sekira 14 jam untuk tiba di Butterworth, Seberang Perai, tempat Terminal Sultan Abdul Halim yang dikelola Penang Port Sdn Bhd berada.
Apabila cuaca buruk memperlambat laju kapal, waktu tempuhnya bisa mencapai hingga dua kali lipat.
Baca juga: Jalur Pelayaran Krueng Geukueh–Penang: Perkiraan Jarak, Durasi, dan Skema Penyeberangan
Faisal mengatakan, Agustus lalu Pemerintah Aceh telah mengirimkan surat kepada Presiden Prabowo untuk meminta dukungan pembukaan lintasan tersebut.
Menurut dia, pembahasan rute internasional itu kini juga masuk dalam forum Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT).
Penang Port, tambah Faisal, juga telah menyatakan dukungan penuh terhadap rencana itu dan siap menyediakan ruang sandar bagi kapal dari Aceh. Namun, untuk kendaraan darat yang hendak masuk ke wilayah Malaysia, diperlukan kesepakatan antarnegara.
“Meski ada pembatasan untuk kendaraan, pelayaran ini tetap bisa dijalankan untuk penumpang dan barang,” jelas Faisal.
Terminal Sultan Abdul Halim berada di daratan utama Malaysia, sehingga penumpang maupun barang dari Aceh bisa langsung tiba tanpa perlu menyeberang lagi.
Adapun di seberang laut sejauh tiga kilometer terdapat Dermaga Raja Tun Uda Ferry Terminal di George Town, Pulau Pinang. Dermaga ini terhubung ke Butterworth melalui layanan feri penumpang dan dua jembatan besar: Jembatan Pulau Pinang dan Jembatan Sultan Abdul Halim Muadzam Shah.
Melansir OnPenang.com, kendaraan roda empat dan lebih kini tidak lagi diizinkan menaiki feri, sehingga mobil dari George Town ke Butterworth maupun sebaliknya harus melintas lewat jembatan.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy