Khutbah Jumat: Memetik Ibrah dari Pergantian Siang dan Malam

Matahari terbit dan galaksi Bima Sakti
Matahari terbit di samping langit malam yang dihiasi galaksi Bima Sakti. Foto: Unsplash @felixrottmann

Pergantian siang dan malam merupakan tanda kebesaran Allah yang mengandung banyak pelajaran bagi orang berakal. Allah memerintahkan kita untuk merenungi ciptaan-Nya dan mengambil ibrah (hikmah) darinya.

Dengan memahami hikmahnya, kita dapat menemukan keseimbangan dalam menjalani kehidupan serta tumbuh menjadi pribadi yang penuh rasa syukur, sabar, dan tunduk pada kebesaran Allah.

Fenomena pergantian siang dan malam terjadi setiap hari tanpa pernah berhenti. Hal ini menjadi bukti nyata betapa Maha Kuasanya Allah dalam mengatur kehidupan ini.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Proses pergantian malam dan siang ini telah disebutkan oleh Allah dalam surat Yasin ayat 37-40: “Suatu tanda juga (atas kekuasaan Allah) bagi mereka adalah malam. Kami pisahkan siang dari (malam) itu. Maka, seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan. Dan matahari yang berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. (Begitu juga) bulan, Kami tetapkan bagi(-nya) tempat-tempat peredaran sehingga kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.”

Peredaran Matahari dan Bulan yang mengakibatkan siang dan malam ini sudah pasti memiliki makna mendalam yang patut kita renungkan. Allah pun kembali telah mengingatkan dalam surat Ali Imran ayat 190: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.”

Pergantian siang dan malam bukan hanya sebagai rutinitas alamiah semata. Pergantian tersebut bisa menjadi sarana untuk mempertebal iman, meningkatkan rasa syukur, dan menyadari betapa agungnya kekuasaan Allah dalam setiap detik kehidupan kita.

Pada umumnya, di masyarakat yang bergerak di bidang pertanian, perdagangan, dan sejenisnya, siang dimanfaatkan untuk bekerja dan beraktivitas mencari rezeki Allah. Sedangkan malam hari, sering digunakan untuk beristirahat dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dari pergantian malam dan siang kita juga belajar tentang kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya yang teratur, seimbang, dan sempurna. Dari siang kita belajar arti kesungguhan dan tanggung jawab.

Teriknya matahari mengajarkan keteguhan, bahwa hasil tidak akan datang tanpa kerja keras. Dunia di siang hari penuh dengan hiruk pikuk manusia yang berusaha menjemput rezeki, menuntut ilmu, dan berbuat kebaikan.

Allah berfirman: “Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’: 11).

Sementara malam memberi kita pelajaran tentang ketenangan dan introspeksi. Dalam kesunyian malam, kita diajak untuk kembali kepada fitrah dengan merenung, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Allah. Di saat itulah banyak rahasia kehidupan bisa terungkap melalui ibadah.

Rasulullah sendiri di banyak riwayat disebutkan menjadikan malam sebagai waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan salat dan zikir. Hal ini karena malam memiliki keistimewaan sendiri.

Nabi SAW bersabda: “Tuhan kita, Allah ta’ala ‘turun’ setiap malam ke langit dunia di saat sepertiga malam akhir. Kemudian Allah berfirman, ‘Siapapun berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapapun meminta kepada-Ku, akan Aku kasih. Siapapun meminta ampun kepada-Ku, akan Aku beri ampunan.” (HR Muttafaq ‘alaih).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pergantian siang dan malam mengingatkan kita akan keterbatasan waktu. Tidak ada yang kekal, setiap terang pasti berganti gelap, setiap kehidupan pasti akan berakhir. Maka dari itu, kita hendaknya bijak menggunakan waktu. Siang tidak boleh disia-siakan dengan kemalasan, dan malam tidak boleh dilewati dengan kelalaian.

Jika kita mampu memetik hikmah dari pergantian siang dan malam, maka insya Allah kita akan menemukan harmoni antara kerja keras dan ketenangan batin. Kita akan belajar bahwa kehidupan yang seimbang adalah kehidupan yang selaras dengan sunnatullah, bekerja di siang hari dengan sungguh-sungguh, dan beristirahat di malam hari dengan penuh syukur dan zikir.

Semoga kita senantiasa bisa menjadi insan yang mampu mengambil pelajaran penting dari kekuasaan Allah sebagai modal dalam menjalani kehidupan ini. Semoga Allah senantiasa melindungi kita baik di siang hari, maupun di malam hari. Amin.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy