Jakarta – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MU) Bidang Fatwa, Profesor K.H. Asrorun Niam Sholeh menegaskan pentingnya aktualisasi nyata sebagai langkah kesyukuran dari suatu kemerdekaan. Oleh karena itu, Kian Niam mengimbau agar umat justru tidak jatuh pada kufur kemerdekaan.
“Hari ini kita hidup dalam situasi negera yang merdeka secara fisik. Tentu harus kita syukuri pada saat kita damai, tenang, bisa beribadah dengan leluasa. Maka sebagai bagian dari langkah kesyukuran, kita melaksanakan dengan baik,” kata Kiai Niam, dilansir dari MUI Online, Selasa, 19 Agustus 2025.
Kiai Niam menyebut langkah kesyukuran ini sebagai bentuk refleksi kemerdekaan. Mengingat pada suatu fase di mana generasi bangsa dahulu justru tidak leluasa, bahkan sekadar untuk melaksanakan ibadah.
“Maka, jangan sampai generasi hari ini terjebak pada kubangan kekufuran yang tidak dapat memanfaatkan situasi kemerdekaan untuk perjuangan dan kebaikan”.
Kemampuan dan situasi kemerdekaan hari ini adalah anugerah sekaligus tanggung jawab. Langkah kesyukuran menjadi refleksi penting untuk kemerdekaan. Bahkan, Allah Swt menegaskan bagaimana kekufuran itu dapat mendatangkan siksa yang pedih.
“Tetapi dengan situasi hari ini yang damai, bebas, dan tidak ada ancaman, kalau kita masih tetap tidak mau melaksanakan ketaatan, maka kita bagian dari orang yang kufur,” ucap Kiai Niam.
Bahkan, kata Kiai Niam, di belahan negara lain saat ini terdapat banyak sekali umat yang ingin menjalankan ibadah dan menimba ilmu dengan sungguh-sungguh. Namun, situasinya justru masih terjebak dengan penjajahan.
“Ada orang yang ingin ibadah, tapi tidak memiliki kekuatan karena dia dipaksa untuk tidak melaksanakan ibadah. Ada yang ingin sekolah, tapi sekolahnya dihancurkan dengan bom,” ungkapnya.
Selain itu, sebagai langkah kesyukuran, dalam pidato bertajuk “Syukur Kemerdekaan dengan Membangun Jiwa Kepahlawanan” di Masjid Darussalam Kota Wisata, Bogor, Kiai Niam mendorong umat agar meneladani, berkontribusi, dan membangun kepahlawanan untuk generasi mendatang.
Pertama, umat harus meneladani aksi heroik pejuang terdahulu yang telah membangun kemerdekaan. Jasa mereka harus dikenang dengan baik. Tugas umat adalah mendoakan kebaikan untuk mereka.
Kedua, membangun kontribusi positif dengan kemampuan masing-masing sesuai profesi. Menurut Kiai Niam, kesempatan dan kemampuan umat saat ini harus dikontribusikan secara positif untuk membuat kebaikan-kebaikan.
“Kemudian kita meneladani, kita ejawantahkan dalam aktivitas kita. Apa yang bisa kita kontribusikan di dalam profesi kita. Itu adalah kontribui kita dalan mengisi kemerdekaan,” ucap Kiai Niam.
Ketiga, menanam kepahlawanan untuk generasi mendatang. Kemerdekaan hari ini adalah jasa kepahlawanan pendahulu. Sedangkan nasib generasi berikutnya juga ditentukan bagaimana jiwa kepahlawanan hari ini.
Menurut Kiai Niam, kondisi bangsa pada era mendatang ditentukan bagaimana kepahlawanan hari ini dalam merawat kemerdekaan. Jangan sampai, generasi yang terjebak pada kubangan kekufuran justru mendatangkan petaka pada generasi mendatang.
“Kita bisa hari ini karena jasa dari pada founding fathers, syuhada sebelumnya. Nasib generasi berikutnya tergantung pada apa yang kita tanam hari ini,” ucap Kiai Niam.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy