Gaza – Sayap militer Hamas, Brigade Izz al-Din al-Qassam, mengumumkan kematian kepala stafnya yang telah lama menjabat, Mohammed Deif.
Dilansir dari Middle East Eye, sebuah gambar dari Brigade Al Qassam yang mengumumkan kematian Mohammed Deif dibagikan ke publik melalui Telegram pada Kamis, 30 Januari 2025.
Selama beberapa dekade, Deif selalu lolos dari penangkapan Israel. Ia bergerak seperti hantu sehingga dijuluki “Sang Tamu” atau “Deif” dalam bahasa Arab.
Israel menyebutkan telah membunuh pria 59 tahun itu dalam serangan udara di al-Mawasi, Gaza selatan, pada Juli 2024. Namun Hamas belum mengonfirmasi kebenaran pernyataan Israel ini.
Di sisi lain, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapannya pada November 2024, atas tuduhan kejahatan perang dan kemanusiaan. Surat itu dikeluarkan bersamaan dengan surat perintah penangkapan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant.
Baca juga: Detik-detik Pembebasan 110 Warga Palestina dari Penjara Israel
Israel membunuh dua pemimpin Hamas lainnya, Ismail Haniyeh dan Yahya Sinwar, sebelum surat perintah penangkapan mereka dapat direalisasikan.
Deif yang bernama asli Mohammed Diab Ibrahim al-Masri, diyakini banyak pihak sebagai salah satu perencana serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 1.139 orang, dan 250 lainnya ditawan kembali ke Gaza.
Hanya beberapa jam setelah serangan fajar ke Israel hari itu, Deif menyampaikan pesan audio langka tentang dimulainya operasi yang disebut “Banjir al-Aqsa” dan menyerukan warga Palestina di Israel “mengusir penjajah dan merobohkan tembok”.
Meskipun sedikit yang diketahui tentang hidupnya, Deif memiliki seorang istri dan dua anak kecil hingga 2014, ketika mereka semua meninggal dunia dalam serangan udara Israel.
Deif telah dicari Israel sejak awal 1990-an setelah dia melakukan serangan terhadap tentara dan warga sipil Israel.

Pada 2002, ia memangku jabatan kepala staf Brigade Qassam dan diyakini sebagai pendiri “Unit Bayangan” yang menjaga dan menyembunyikan tawanan Israel. Anggota unit ini berpakaian hitam. Mereka juga terlihat mengawal tawanan Israel yang dibebaskan untuk diserahkan kepada Komite Palang Merah Internasional bulan ini.
Pada 2015, AS memasukkan Deif ke dalam daftar Teroris Global yang Ditunjuk Khusus. Lalu pada Desember 2023, Israel menjatuhkan brosur melalui udara di Gaza, menawarkan imbalan USD 100.000 bagi siapa pun yang memiliki informasi tentang keberadaan Deif.
Meskipun lolos dari penangkapan Israel, Deif menderita luka-luka yang mengubah hidupnya. Upaya pembunuhan berulang kali mempengaruhi pergerakan dan penglihatannya, menurut laporan Israel. Hamas tidak pernah mengonfirmasi rincian tersebut.
Dalam pernyataan yang dibagikan di Telegram oleh Brigade Qassam, Deif digambarkan sebagai “pemimpin besar” yang merupakan “contoh nyata keberanian”. “Kami mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin Abu Khaled,” kata Brigade tersebut merujuk pada nama panggilan Deif di antara warga Palestina.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy