Gajah Liar Kembali Rusak Kebun Warga Keumala, TOMPi Minta BKSDA Bangun CRU di Cot Kreh

Gajah Liar di Kebun Warga Keumala
Penampakan gajah liar di kebun warga Keumala. Foto: Kiriman Jamaludddlin, Warga Cot Kreh, Keumala via TOMPi

Sigli – Sekjen Tokoh Masyarakat Pidie (TOMPi) Muhammad Nur meminta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) membangun Conservation Response Unit (CRU) gajah di Gampong Cot Kreh, Keumala, Pidie.

Permintaan ini mengingat sepekan terakhir sekelompok kawanan gajah liar kembali memasuki dan merusak kebun-kebun warga di beberapa desa di Kecamatan Keumala.

Kondisi tersebut dinilai Nur meresahkan warga. Agar insiden serupa tak terulang lagi, kata dia, keberadaan Pos CRU Gajah menjadi sangat penting.

“Pos ini sangat penting dibangun untuk menghalau gajah-gajah liar yang turun ke kebun-kebun warga. BKSDA perlu melakukan migitasi dan melakukan tindakan pencegahan sebelum gajah-gajah ini kembali turun merusak kebun-kebun masyarakat secara masif,” ujarnya dalam keterangan tertulis kepada Line1.News, Selasa, 20 Januari 2026.

Baca juga: TOMPi Minta Dua Mahasiswa Unigha yang Dilaporkan Staf Akademik Dibebaskan dari Tuntutan Pidana

Di Cot Kreh, kata Nur, kawanan gajah liar merusak kebun langsat milik Lukman Abdullah. Lukman pagi itu pergi ke kebun bersama anaknya untuk memetik langsat. Sesampainya di kebun, mereka menemukan pohon-pohon langsat telah dirusak dan dipatahkan gajah dalam semalam.

Pengakuan Lukman kepada Nur, kebun langsat dan duku miliknya sudah dirawat selama 20 tahun lebih. Baru kali ini gajah-gajah tersebut memakan buah langsat. Tahun-tahun sebelumnya pinang, kakao, dan durian milik Lukman juga dirusak kawanan gajah liar.

“Petani sangat rugi selama ini, perlu penanganan serius dari pemerintah, petani juga butuh ruang untuk hidup di negara ini,” ujar Nur.

Sementara di Gampong Glee Barat, tanaman langsat dan duku milik petani turut dirusak gajah. Lalu di Gampong Jijiem, gajah liar merusak kebun duku milik M Gade seluas dua hektare.

Kebun warga yang dirusak gajah
Pohon langsat milik petani Keumala tumbang dirusak kawanan gajah liar. Foto: Tangkapan Layar

“Kebun duku milik M Gade ini sudah mulai masuk masa panen bulan Januari ini. Kawanan gajah mengobrak-abrik pohon-pohon duku tersebut sampai patah, sehingga kebun tidak bisa difungsikan lagi. Kami melihat petani sangat kecewa dan putus asa karena usaha belasan tahun yang lalu ini menjadi sia-sia, dengan modal dan biaya yang dikeluarkannya sangat besar,” ujarnya.

Menurut dia, satwa dilindungi itu tidak hanya memakan buah duku saja, tetapi merusak secara masif batang pohon tanaman tersebut, sehingga petani betul- betul terpukul mentalnya.

Dari beberapa kejadian itu, Nur meminta BKSDA Aceh lebih bertanggung jawab dan serius menangani persoalan konflik satwa dengan manusia di Keumala. Bahkan, kata dia, akibat minimnya penanganan BKSDA, keresahan serupa juga dirasakan warga Riweuk Sakti dan Lala selama 10 tahun terakhir.

Baca juga: TOMPi Minta Kejari Selidiki Dana Zakat dan Infak di Baitul Mal Pidie

“BKSDA selama ini seperti menutup mata dan membiarkan konflik ini terus terjadi sampai masyarakat betul-betul dibuat tidak berdaya lagi. Ada apa dan mengapa ini bisa terjadi secara terus menerus?” tanyanya.

Hingga hari ini, kata Muhammad Nur, BKSDA Aceh belum menurunkan timnya ke lapangan untuk menghalau dan menggiring gajah-gajah liar tersebut kembali ke habitatnya.

“Padahal kita sudah memberikan informasi ini sejak tiga hari yang lalu.”[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy