Ada Cape Malay di Afrika Selatan, Diaspora Keturunan Ulama Pejuang Indonesia

Bo-Kaap, Kawasan Melayu di Cape Town. Foto: Wikipedia
Bo-Kaap, Kawasan Melayu di Cape Town. Foto: Wikipedia

Cape Town – Di Afrika Selatan ada kelompok diaspora Indonesia yang bernama Cape Malay. Jumlahnya lebih dari 330 ribu orang. Malay adalah sebutan untuk suku Melayu.

Menurut Konsul Jendral RI Cape Town, Tudiono, Cape Malay merupakan keturunan para ulama pejuang Indonesia yang diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda karena perjuangannya menentang penjajahan.

Di antaranya adalah Syekh Yusuf Al Macassari yang diasingkan dan tiba di Cape of Good Hope pada Juni 1693 dan Tuan Guru dari Tidore yang diasingkan pada 1780.

“Syekh Yusuf dikenal sebagai penyebar Islam pertama di Afsel (Afrika Selatan) dan tokoh yang menginspirasi perlawanan bangsa Afsel terhadap penjajahan. Beliau dinobatkan sebagai pahlawan nasional Afsel oleh pemerintah Afsel dan pahlawan nasional Indonesia oleh pemerintah Indonesia,” ujar Tudiono dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa, 2 Juli 2024.

Sementara Tuan Guru dikenal sebagai pendiri Masjid Auwal yang merupakan masjid pertama di Afsel. Selain itu, ia juga dikenal sebagai penulis Mushaf Al-Qur’an yang ditulis berdasarkan ingatannya saat menjalani pembuangan di Pulau Roben–tempat dipenjaranya penentang apartheid, Nelson Mandela, selama 27 tahun. Mushaf yang ditulis Tuan Guru setelah dicek oleh para ahli hampir sempurna.

Setelah berada di Afsel, khususnya Cape Town, kata Tudiono, banyak diaspora Cape Malay yang merindukan Nusantara sebagai tanah asal leluhur mereka.

KJRI Cape Town Garap Film Diplomat Berlatar Kisah Nyata Tsunami Aceh

“Bahkan generasi kelima keturunan Tuan Guru yaitu Syekh Muttaqin Rakiep atas upaya luar biasa ayahnya, telah berhasil menemukan saudara-saudaranya di Tidore dan saat ini hubungan sebagai saudara telah kembali tersambung erat,” ungkapnya.

Tuan Guru sendiri merupakan Sultan Tidore dan keturunan dari salah satu Wali Songo yaitu Syarif Hidayatullah. Puteri Syekh Muttaqin Rakiep saat ini berada di Jakarta dan sedang studi di Universitas Syarif Hidayatullah.

“Oleh karena itu, bagi orang-orang Indonesia yang berkunjung ke Cape Town mereka akan dapat merasakan kehangatan cinta saudaranya yakni Cape Malay.”

Konsulat jenderal Republik Indonesia (KJRI) Cape Town sendiri pada awal November 2024 akan menggelar Festival Film Indonesia. Festival ini, kata Tudiono, akan menjadi jembatan penghubung kebudayaan dan kerjasama seni budaya, khususnya perfilman antara masyarakat Indonesia dengan diaspora Cape Malay.

Saat ini, KJRI Cape Town juga sedang film diplomat berlatar kisah nyata bencana tsunami Aceh. Film ini akan diputar di festival tersebut.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy