Banda Aceh – Peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-76 Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) di Aceh tahun ini menjadi panggilan aksi nyata. Bukan sekadar seremonial, momentum ini dijadikan ruang konsolidasi untuk memperkuat peran perempuan dalam pemulihan sosial dan ekonomi, terutama bagi masyarakat yang masih berjuang di tengah sisa dampak banjir.
Mengusung semangat “Berdaya, Berdampak, Mendunia”, Fatayat NU Aceh menegaskan komitmennya untuk melahirkan kader yang tangguh dan adaptif. Hal ini dinilai krusial mengingat kondisi sebagian wilayah Aceh yang hingga kini masih dalam masa pemulihan pascabencana.
Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat NU Aceh, Ida Friatna, menyampaikan bahwa refleksi organisasi tahun ini harus berpijak pada realitas lapangan. Ia menyoroti kondisi kaum ibu yang secara psikologis dan ekonomi paling terdampak akibat bencana banjir.
“Momentum ini adalah pengingat bahwa Fatayat NU harus hadir dengan program yang berdampak nyata. Di lapangan, kita melihat masih banyak kaum ibu yang belum pulih sepenuhnya, bahkan masih ada yang harus bertahan di hunian sementara (huntara),” ujar Ida Friatna, Jumat, 24 April 2026, dilansir NU Online pada Sabtu (25/4).
Menurut Ida, kader Fatayat di tingkat gampong (desa) harus menjadi ujung tombak pendampingan. Fokus utama organisasi saat ini adalah memastikan perempuan korban bencana mendapatkan penguatan, mulai dari literasi digital untuk mempercepat koordinasi bantuan hingga pendampingan ekonomi keluarga.
“Fatayat NU tidak boleh hanya hadir sebagai simbol. Kader harus mampu menjawab persoalan riil, mulai dari pendidikan anak di pengungsian hingga pemulihan ekonomi mandiri bagi kaum perempuan,” tegasnya.
Puncak Harlah di Dayah Fathani Darussalam
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan, PW Fatayat NU Aceh akan menggelar kegiatan Saweu Dayah yang dipadukan dengan Madrasah Fatayat. Agenda ini direncanakan berlangsung pada 4 Mei 2026 di Dayah Fathani Darussalam.
Kegiatan tersebut akan diasuh langsung oleh Rais Syuriah PWNU Aceh, Teungku H. Nuruzzahri (Waled Nu), dan menjadi momentum puncak refleksi spiritual serta penguatan ideologi kader.
Melalui konsolidasi yang solid, Fatayat NU Aceh optimis dapat menghadirkan perubahan signifikan bagi masyarakat. “Kita ingin Fatayat menjadi gerakan yang hidup dan memberi dampak luas, terutama bagi perempuan yang sedang berjuang bangkit dari dampak bencana,” pungkas Ida.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy