Menendang Kucing hingga Mati: Ancaman Pidana dan Dosa Besar Menurut Islam

Seberapa Berbahaya Gigitan Kucing?
Ilustrasi kucing. Foto: unsplash.com @kotecinho

Seorang pria di Blora, Jawa Tengah, menendang seekor kucing hanya karena merasa terganggu saat berolahraga. Tindakan ini membuat sang kucing mati setelah sempat lemas selama seminggu.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), tindakan pria tersebut masuk ke ranah pidana yang serius.

Penyidik dapat menjerat pelaku dengan Pasal 337:

Ayat (1): Menyakiti atau melukai hewan secara tidak patut diancam penjara hingga 1 tahun.

Ayat (2): Jika tindakan tersebut mengakibatkan hewan sakit lebih dari satu minggu atau mati, maka ancaman pidananya meningkat menjadi penjara paling lama 1 tahun 6 bulan atau denda kategori III (mencapai Rp50 juta).

Lantas, bagaimana anjuran menyayangi hewan dalam Islam?

Sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim menyebutkan seorang perempuan masuk neraka gara-gara seekor kucing yang dia ikat tanpa diberi makan. Jika mengurung saja berujung neraka, lantas bagaimana dengan tindakan menendang hingga meregang nyawa?

Dalam fiqih, kucing dikategorikan sebagai hayawan muhtaram (hewan yang dihormati/ dimuliakan nyawanya). Artinya, syariat memberikan perlindungan terhadap kucing. Menendang kucing, apalagi tanpa sebab, adalah pelanggaran terhadap status kehormatan yang diberikan agama.

Imam Ar-Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, menjelaskan secara eksplisit bahwa haram hukumnya membunuh kucing. Tindakan menendang dengan keras hingga menyebabkan kematian bukan sekadar perilaku kasar, melainkan sudah masuk dalam kategori melakukan hal yang diharamkan secara syariat.

“Adapun hewan yang tidak membahayakan (ghairu al-‘aqur), maka ia adalah makhluk yang terhormat (muhtaram), tidak diperbolehkan membunuhnya menurut pendapat yang kuat (al-mu’tamad). Dan kedudukan yang setara dengan hewan yang tidak membahayakan itu adalah kucing, maka haram hukumnya membunuh kucing tersebut.”

Lebih jauh, Syekh Zakaria al-Anshari dalam Asnal Mathalib Syarh Raudhuth Thalib menyebut bahwa membunuh hewan yang tidak mengganggu (seperti kucing yang tidak menyerang) bisa dikategorikan sebagai dosa besar.

“(Cabang Permasalahan): Menyerupai (setara) hukumnya bahwa membunuh hewan-hewan kecil yang tidak mengganggu termasuk dalam kategori dosa besar. Hal ini didasarkan pada hadis bahwa ‘seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung’.”

Baca juga: Anggapan Menabrak Kucing Membawa Sial dan Tathayyur dalam Islam

Sementara Imam Al-Baghawi dalam At-Tahdzib fil Fiqhis Syafi’i menjelaskan, membunuh kucing hanya ditoleransi jika kucing tersebut sedang melakukan kerusakan seperti memangsa ternak, dan bermaksud mengusirnya.

Pandangan Al-Baghawi itu juga menegaskan bahwa secara hukum Islam, pelaku wajib bertanggung jawab karena membunuh kucing di luar situasi darurat.

“Jika seorang laki-laki melemparkan sesuatu ke arah kucing saat kucing tersebut sedang mengincar merpati atau burung dengan tujuan untuk mengusirnya (daf’an), lalu kucing itu mati, maka ia tidak wajib menanggung ganti rugi (dhaman). Namun, jika dalam kondisi selain itu ia membunuhnya, maka ia wajib menanggung ganti rugi (dhaman).”

Kemudian, Imam asy-Syirazi dalam Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imamisy Syafi’i, mengatakan tindakan memukul atau menendang hewan tanpa hajat sebagai jinayah (tindak kriminal) kepada harta orang lain. Oleh karenanya, pelaku tidak hanya berdosa secara agama, tetapi juga memiliki kewajiban hukum untuk menanggung kerugian.

“Dan jika hewan tersebut mati karena tindakan aniaya, seperti dipukul tanpa adanya keperluan, maka ia (pelaku) wajib menanggung ganti rugi (dhaman). Karena hal itu merupakan tindakan kriminal (jinayah) terhadap harta milik orang lain, sehingga ia wajib menanggung ganti ruginya.”

Maka dari itu, tindakan pria di Blora dilarang dalam agama, bahkan tergolong dosa besar jika ada kesengajaan untuk membunuh. Karena itu, pelaku harus meminta maaf kepada pemilik kucing tersebut, dan secara fikih, pelaku berhak untuk dituntut ganti rugi.

Permasalahan tersebut dapat menjadi pelajaran bagi kita bersama, agar lebih berhati-hati dalam bersikap. Mungkin awalnya masalah ini dianggap sederhana, namun nyatanya berdampak sangat besar, baik secara agama maupun hukum positif. Wallahu a’lam.[]

Muhammad Zainul Millah, Wakil Katib PCNU Blitar

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy