Seluruh Korban Pesawat ATR 42-500 Dievakuasi, 3 Teridentifikasi

Proses evakuasi korban kecelakaan Pesawat ATR
Proses evakuasi korban kecelakaan Pesawat ATR. Foto: Facebook Basarnas Makassar

Jakarta – Sepuluh korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 pada 17 Januari 2026 di kawasan puncak Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, telah ditemukan dan dievakuasi.

Hingga hari ini, Sabtu, 24 Januari 2026, sudah ada tiga korban yang berhasil diidentifikasi. Ketiga korban yaitu Analis Kapal Pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan Deden Maulana, serta dua pramugari, Florencia Lolita dan Esther Aprilita.

“Operasi pencarian dan evakuasi pesawat ATR dinyatakan selesai,” kata Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii saat konferensi pers di Makassar, Jumat, 23 Januari 2025.

Selama proses pencarian dan penyelamatan tujuh hari, kata dia, tim SAR menemukan 10 jenazah (body pack) serta satu bagian tubuh korban (body part). Sebelas paket tersebut sudah diserahkan ke rumah sakit.

Baca juga: Anak Pegawai KKP Bacakan Surah Al-Insyirah di Depan Jenazah Ayahnya Korban Kecelakaan Pesawat ATR

“Dari 11 body pack yang kita temukan itu, body part sebenarnya hanya satu, mudah-mudahan itu sudah teridentifikasi adalah bagian dari korban yang mana,” ujar Syafii dilihat dari siaran langsung Facebook Basarnas Makassar.

Basarnas juga memutuskan tidak mengevakuasi sisa serpihan bangkai pesawat milik Indonesia Air Transport di sekitar lokasi kejadian.

“Tugas kami mencari, menolong, dan mengevakuasi korban jiwa,” kata Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Andi Sultan pada Sabtu, 24 Januari 2026, dilansir Tempo.co.

Selain itu, dia mengatakan sebagian puing pesawat ATR dan black box yang sudah ditemukan cukup untuk dilanjutkan ke proses investigasi. Adapun investigasi penyebab jatuhnya pesawat ATR 42-500 di wilayah Maros itu dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi.

Baca juga: Komisi V DPR Soroti Dugaan Kerusakan Mesin dan Perubahan Rute Pesawat ATR Sebelum Jatuh

Black box pesawat ATR 42-500 ditemukan pada 21 Januari oleh tim gabungan. Alat itu ditemukan dalam kondisi masih menempel pada pecahan bagian ekor pesawat.

Basarnas telah menyerahkan black box milik pesawat ATR 42-500 itu ke KNKT. Kotak hitam yang diterima KNKT berisi FDR dan CVR. FDR merupakan alat yang merekam data penerbangan, sedangkan CVR merekam suara percakapan di ruang kemudi pesawat udara.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan kedua alat itu sudah dibawa ke fasilitas alat perekam penerbangan lembaganya untuk dilakukan pengunduhan dan analisis data. Identifikasi dan analisis terhadap black box dilakukan guna mengetahui kronologi hilangnya kontak pesawat.

Menurut dia, rekaman pada black box itu nantinya akan melengkapi beberapa temuan lain. KNKT telah mengirimkan dua penyidik untuk mengumpulkan data dan informasi dari penyelenggara navigasi penerbangan, operator pesawat udara, serta para pendaki yang berada di sekitar lokasi kejadian pada saat kecelakaan terjadi.

Soerjanto menyatakan KNKT akan melaporkan hasil investigasi tersebut paling lambat 30 hari setelah tanggal kejadian. Laporan tersebut, kata dia, akan memuat data dan informasi yang berhasil diperoleh selama fase awal investigasi dan analisis maupun kesimpulan.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy