Kisah Kesabaran Syekh Hasan al-Bashri

Ilustrasi kesabaran syekh
Foto ilustrasi via internet

Syekh Hasan al-Bashri, ulama besar dari abad pertama Hijriyah. Dia hidup di Kota Basrah, Irak. Seperti umumnya orang-orang alim, Syekh Hasan al-Bashri berhubungan baik dengan semua tetangganya, termasuk yang berlainan iman.

Ada seorang Nasrani yang rumahnya tepat bersebelahan dengan kediaman sang mursyid. Akan tetapi, ada perkara yang sebenarnya mengganggu ketenteraman hidup Syekh Hasan al-Bashri. Kebetulan, rumah tetangganya itu terdiri atas dua lantai. Pada tingkat atas, terdapat ruangan yang difungsikan sebagai toilet.

Sayangnya, sistem pipa kamar mandi itu tidak begitu bagus. Bahkan, dari waktu ke waktu, muncul rembesan air dari dinding toilet itu.

Karena bangunan antarrumah saling menempel, kebocoran pada tembok tersebut mengalir hingga ke sisi bagian dalam rumah Syekh Hasan al-Bashri.

Bahkan, pipa yang bocor itu mengalirkan air kencing yang berasal dari toilet si Nasrani. Alhasil, rumah sang syekh sering kali kebauan karena ditetesi air najis itu.

Bukannya marah-marah, Syekh Hasan al-Bashri hanya menyiapkan wadah untuk menampung tetesan dari langit-langit ruangan rumahnya yang “kebagian” bocor itu.

Setiap malam, ulama yang masyhur di seantero Irak itu keluar untuk membuang air kencing yang sudah memenuhi wadah tersebut.

Dia bukannya tidak mengetahui sumber masalah. Akan tetapi, yang dipilihnya adalah bersabar. Tidak pula sedikit pun terlintas dalam pikirannya bahwa tetangganya sengaja menyulitkan dirinya dengan kebocoran air dari toilet itu.

Begitulah keadaaannya hingga 20 tahun lamanya.

Hingga pada suatu hari, Syekh Hasan al-Bashri mengalami sakit yang cukup parah. Ia bahkan tidak sanggup memimpin salat berjamaah di Masjid Raya Basrah. Pengajian-pengajian yang biasa dipimpinnya pun terpaksa libur sejenak.

Maka, orang-orang ramai menjenguknya. Tamu-tamu berdatangan, baik dari kalangan penguasa maupun rakyat biasa, ke rumah sang ulama.

Di antara orang-orang yang membesuk itu ialah si Nasrani, yang rumahnya bertetangga langsung dengan Syekh Hasan.

Dengan penuh takzim, lelaki yang beragama non-Islam itu menjenguknya. Saat hendak pamit, betapa terkejutnya ia mendapati bau tidak sedap dari arah ruang tengah.

Ternyata, di pojok ruangan tersebut ada wadah yang menampung tetesan air dari langit-langit. Lebih kaget lagi ia sesudah menyadari: bahwa sumber kebocoran itu ialah toiletnya sendiri yang terletak di lantai dua.

Dengan ketakutan, pria itu mengambil wadah tersebut, lalu membuang isinya jauh-jauh dari rumah. Kemudian, ia segera menemui lagi Syekh Hasan al-Bashri untuk meminta maaf.

“Wahai Abu Sa’id (panggilan Syekh Hasan al-Bashri), sudah berapa lama engkau menanggung kesusahan yang disebabkan oleh kebodohanku ini?” tanyanya.

“Sudah 20 tahun hingga kini,” jawab Syekh Hasan.

Seketika, sang tetangga memotong ikat pinggangnya. “Wahai Abu Sa’id, saksikanlah diriku, Asyhaduan laa ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah. Sungguh, aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya.”

Ternyata, sang tetangga merasa terharu akan akhlak mulia Syekh Hasan al-Bashri. Perilakunya menunjukkan betapa luhur ajaran Islam mengenai hubungan bertetangga yang baik.

Demikianlah buah dari kesabaran Syekh Hasan al-Bashri dalam hidup bertetangga. Maslahat yang diterimanya tidak hanya ketenangan batin. Bahkan, atas izin Allah SWT, ia pun menjadi wasilah datangnya hidayah pada seorang insan.[]

 

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy