Teheran – Ketegangan global kian memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang tiga fasilitas nuklir utama Iran yakni Fordow, Natanz, dan Isfahan, pada Minggu, 22 Juni 2025.
Rudal jarak jauh dan bom bunker-buster dilaporkan digunakan untuk menghantam fasilitas yang berada jauh di bawah tanah.
Namun, Iran mengatakan serangan itu tidak menyebabkan kontaminasi radioaktif nuklir di tiga lokasi tersebut.
IAEA, badan pengawas nuklir PBB, juga menyebut sejauh ini tidak ada peningkatan tingkat radiasi setelah serangan.
Beberapa jam usai serangan itu, Iran langsung membalas dengan meluncurkan puluhan rudal ke wilayah Israel.
Menurut kantor berita AFP, sebanyak 30 rudal telah diluncurkan dari Iran ke Israel. Sirene serangan udara kembali meraung di Tel Aviv dan Yerusalem.
Bandara Internasional Ben Gurion termasuk di antara lokasi di Israel yang menjadi target serangan Iran.
Sebelas orang telah dibawa ke rumah sakit setelah rudal Iran menghantam “beberapa lokasi” di Israel, kata layanan darurat nasional.
“Kami tidak akan diam. Iran memiliki hak untuk membela diri dan semua opsi terbuka,” tegas Kementerian Luar Negeri Iran dalam pernyataan resminya seperti dikutip Al Jazeera.
Cina dan Rusia Bereaksi Keras
Serangan itu memicu reaksi keras dari sejumlah negara. Cina mengecam tindakan militer AS-Israel dan menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
“Tindakan ini sangat berbahaya dan bisa memperluas konflik. Semua pihak harus menahan diri,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina sebagaimana dikutip AP.
Sementara itu, Rusia menyatakan keprihatinan serius, terutama terhadap keselamatan reaktor sipil seperti Bushehr.
Moskow menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan mengisyaratkan langkah diplomatik lanjutan untuk mendukung Teheran.
Dunia di Ambang Krisis Baru
Sejumlah analis menilai, aksi militer AS dan Israel tidak hanya menargetkan instalasi nuklir, tetapi juga bertujuan memperlemah posisi tawar Iran di kawasan Teluk. Namun langkah itu justru membuka ruang konfrontasi lebih luas.
Menurut The Guardian, Presiden AS Donald Trump menyebut operasi itu “berhasil menghancurkan infrastruktur utama Iran”.
Alexandria Ocasio-Cortez, anggota kongres AS dari Partai Demokrat mengatakan Trump harus dimakzulkan karena melancarkan serangan tanpa persetujuan kongres.
Saat ini, perhatian dunia tertuju pada langkah lanjutan Iran dan kemungkinan respons tak terduga dari sekutu-sekutunya di kawasan, termasuk Hizbullah dan milisi Houthi.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy