Banda Aceh – Salah satu pertanyaan panelis dalam debat kedua Pilkada Aceh 2024, soal strategi pasangan calon untuk memastikan semua masyarakat Aceh khususnya di daerah terpencil mendapatkan akses kesehatan berkualitas. Debat kedua antarpaslon gubernur-wakil gubernur Aceh, Bustami Hamzah-M. Fadhil Rahmi dan Muzakir Manaf-Fadhlullah, digelar Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh di The Pade Hotel, Banda Aceh, Jumat, 1 November 2024, malam.
Sama seperti debat perdana, segmen pertama debat kedua diawali pemaparan visi-misi dan program kerja kedua paslon. Dua moderator yang memandu debat kedua, memberikan kesempatan pertama kepada paslon nomor urut 01, Bustami Hamzah-M. Fadhil Rahmi atau Om Bus-Syeh Fadhil, berbicara di segmen pertama.
Masuk segmen kedua, moderator memberikan kesempatan pertama kepada paslon nomor urut 02, Muzakir Manaf-Fadhlullah atau Mualem-Dek Fad, berbicara atau menjawab pertanyaan yang sudah disiapkan panelis.
Baca juga: Ada 9 Panelis dan Dua Moderator di Debat Kedua Pilkada Aceh 2024
“Aceh masih menghadapi tantangan besar dalam penyediaan akses layanan kesehatan berkualitas yang merata. Situasi ini diperburuk oleh kurangnya tenaga medis yang terampil, keterbatasan alat kesehatan, dan infrastruktur yang kurang memadai. Kondisi ini tercermin dari persentase angka kesakitan di sembilan kabupaten/kota yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata provinsi yaitu 14,51 persen”.
“Pertanyaannya, apa strategi paslon untuk memastikan semua masyarakat Aceh khususnya di daerah terpencil untuk mendapatkan akses kesehatan berkualitas?”
Setelah membacakan pertanyaan itu, moderator memberi waktu kepada paslon 02 menjawab dengan waktu 90 detik.
Dek Fad mengatakan, “Dalam visi misi kami, kami tegaskan kami akan membangun tiga rumah sakit regional yang terletak di pantai barat selatan, di poros tengah, dan di pantai timur, supaya semua masyarakat Aceh menjamin sama hak, keadilan, seperti Sila Kelima [Pancasila:] Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
“Kami pastikan bagaimana pelayanan di pusat kota, mereka akan merasakan pelayanan di pelosok-pelosok. Kami sangat memahami bahwa seperti di pulau terluar seperti Simeulue, Sabang, kami akan menyiapkan ambulans laut untuk mereka. Dan kami pastikan pelayanan sama seperti yang berada di pusat kota,” ujar Dek Fad.
Mualem menambahkan, “Kami akan pastikan doktor-doktor [dokter] spesialis atau doktor-doktor kepakaran yang mesti mengobati pasien-pasien atau orang sakit. Karena kita kewalahan dengan doktor yang pakar, sebagian kita orang Aceh berobat ke Penang [Malaysia]”.
“Kalau seandainya orang Aceh mampu berobat, mereka tidak akan berobat di Aceh, tapi berobat ke Penang, ini kewalahan yang paling fatal kepada kita di Aceh, mudah-mudahan ke depan akan ada perubahan,” ucap Mualem.
Lihat pula: Strategi Percepat Digitalisasi-Seluruh Masyarakat Aceh Dapat Mengaksesnya, Menurut Bustami dan Fadhlullah
Moderator kemudian memberi kesempatan kepada paslon 01 untuk menanggapi dengan waktu 60 detik.
Bustami mengatakan, “Itu nampaknya cerita lama. Sekarang, ada lima rumah sakit regional, sudah 10 tahun ini enggak pernah selesai-selesai, karena kita enggak punya perencanaan yang matang”.
“Kita harus berhitung berapa sih biaya. Ketika 2 persen [alokasi Dana] Otsus [dari pagu Dana Alokasi Umum Nasional] kita juga tidak fokus pada dunia kesehatan. Apalagi dengan sekarang fiskal kita yang sudah menurun. Ini adalah hayalan, butuh waktu,” kata Bustami.
Bustami melanjutkan, “Saya mengatakan, yang perlu kita benahi supaya masyarakat dekat, kita harus benahi puskesmas, rumah-rumah sakit umum daerah [RSUD], itu yang harus kita perkuat, supaya masyarakat jangan dibebani dengan biaya yang mahal”.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy