USK Dorong One Health untuk Pemulihan Pascabanjir Aceh

FGD
Rektor USK Profesor Marwan bersama pemateri dan peserta FGD. Foto: Humas USK

Banda Aceh – Universitas Syiah Kuala (USK) mendorong pendekatan One Health untuk pemulihan sosial, pangan, dan kesehatan masyarakat rentan pascabanjir Aceh.

Rektor USK Profesor Marwan mengatakan One Health menjadi salah satu pendekatan strategis yang relevan karena berbentuk kolaborasi lintas sektor yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Dia menyebut One Health sangat terasa, terutama saat pandemi COVID-19. Pandemi tersebut menunjukkan bagaimana penyakit dapat berpindah dari hewan ke manusia, dipengaruhi oleh faktor lingkungan, serta berdampak luas pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, sosial, hingga ekonomi.

“Kompleksitas persoalan tersebut menegaskan bahwa solusi tidak dapat dilakukan secara sektoral, melainkan harus melalui kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi,” ujar Marwan saat membuka grup diskusi terfokus (FGD) dan diseminasi pengabdian kepada masyarakat yang digelar Equity USK di Hotel Kyriad Muraya Banda Aceh, Selasa, 3 Februari 2026.

USK sendiri telah memiliki One Health Collaboration Center (OHCC) sejak 2018. Inisiatif ini berawal dari Fakultas Kedokteran Hewan dan kemudian berkembang menjadi pendekatan pembelajaran kolaboratif dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu, seperti kedokteran, biologi, dan keperawatan.

“Melalui model pembelajaran ini, mahasiswa diharapkan memiliki pemahaman lintas sektor dan mampu berkolaborasi dalam kerangka One Health setelah mereka lulus,” tambahnya dikutip dari Laman USK.

Marwan juga mengatakan peran universitas sangat penting dalam upaya pemulihan pascabencana seperti banjir di Aceh. Perguruan tinggi harus mampu memberikan dampak nyata terhadap proses pemulihan tersebut.

Ketua Tim Equity USK Profesor Muslim Akmal menambahkan, One Health hadir sebagai kerangka strategis yang memandang kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Pascabanjir, kata dia, interaksi ketiga aspek itu menjadi semakin nyata. Lingkungan tercemar memicu penyakit, ternak yang sakit memengaruhi ketahanan pangan, dan pada akhirnya kesehatan masyarakat pun terancam. Karena itu, proses pemulihan tidak dapat dilakukan secara sektoral, melainkan harus terintegrasi.

“Karena itulah, kami berharap kehadiran para peserta FGD ini dapat menghasilkan aksi nyata untuk membantu pemulihan pascabencana banjir di Aceh sesuai dengan peran dan kapasitas masing-masing.”

FGD dihadiri 60 peserta berasal dari berbagai instansi, di antaranya Dinas Peternakan Aceh, Dinas Pangan, Pertanian, Kelautan, dan Perikanan Banda Aceh, Kementerian Pertanian, beberapa perguruan tinggi di Aceh, serta para praktisi.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy