Rakyat Lhokseumawe dan Jamaah Tarbiyah Peringati Haul Ke-1243 Wafat Imam Syafi’i

Jamaah Tarbiyah peringati Haul Wafat Imam Syafii
Abon Banda Dua memimpin pengajian kitab kuning pada peringatan Haul Ke-1243 Tahun Wafat Imam Syafi'i dan HUT Ke-12 Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi'i Aceh, di Pendopo Tarbiyah, Desa Meunasah Mee, Lhokseumawe, Rabu, 14 Januari 2026. Foto: Istimewa

Lhokseumawe – Rakyat Kota Lhokseumawe bersama jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh memperingati Haul Ke-1243 Tahun Wafat Imam Syafi’i dan HUT Ke-12 Tahun Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pendopo Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i, Desa Meunasah Mee, Kandang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Rabu, 14 Januari 2026/25 Rajab 1447 H.

Acara tarsebut ikut dihadiri unsur Pemerintah Kota Lhokseumawe, Polres Lhoksemawe, Kapolsek Muara Dua, Camat Muara Dua, dan tamu undangan lainnya.

Para jamaah turut mengibarkan bendera Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i.

“Upacara ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab, karena Imam Syafi’i meninggal dunia pada akhir bulan Rajab [204 Hijriah],” kata Pimpinan Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh, Teungku Ahmad (Abon Banda Dua), dalam keterangannya, Kamis, 15 Januari 2026.

Adapun Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh dideklarasikan di Masjid Babul Jannah, Gampong Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe pada akhir Rajab, 12 tahun lalu, oleh Syaikhuna Teungku Haji Usman Ibni Abdilah (Abati Banda Dua).

“Tujuan beliau melahirkan kembali peninggalan Sultan Malikussaleh yaitu Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i untuk memperbaiki moral dan akhlak rakyat, hidup dengan ilmu agama, supaya rakyat tidak hidup dalam kejahilan,” ujar Abon Banda Dua.

Selain itu, kata Abon Banda Dua, Abati Banda Dua—semasa hidupnya—juga ingin membantu pemerintah dengan meyerahkan acuan Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i untuk dijalankan kepada rakyat. “Karena pemerintah punya kuasa dan kemampuan untuk menjalankan acuan ini,” ucapnya.

[Jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i mengikuti peringatan Haul Ke-1243 Tahun Wafat Imam Syafi’i. Foto: Istimewa]

Abon Banda Dua menjelaskan pada dasarnya Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i adalah bagian dalam Negara Indonesia. “Karena pada tahun 1947 Abuya Hasan Krueng Kale telah menyerahkan acuan Tarbiyah menjadi aset rohani Republik Indonesia”.

Oleh karena itu, lanjut Abon Banda Dua, selama tidak dikembalikan dalam acuan peniggalan Sultan Malikussaleh, Aceh berpotensi selalu dalam “huru-hara”.

“Maka saya imbau kepada pemerintah untuk menjalankan acuan peninggalan Sultan Malikussaleh sebelum terlambat. Karena penyesalan selalu datang setelah kejadian dan kita semua akan menunggu akibatnya. Dan saya ajak umat Nabi Muhammad SAW untuk menuntut ilmu agama supaya kita beribadah kepada Allah dengan benar yang dianjurkan oleh agama,” tutur Abon Banda Dua.

Sementara itu, jamaah Tarbiyah juga menyambut Isra’ dan Mi’raj dengan mengadakan dakwah islamiyah yang disampaikan Abi Nasruddin Punteut, Lhokseumawe.

[Abon Banda Dua foto bersama para tamu pada acara peringatan Haul Ke-1243 Tahun Wafat Imam Syafi’i dan HUT Ke-12 Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh. Foto: Istimewa][]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy