Blangkejeren – Penonton membeludak memadati tribune Stadion Buntul Nege Gayo Lues menyaksikan final pacuan kuda tradisional, Minggu, 26 Oktober 2025.
Bukan hanya warga Gayo Lues, penonton juga berasal dari Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Tenggara, Aceh Timur, dan Langsa.
“Alhamdulilah, antusias warga masih sangat tinggi menyaksikan lomba pacuan kuda tradisional yang sudah menjadi budaya kita di dataran tinggi Gayo,” kata Muhibunsyah Pane, Ketua Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Gayo Lues kepada wartawan.
Pacuan kuda tradisional digelar saban tahun di Gayo Lues. Muhibunsyah berharap masyarakat Gayo Lues terhibur dengan event tersebut. “Karena hanya setahun sekali kita adakan,” ucapnya.
Muhibunsyah turut menyerahkan hadiah dan piala kepada pemenang lomba pacuan kuda itu.
Lomba pacuan kuda tradisional memeriahkan HUT ke-80 RI itu berlangsung sejak 21 Oktober, setelah dibuka oleh Wakil Bupati Gayo Lues, Maliki.
Ketua Panitia Pacuan Kuda Gayo Lues, Bungkes, Selasa (21/10), mengatakan jumlah kuda yang ikut bertanding tahun ini mencapai 120 ekor dari Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.
“Paling banyak kuda dari Bener Meriah 55 ekor. Kuda dari Gayo Lues 35 ekor, dan Aceh Tengah 30 ekor,” ujarnya.
Dia menyebut jumlah kuda saat ini berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Wabup Maliki menyebut pacuan kuda ini menjadi ajang silaturahmi masyarakat antarkabupaten. “Dan ajang promosi dan menghidupkan prekonomian masyarakat”.
Maliki ingin pada event tahun depan, dirinya dan Bupati Gayo Lues juga memiliki kuda pacu yang ikut bertanding. Dia menyarankan para kepala dinas ikut menyiapkan kuda untuk mengikuti lomba.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy