Lhoksukon – Masyarakat Gampong Krueng Seupeng, Kuta Makmur, Aceh Utara, melakukan gebrakan di ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Biasanya, dalam kebanyakan pergelaran MTQ, peserta dibatasi hanya untuk kalangan anak-anak dan remaja. Berbeda di Krueng Seupeng, MTQ ke-2 gampong tersebut juga diikuti ibu-ibu.
Alhasil, musabaqah kali ini yang diadakan di halaman Meunasah Gampong Krueng Seupeng sejak 12 November hingga 22 November 2024. Tak mau kalah dengan peserta-peserta cilik, kaum ibu pun menunjukkan semangat mereka mengikuti setiap cabang lomba.
“Tahun ini menjadi tahun pertama peserta dari kalangan ibu-ibu karena selain permintaan dari peserta sendiri (ibu-ibu), tahun ini juga menjadi tahun pertama bagi penyelenggara menambah cabang lomba yang pesertanya dari kalangan ibu-ibu,” ujar Suryadi, penanggung jawab MTQ Krueng Seupeng kepada Line1.News, Minggu, 24 November 2024.
Ada dua kategori lomba yang dikhususkan untuk ibu-ibu, yaitu tajhiz mayit dan peurateb aneuk. Tajhiz mayit adalah tata cara dalam mengurus jenazah sesuai dengan syariat Islam, dimulai dari memandikan hingga mengafani mayit. Sementara rateb aneuk merupakan cara menidurkan anak atau bayi dengan menyenandungkan syair-syair tentang agama atau nasihat-nasihat.
Juliana, 26 tahun, seorang peserta lomba peurateb aneuk yang meraih juara kedua mengatakan, ia membutuhkan waktu sepekan untuk untuk berlatih syair peurateb aneuk. Syair tersebut ia dapatkan dari sebuah situs web.
“Saya udah lupa siapa pengarangnya, karena waktu itu saya carinya di situs web gitu, dari orang-orang yang pernah ikut lomba peurateb aneuk,” ujar Juliana, Selasa, 26 November 2024.
Ia baru pertama kali mengikuti lomba rateb aneuk. “Dan jujur saya merasa antara senang dan takut, karena namanya juga pertama kali,” ujarnya.
Baca Juga: MTQ Ke-2 Krueng Seupeng Sukses, Ini Nama-Nama Pemenang
Juliana mengatakan pesan yang terkandung dalam syair yang dibawakannya mengajarkan pada anak untuk belajar ilmu dunia dan ilmu akhirat. “Jangan membantah orang tua dan selalu berbakti pada ibu, karena surga itu di bawah telapak kaki ibu. Dan karena ridha Allah juga tergantung pada ridha ibu,” tuturnya.
Di luar lomba, Juliana mengaku hingga kini dirinya masih melantunkan sendiri syair-syair peurateb aneuk saat menidurkan anaknya, ketika ramai ibu muda memperdengarkan syair serupa menggunakan handphone.
Sementara Tarbiyah, 51 tahun, juara pertama tajhiz mayit mengaku sangat senang dengan diadakannya perlombaan tersebut. “Dengan adanya lomba tajhiz mayit ini kami jadi belajar tata caranya dan jadi tahu. Kemungkinan jika tidak ada lomba ini sampai sekarang kami masih belum tau cara memandikan jenazah,” ujar Tarbiyah, Senin 25 November 2024.
Menurutnya dengan diadakan lomba itu semakin banyak masyarakat yang mulai mempelajari tata cara tajhiz mayit. Sebelum perlombaan dimulai, Tarbiyah dan teman sekelompoknya melakukan latihan selama satu pekan.
“Kami yang ikut lomba ini belajar dari guru ngaji yang sudah mengerti tentang tajhiz mayit, lalu kami catat apa yang diajarkan, dan kami praktikkan bersama-sama,” ujarnya.
Saat ini, kata Tarbiyah, sangat jarang orang yang mengetahui tata cara tajhiz mayit. Jadi ia berharap dengan mengikuti lomba ini akan ada penerus bagi masyarakat untuk bisa mempelajari tajhiz mayit.
“Saya mengikuti lomba ini bukan karena menginginkan hadiahnya atau ingin menjadi pemenang. Namun, menurut saya ini adalah kesempatan bagi kami untuk bisa belajar, dan hadiah yang kami terima itu adalah bonus dari hasil belajar dan latihan kami.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy