Banda Aceh – Jalan Muhammad Jam–ada yang menyingkatnya Mohd Jam–adalah salah satu ruas jalan di kawasan Gampong Baru, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, yang bertautan dengan tokoh besar Kesultanan Aceh.
Nama jalan tersebut diambil dari nama Sultan Aceh ke-22 yakni Sultan Jamalul Alam Badrul Munir atau juga dikenal sebagai Poteu Jeumaloy.
Ironisnya, kata ‘Jam’ pada nama jalan itu selama ini kerap dihubungkan dengan nama seorang tukang jam. Padahal, ‘Jam’ tersebut singkatan dari Jamalul Alam Badrul Munir.
Pemberian nama jalan itu mengacu pada Peraturan Daerah Kotamadya Banda Aceh Nomor 4 Tahun 1985. Bab dua qanun ini menyebutkan, setiap jalan dan lorong harus mempunyai nama yang diambil dari nama orang terkemuka, pahlawan, ulama, tokoh masyarakat, atau peristiwa penting.
Melansir detik.com, pada 2019, anggota DPRK Banda Aceh, Sofyan Helmi, pernah mengusulkan agar nama jalan itu ditulis lengkap menjadi Jalan Sultan Jamalul Alam Badrul Munir.
“Hal ini agar tidak mengaburkan sejarah Kerajaan Aceh pada generasi mendatang dan mengaburkan nama Sultan Jamalul Alam Badrul Munir sebagai salah satu sultan Aceh,” ujar Sofyan dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa, 6 Agustus 2024.
Sofyan mengatakan usulan itu disampaikannya dalam rapat paripurna tahun anggaran 2020 di Gedung DPRK Banda Aceh. Dia melontarkan usulan itu agar muncul perhatian khusus dari Pemerintah Kota Banda Aceh terhadap makam Sultan Jamalul Alam Badrul Munir sebagai cagar budaya yang berada di jalan tersebut.
Sementara itu, Pemimpin Darud Donya Cut Putri, menyebutkan makam Sultan Jamalul Alam Badrul Munir berada di tanah wakaf yang juga dikenal dengan nama Lampoh Teubee Poteu Jeumaloy.
“Seiring waktu kawasan itu dikenal sebagai Taman Poteu Jeumaloy,” ujar cucu Sultan Aceh ini dalam keterangan tertulis, Selasa, 6 Agustus 2024.
Di taman itu juga tiga kuburan lain yaitu makam Pocut Wan Syarifah Aja Permaisuri, istri Sultan Jamalul; Sultan Badrul Alam, ayahanda Sultan Jamalul, dan Sayed Syarif Ibrahim, kakek Sultan Jamalul.
Saat ini, kata Cut Putri, kondisi makam Sultan Badrul Alam dan Sayed Syarif Ibrahim, memprihatikan. Selain telah dicabut nisannya, kedua makam itu telah tertutup semen dan di atasnya kini terdapat dapur milik sebuah warung bakso.
Dia berharap Pemerintah Aceh berkomitmen menyelamatkan situs sejarah tersebut sebab makam itu salah satu bukti berkembangnya peradaban Islam pada waktu itu.
“Perlu langkah bijaksana semua pihak untuk menyelamatkan dan memulihkan kawasan bersejarah Tanah Wakaf Taman Poteu Jeumaloy, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya,” tegas alumni Fakultas Kedokteran Universitas Pajajaran Bandung itu.
Miris! Nisan di Makam Ayah dan Kakek Sultan Aceh Dicabut, Lalu Diubah Jadi Dapur Bakso
Pada Desember 2019, kata Cut Putri, ia pernah bertemu beberapa anggota DPR Aceh untuk membahas hal tersebut. Saat itu, beberapa anggota dewan menyampaikan dukungan penuh dan meneken memorandum upaya penyelamatan Taman Poteu Jeumaloy.
Adapun anggota DPR Aceh yang menandatangani memorandum adalah Dalimi, Herman, dan HT Ibrahim (Demokrat); Tgk Ridwan dan Azhar MJ Roment (PDA); Purnama Setia Budi, Zaenal Abidin, dan Irawan Abdullah (PKS); Ihsanuddin MZ (PPP), serta Muhammad Rizky (Golkar).
Memorandum ditujukan untuk Wali Nanggroe Aceh, Gubernur Aceh, Pimpinan DPR Aceh, Wali Kota Banda Aceh, Pimpinan DPRK Banda Aceh, Tim Ahli Cagar Budaya Banda Aceh serta Balai Pestarian Cagar Budaya Aceh.
Isi memorandum itu meminta pihak-pihak yang berkompeten untuk membersihkan dan menertibkan akses jalan menuju cagar budaya makam Sultan Jamalul Alam Badrul Munir yang sekarang dipakai sebagai tempat berjualan Bakso.
Selain itu, pembebasan kawasan makam dari bangunan-bangunan, lalu memugar dan memulihkannya sehingga kembali menjadi Taman Poteu Jeumaloy. Dan, mengusulkan agar nama jalan utama di kawasan itu diganti menjadi Jalan Sultan Jamalul Alam Badrul Munir.
Namun, saat ditanyakan Line1.News, apakah usulan dalam memorandum itu telah direalisasikan Pemko Banda Aceh? Cut Putri hanya menjawab singkat. “Belum,” tulisnya lewat aplikasi perpesanan, Selasa.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy