Ketebalan Lumpur di MIN 4 Pidie Jaya Capai 1 Meter

ASN Kemenag Aceh Besar
ASN Kemenag Aceh Besar membersihkan lumpur sisa banjir di MIN 4 Pidie Jaya, Minggu (4/1/2026). Foto: Humas Kemenag Aceh Besar

Meureudu – Ketebalan lumpur sisa banjir bandang akhir November 2025 di MIN 4 Pidie Jaya mencapai satu meter. Seluruh ruang kelas di madrasah tersebut dipenuhi lumpur. Fasilitas belajar mengalami kerusakan berat, mulai dari pagar, meja, kursi, buku-buku, hingga perlengkapan penunjang kegiatan belajar mengajar lainnya.

Kemarin, ASN Kantor Kementerian Agama Aceh Besar bergotong royong membersihkan lumpur di sekolah tersebut.

Kerja bakti dilakukan dengan membersihkan lumpur dari ruang kelas, teras, serta lingkungan madrasah. Selain itu, ASN juga membantu memindahkan sisa-sisa fasilitas yang tersisa dan rusak akibat terjangan banjir.

Selain bersih-bersih, Kemenag Aceh Besar Peduli dan DWP Kemenag Aceh Besar juga menyerahkan bantuan seperti sajadah, mukena, kain sarung, Al Quran, peralatan tulis, serta susu dan snack untuk MIN 4 Pidie Jaya.

“Kerja bakti ini bukan sekadar bersih-bersih, tetapi wujud kepedulian dan kebersamaan kita sebagai keluarga besar Kementerian Agama. Madrasah harus segera pulih agar proses belajar mengajar bisa kembali berjalan,” ujar Kepala Kantor Kemenag Aceh Besar Saifuddin, Minggu, 4 Januari 2026, dikutip dari Laman Kemenag Aceh.

Dia berharap keterlibatan ASN Kemenag Aceh Besar meringankan beban MIN 4 Pidie Jaya, sekaligus memotivasi guru dan siswa yang terdampak.

Trauma Healing untuk Siswa

Sementara itu, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag Aceh Besar menggelar pemulihan trauma (trauma healing) bagi siswa madrasah tersebut.

Kegiatan dikemas dengan pendekatan yang menyenangkan, seperti permainan, saling tanya jawab, shalawat, dan pendampingan psikologi sesuai usia anak.

Ketua DWP Kemenag Aceh Besar Yasmaidar mengatakan trauma healing menjadi langkah penting untuk membantu memulihkan kondisi psikologis siswa yang mengalami dampak langsung dari bencana banjir yang melanda wilayah tersebut.

“Anak-anak adalah kelompok paling rentan saat terjadi bencana. Melalui trauma healing ini, kami ingin membantu mereka kembali ceria, mengurangi rasa takut, dan menumbuhkan semangat untuk kembali belajar,” ujarnya.

“Trauma healing tidak harus selalu serius. Kami hadir dengan metode yang ramah anak agar mereka merasa aman dan nyaman, sehingga luka batin akibat bencana bisa perlahan pulih,” imbuhnya.

Saifuddin mengapresiasi peran aktif DWP Kemenag Aceh Besar karena pemulihan pascabencana tidak hanya soal membersihkan lumpur dan memperbaiki fasilitas.

“Tetapi juga memulihkan mental dan psikologis para siswa. Trauma healing ini sangat penting agar anak-anak tidak membawa rasa takut berkepanjangan.”[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy