Gerhana Bulan Malam Ini, Berikut Niat Salat Sunah Khusuf

Ilustrasi shalat foto freepik
Ilustrasi seorang tengah niat shalat gerhana. (Foto: NU Online/Freepik)

Banda Aceh – Gerhana bulan total akan melintasi langit Indonesia termasuk Aceh dan beberapa wilayah di Eropa, Afrika, Asia, dan Australia pada Minggu malam, 7 September 2025, hingga Senin dinihari (8/9). Umat Islam dianjurkan untuk salat sunah khusuf atau khusuful qamar ketika terjadi fenomena gerhana bulan.

Ketua Tim Falakiyah Kemenag Aceh, Alfirdaus Putra mengatakan gerhana bulan total yang melintasi langit Aceh kali ini akan menjadi gerhana bulan total terlama sejak tahun 2022. Pada saat terjadi gerhana, bulan akan berwarna kemerahan, sehingga di kalangan astronom populer sebagai “blood moon”.

“Gerhana bulan total merupakan peristiwa alam yang terjadi saat bulan melewati bayangan inti (umbra) bumi secara penuh atau bumi dalam posisi di tengah, antara posisi matahari dan bulan,” kata Alfirdaus, dalam keterangan tertulis, Sabtu, 30 Agustus 2025.

Baca juga: Gerhana Bulan Total Bakal Melintasi Langit Aceh, Kemenag Imbau Salat Khusuf

Salat Sunah

Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari menyampaikan gerhana bulan jangan dikaitkan dengan kematian, musibah atau hal-hal buruk lainnya. Gerhana bulan merupakan fenomena alam untuk menegaskan keagungan dan kebesaran Allah SWT.

Azhari mengimbau agar masyarakat turut mensyiarkan ibadah salat sunah khusuf (gerhana bulan) walaupun gerhana terjadi di tengah malam, yang dilanjutkan dengan sedikit khutbah gerhana pada saat gerhana.

“Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh melalui Observatorium Pengamatan Astronomi Tgk. Chiek Kuta Karang akan memusatkan pengamatan di halaman Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Aceh dengan menggunakan 5 unit teleskop astronomi serta melaksanakan ibadah salat khusuf di Musala Al-Ikhlas dalam Kompleks Kantor Kanwil Kemenag,” ujar Azhari.

Azhari mengatakan masyarakat dapat memantau proses terjadinya gerhana dengan cara melihat langsung ke arah bulan purnama. Atau dapat menyaksikan secara live peristiwa gerhana bulan pada channel Youtube ‘Kemenag Aceh’ atau Facebook ‘KemenagAceh’.

Niat Salat

Salat gerhana bulan disunahkan dilaksanakan secara berjemaah. Namun, umat Islam juga dapat menunaikannya secara sendirian (munfarid).

Hal ini sebagaimana dijelaskan Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU), Ustaz Alhafiz Kurniawan, dilansir NU Online pada Minggu (7/9).

Hal yang penting dalam sebuah ibadah adalah niat. Salat gerhana bulan harus diawali dengan niat khusus sesuai dengan pelaksanaannya, sebagai imam, makmum, ataupun sendirian.

Berikut lafal niatnya:

Jadi imam

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامً لله تَعَالَى

Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini imâman lillâhi ta‘âlâ

Artinya, “Saya salat sunah gerhana bulan dua rakaat sebagai imam karena Allah SWT.”

Jadi makmum

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ مَأمُومًا لله تَعَالَى

Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini makmûman lillâhi ta‘âlâ

Artinya, “Saya salat sunah gerhana bulan dua rakaat sebagai makmum karena Allah SWT.”

Sendirian

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى

Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ

Artinya, “Saya salat sunah gerhana bulan dua rakaat karena Allah SWT.”

Tempat Niat

Ustaz Alhafiz Kurniawan menjelaskan sebenarnya tempat niat itu di hati. Hanya untuk membulatkan hati, ulama menganjurkan untuk melafalkannya.

Hal ini disebutkan oleh Syekh Salim bin Sumair al-Hadrami dalam kitab Safinah an-Naja, “Tempat niat itu di hati. Pelafalan niat itu sendiri dianjurkan agar suara lisan membantu pemantapan hati.”

Menurut Ustaz Alhafiz Kurniawan, salat sunah gerhana bulan cukup dikerjakan sendiri di rumah masing-masing. “Pendapat ini dipegang oleh Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki,” ucapnya.

Dalam kitab Ibanatul Ahkam, Syarah Bulughul Maram, Syekh Hasan Sulaiman Nuri dan Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki menyebut tata cara salat gerhana bulan menurut Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki.

“Kalangan Hanafi mengatakan, salat gerhana bulan itu berjumlah dua rakaat dengan satu rukuk pada setiap rakaatnya sebagai salat sunah lain pada lazimnya, dan dikerjakan secara sendiri-sendiri. Pasalnya, gerhana bulan terjadi berkali-kali di masa Rasulullah SAW tetapi tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasul mengumpulkan orang banyak, tetapi beribadah sendiri. Kalangan Maliki menganjurkan salat sunah dua rakaat karena fenomena gerhana bulan dengan bacaan jahar (lantang) dengan sekali rukuk pada setiap kali rakaat seperti salat sunah pada lazimnya, dikerjakan sendiri-sendiri di rumah. Salat itu dilakukan secara berulang-ulang sampai gerhana bulan selesai, lenyap, atau terbit fajar. Kalangan Maliki menyatakan makruh salat gerhana bulan di masjid baik berjemaah maupun secara sendiri-sendiri.”

Adapun secara teknis, salat sunah gerhana bulan sendirian menurut Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki sebagai berikut:

1. Niat di dalam hati ketika takbiratul ihram
2. Mengucap takbir ketika takbiratul ihram sambil niat di dalam hati
3. Baca ta‘awudz dan Surat Al-Fatihah. Setelah itu baca salah satu surat pendek Al-Qur’an dengan jahar (lantang).
4. Rukuk
5. Itidal
6. Sujud pertama
7. Duduk di antara dua sujud
8. Sujud kedua
9. Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua
10. Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama dengan rakaat pertama. Durasi pengerjaan rakaat kedua lebih pendek daripada pengerjaan rakaat pertama
11. Salam
12. Istighfar dan doa.

Ustaz Alhafiz juga menyampaikan bahwa salat gerhana bulan sendiri dapat dilakukan dengan kafiat ala Madzhab Syafi’i, yaitu dengan membaca dua Al-Fatihah, dua rukuk, dan dua kali i’tidal.

Lebih lanjut, Ustaz Alhafiz juga menyebut bahwa salat sunah gerhana bulan dapat dikerjakan secara ringkas dengan hanya membaca Surat Al-Fatihah saja pada setiap rakaat tanpa surat pendek atau dengan surat pendek.

“Ini lebih ringkas seperti keterangan Syekh Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam I’anatut Thalibin,” ujarnya.

Sebagai catatan, Ustaz Alhafiz menegaskan bahwa anjuran salat gerhana itu berlaku selama gerhana berlangsung.

“Selagi gerhana bulan berlangsung, maka kesunahan salat sunah gerhana bulan tetap berlaku. Tidak ada batasan jumlah rakaat salat gerhana bulan menurut Madzhab Maliki. Hanya saja salat sunah gerhana bulan ini dikerjakan per dua rakaat. Demikian tata cara salat gerhana bulan berdasarkan Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki,” pungkasnya.

Adapun waktu fase gerhana bulan total pada Minggu malam (7/9/2025) hingga Senin dinihari (8/9/2025):

• Awal fase sebagian (awal gerhana): 7 September 2025 M pukul 23:27:01 WIB
• Awal fase total: 8 September 2025 M pukul 00:30:40 WIB
• Puncak gerhana: 8 September 2025 M pukul 01:11:43 WIB
• Akhir fase total: 8 September 2025 M pukul 01:52:46 WIB
• Akhir fase sebagian (akhir gerhana): 8 September 2025 M pukul 02:56:25 WIB
• Durasi: 3 jam 29 menit 24 detik.[]

 

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy