BNN Kesulitan Temukan Lahan Ganja di Aceh, Apa Sebabnya?

Pers Release BNNP Aceh
Kepala BNNP Aceh Brigjen Pol Marzuki Ali Basyah saat temu pers di Aula Kantor BNNP Aceh, Selasa, 24 Desember 2024. Foto: Humas BNNP Aceh

Banda Aceh – Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh Brigjen Pol Marzuki Ali Basyah mengakui kesulitan menemukan ladang ganja di Aceh. Minimnya lahan karena tidak banyak lagi permintaan.

“Menurut data kami, kami juga kesulitan menemukan lahan. Itu tandanya demand-nya (permintaan) itu sudah kurang untuk Aceh sehingga suplainya juga tidak banyak,” ujar Marzuki kepada wartawan saat temu pers di Aula Kantor BNNP Aceh, Selasa, 24 Desember 2024.

Marzuki menyebutkan, berkurangnya permintaan ganja efek dari pencegahan masif ke wilayah-wilayah yang diduga banyak ditanami tanaman tersebut. BNNP, kata dia, melakukan beberapa pendekatan ke masyarakat, salah satunya mengajak beralih dari tanaman ganja ke tanaman produktif.

“Tercatat selama 2024 total sebanyak 90 orang dari tiga desa rawan narkoba telah mengikuti pelatihan kewirausahaan seperti, budidaya tanaman pertanian mulai dari cabai, pakcoi dan lain sebagainya, dan menciptakan seluas 3,5 hektare lahan untuk dilakukan penanaman tanaman produktif,” jelas Mantan Irwasda Polda Aceh itu.

Selama ini, kata Marzuki, metode pemantauan ladang ganja selain langsung menelusuri hutan atau daerah yang dicurigai, juga menggunakan pantauan satelit. Namun, dari pantauan satelit sudah hampir tidak ditemukan keberadaan ladang ganja di wilayah Aceh. Bila pun ada, sebutnya, lokasi ladang sangat jauh. Bahkan untuk menjangkaunya harus berjalan kaki sekitar delapan jam.

Sejak Januari 2024, luas ladang ganja yang ditemukan BNNP Aceh lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Marzuki menduga ganja tumbuhan tersebut kini ditanam di antara celah-celah pepohonan sehingga tidak terpantau satelit.

Dugaan lain, para pelaku menggunakan strategi baru untuk menanam ganja. Namun, BNN belum menemukan atau mengungkap metode baru penanaman ganja. “Mungkin mereka menanamnya di rumah kaca dan tidak lagi di hutan-hutan. Akan tetapi kami juga belum mendapatkan informasinya dengan pasti,” ujarnya.

Tahun ini, BNNP Aceh sendiri memusnahkan dua titik ladang ganja. Satu titik di Gampong Meureu, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar dengan luas 2,5 hektare. “Di mana sebanyak 7.000 batang tanaman ganja basah dan berat tanaman ganja basah mencapai 3,5 ton dimusnahkan,” ujar Marzuki.

Titik satu lagi di Gampong Lampanah, Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar, dengan luas satu hektare ladang ganja. Di situ, tiga ribu batang ganja basah yang beratnya mencapai satu ton dimusnahkan.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy