Kualasimpang – Yayasan Blood For Life Foundation (BFLF) Indonesia bersama donatur luar negeri Karisma Humanitarian Outreach Mission (KHOM) Malaysia, menyalurkan ratusan seragam sekolah dan paket ramadan untuk korban bencana di Aceh Tamiang.
Ketua BFLF, Michael Octaviano, mengatakan bantuan seragam sekolah disalurkan kepada 130 siswa SD Negeri Gelung dan 24 siswa SD Tanah Merah, Kecamatan Seruway.
Dia merinci seragam yang diberikan berupa pakaian sekolah lengkap, topi, peci, hijab, hingga sepatu. Penyaluran dilakukan secara langsung guna memastikan anak-anak dapat kembali bersekolah dengan perlengkapan yang layak.
“Selain sektor pendidikan, BFLF dan KHOM juga menyalurkan 100 paket Ramadhan ke tiga desa terdampak,” kata Michael, Rabu, 28 Januari 2026.
Adapun desa yang dibantu yakni Desa Alur Nunang, Desa Alur Jambu dan Desa Pengidam. Paket tersebut berisi Al-Qur’an, mukena, sarung, sajadah, beras, minyak goreng, serta roti kering, sebagai bentuk dukungan spiritual dan kebutuhan dasar warga menjelang bulan suci Ramadhan.
Tak hanya itu, relawan BFLF bersama masyarakat juga menggelar kegiatan masak bersama bubur pedas sajian khas Ramadan di Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, salah satu wilayah yang terdampak paling parah akibat banjir.
“Kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan dan kepedulian terhadap warga yang hingga kini masih berjuang memulihkan kehidupan mereka,” ujar Michael.
Michael mengatakan hingga memasuki bulan kedua pascabencana, Aceh Tamiang belum sepenuhnya pulih. Oleh karena itu, BFLF terus berupaya hadir di tengah masyarakat untuk menyalurkan bantuan donasi.
“Aceh belum sepenuhnya pulih, masih banyak desa terdampak yang membutuhkan uluran tangan, terlebih menjelang Ramadan,” jelasnya.
Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu sektor paling krusial yang harus segera dipulihkan agar anak-anak tidak kehilangan masa depan akibat bencana. Kehadiran langsung relawan di lapangan, kata dia, merupakan bentuk komitmen BFLF untuk menjaga harapan dan semangat belajar generasi muda Aceh.
“Kami ingin anak-anak tetap punya semangat dan harapan. Pendidikan tidak boleh berhenti meski dalam kondisi sulit,” ucapnya.
Dia berharap kolaborasi dengan donatur luar negeri ini dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk ikut berpartisipasi membantu masyarakat Aceh Tamiang, baik di sektor pendidikan maupun pemulihan kehidupan sosial ekonomi warga pascabencana.
“Masih banyak sekolah dan desa dengan kondisi serupa. Kami mengajak semua pihak untuk bergandeng tangan membantu Aceh bangkit kembali, relawan terus bergerak jangan pamit dulu,” katanya.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy