Bagaimana Kekuatan Hamas Setelah Dua Tahun Perang Kontra Israel?

Anggota Hamas bersama seorang sandera Israel
Anggota Hamas menyerahkan sandera Israel kepada Palang Merah. Foto: AP via DW

Gaza — Dua tahun sejak zionis Israel melancarkan operasi militernya di Gaza, para analis menilai Hamas memang mengalami kemunduran signifikan tapi milisi tersebut belum sepenuhnya tumbang.

“Hamas telah mengalami banyak kemunduran militer, tetapi masih memiliki kemampuan untuk bangkit kembali dan tetap mempertahankan komando dan kontrol,” kata Marina Miron, peneliti di Departemen Studi Perang, King’s College London, dilansir Deutsche Welle (DW), Selasa, 7 Oktober 2025.

Sebelum konflik dimulai setelah serangan Hamas di Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang, kelompok itu diperkirakan memiliki 25-30 ribu anggota.

Israel menyebut antara 17-23 ribu anggota Hamas telah tewas. Namun, bukti konkret belum disampaikan.

Laporan Armed Conflict Location and Event Data (ACLED) yang berbasis di AS pada Oktober 2024 memperkirakan sekitar 8.500 militan Hamas terbunuh, termasuk anggota kelompok bersenjata lain dan non-kombatan.

Basis data rahasisa zionis yang dikutip media Inggris mencatat hingga Mei 2025, sekitar 8.900 militan Hamas dan sekutunya, Jihad Islam, tewas atau “kemungkinan tewas”. Artinya, lebih dari 80 persen dari lebih 66 ribu korban jiwa di Gaza yang disebut Israel, bukanlah anggota Hamas melainkan warga sipil.

Rekrutmen Baru dan Perang Gerilya

ACLED menyebut Hamas kemungkinan merekrut 10–15 ribu anggota baru selama dua tahun terakhir. “Ada indikasi, termasuk di media sosial, bahwa semakin banyak pemuda Palestina tanpa pelatihan sebelumnya bergabung dengan Brigade Qassam,” tulis Leila Seurat dari Arab Center for Research and Policy Studies di majalah Foreign Affairs, Agustus lalu.

Selain itu, sebut ACLED, Hamas kini beroperasi lebih terdesentralisasi dengan mengandalkan perang gerilya, taktik sergap, dan serangan cepat menggunakan bahan peledak. Meski jumlah roket lintas batas menurun, kelompok itu masih melancarkan serangan terhadap pasukan zionis.

Hamas meluncurkan dua roket pada September 2025 dan melakukan serangan kompleks terhadap tentara Israel, termasuk satu di Khan Younis pada Agustus 2025, di mana para militannya menggunakan senjata berat dan mencoba menculik tentara Israel.

Di wilayah yang oleh militer Israel diklaim telah “dibersihkan,” kelompok-kelompok kecil Hamas sering muncul kembali. Kemungkinan sebagian jaringan terowongan Hamas yang memungkinkan serangan mendadak dan tempat penyembunyian sandera Israel masih ada.

Di luar Gaza, juga terdapat bukti Hamas telah meningkatkan aktivitasnya di Tepi Barat yang diduduki Israel.

Situasi Sipil dan Kendali di Gaza

Selain pertempuran, Hamas juga menghadapi tekanan terhadap sistem pemerintahan sipil yang dikelolanya sejak 2007. Menurut ACLED, militer Israel menargetkan fasilitas pemerintahan dan kepolisian untuk melemahkan kontrol sipil Hamas.

Sumber bantuan internasional mengatakan kepada The Guardian bahwa komunikasi dengan Hamas terhenti sejak Maret 2025. “Pejabat Hamas semakin jarang menjalankan tugas publik karena kekacauan akibat serangan dan risiko menjadi target,” tulis laporan International Crisis Group.

Seorang mantan pejabat keamanan Gaza kepada BBC menyebut Hamas telah kehilangan kendali atas sebagian besar wilayah, dengan kelompok kriminal lokal mengambil alih peran keamanan.

Sementara di sisi lain, Israel gencar juga gencar mendukung kelompok anti-Hamas seperti Popular Forces di Gaza. Anggota kelompok ini dikaitkan dengan penyelundupan narkoba dan penjarahan bantuan.

Banyak pengamat sepakat bahwa mustahil untuk sepenuhnya melenyapkan Hamas. Selain itu, melemahkan kelompok itu mungkin merupakan “kemenangan total” paling realistis yang dapat dicapai Israel.

“Hamas telah memprioritaskan kelangsungan hidup daripada konfrontasi langsung,” tulis ACLED. “Ini sejalan dengan pandangan bahwa bertahan hidup adalah bentuk kemenangan.”

“Hamas adalah ideologi,” kata Hans-Jakob Schindler dari International Centre for Counter-Terrorism kepada DW. “Kamu tidak bisa menghancurkan ideologi. Kamu hanya bisa melemahkan kemampuan militernya.”[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy