Kata Imam Al-Ghazali Soal Tanda-Tanda Orang Baik saat Hadapi Sakaratul Maut

Ilustrasi tasbih dan Al Qur'an
Ilustrasi tasbih dan Al Qur'an. Foto: Unsplash

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa dapat diketahui orang yang dicintai ketika akan meninggal dari rupanya ketika hampir meninggal dunia adalah tenang dan diam.

Sementara dari lisannya ia mengucapkan syahadat dan dari kalbunya ia berbaik sangka kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya:

“Perhatikanlah orang mati dan tiga hal. Yaitu, apabila dahinya berpeluh, kedua matanya mengalir air mata, dan kedua bibirnya kering. Maka tiga hal itu adalah termasuk rahmat Allah yang turun kepadanya. Dan apabila ia mendengkur seperti dengkurnya orang yang tercekik, warnanya merah, dan kedua bibirnya pucat, maka tiga hal itu adalah termasuk siksaan Allah yang telah turun kepadanya.” (HR Imam At-Tirmidzi dan Hakim)

Adapun kelancaran lidahnya mengucapkan kalimat syahadat, maka ia adalah tanda kebaikan. Abu Sa’id al-Khudri berkata, Rasulullah SAW bersabda:

“Ajarkanlah orang yang hampir mati di antara kamu dengan kalimat La ilaha illallah.”

Dalam riwayat Hudzaifah:

“Sesungguhnya kalimat itu (La ilaha illallah) dapat menghancurkan segala kesalahan sebelumnya.”

Utsman bin Affan radhiyallahu anhu berkata:

“Apabila orang yang akan mati hampir mati, maka ajarkanlah kepadanya kalimat La ilaha illallah. Maka sesungguhnya seorang hamba yang diakhiri dengan kalimat tersebut ketika akan mati, maka (kalimat La ilaha illallah) itu adalah bekalnya ke surga.”

Seharusnya orang yang mentalqin tidak memaksa dalam talqin, tetapi ia berlemah lembut kepada orang yang sedang sakaratul maut. Kadang-kadang lisan orang yang sakit (sakaratul maut) tidak dapat berbicara, kesulitan mengucapkan itu akan membuat talqin terasa berat bagi yang sedang sakaratul maut, khawatir mengakibatkan muncul rasa tidak suka kepada kalimat tersebut. Sehingga dikhawatirkan hal itu menjadi sebab orang yang sakaratul maut suul khatimah.

Adapun bagusnya sangkaan, sangat dianjurkan pada waktu sakaratul maut.

Wa’ilah bin al-Asqa masuk menjenguk orang sakit, lalu ia bertanya, “Beritahukanlah kepadaku, bagaimana sangkaanmu kepada Allah?”

Orang yang tengah sakit itu menjawab, “Telah ditenggelamkan aku oleh dosa-dosaku, dan aku mendekati kebinasaan. Akan tetapi, aku mengharapkan rahmat dari Rabbku.”

Maka Wa’ilah mengucapkan takbir dan keluarga yang berada di rumah juga mengucapkan takbir disebabkan takbir Wa’ilah. Wa’ilah berkata, “Allahu Akbar. Aku mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda: Allah SWT berfirman: Aku menurut sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, maka hendaklah ia menyangka kepada-Ku apa yang ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban).[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy