Jakarta – Sosiolog yang juga tokoh masyarakat sipil Aceh, Ahmad Humam Hamid, mengatakan Perjanjian Helsinki 2005 berhasil mengakhiri perang tetapi pekerjaan memenangkan damai masih jauh dari selesai.
“Perjanjian Helsinki lahir bukan dari euforia kemenangan, melainkan dari kebijaksanaan untuk berhenti,” ujar Humam saat berpidato di acara peringatan 20 tahun Perdamaian Aceh yang digelar Eria School of Government di Jakarta, Kamis, 14 Agustus 2025.
Ia menekankan keberhasilan mencapai kesepakatan damai tidak bisa dilepaskan dari peran kunci Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mendorong proses negosiasi, membangun kepercayaan, serta memberi mandat penuh kepada tim perunding.
Humam juga menyebut peran Martti Ahtisaari, Hamid Awaluddin, dan Malik Mahmud sebagai jembatan penting yang menuntun pada tercapainya perjanjian, dengan landasan kebijakan yang telah diletakkan oleh Presiden BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, serta Megawati Soekarnoputri.
Dia turut menyoroti kondisi Aceh selama 18 tahun terakhir telah menerima lebih dari Rp100 triliun dana otonomi khusus, ditambah pendapatan dari sektor migas dan berbagai transfer fiskal lainnya. Hal ini menjadikan Aceh salah satu provinsi dengan kapasitas fiskal terbesar di Indonesia.
Namun, Humam mengingatkan angka tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi kesejahteraan yang merata.
“Jika damai diukur dari rendahnya angka kemiskinan, dari layanan kesehatan yang layak, dari gizi anak yang terbebas dari stunting, dan dari tata kelola yang bersih, maka damai di Aceh belum menang,” ujar Humam dalam keterangan tertulisnya.
Karena itu, Humam menyerukan para pemimpin Aceh memandang pemerintahan pascakonflik bukan sebagai kelanjutan perang dengan cara lain, melainkan sebagai kesempatan untuk melayani rakyat.
“Dua puluh tahun lalu dunia membantu Aceh mengakhiri perang. Dua puluh tahun mendatang, sejarah akan mengukur apakah hadiah itu benar-benar menjadi milik rakyatnya,” pungkas pria yang lama terlibat dalam advokasi HAM dan perdamaian pada masa konflik itu.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy