Banda Aceh – PT Hutama Karya (Persero) akan merehabilitasi 11 jaringan irigasi di kabupaten/kota dalam wilayah Aceh. Proyek yang sama juga akan dikerjakan di tiga kabupaten/kota di Provinsi Riau.
Proyek ini merupakan bagian dari Program Optimasi Lahan (Oplah) Kementerian Pertanian untuk mendukung pencapaian swasembada pangan nasional yang diamanatkan dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Penandatanganan kontrak proyek untuk Aceh digelar pada Rabu, 25 Juni lalu, dan dihadiri Kepala Satuan Kerja Non-Vertikal Tertentu Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air (SNVT PJPA) Sumatera I, Azriya, serta PPK Irigasi dan Rawa I, Fajarullah Mufti. Mewakili Hutama Karya, hadir Executive Vice President (EVP) Divisi Sipil Umum, Rizky Agung.
EVP Sekretaris Perusahaan, Adjib Al Hakim menuturkan kedua proyek ini akan mulai dimobilisasi pada minggu pertama Juli 2025 dengan target rampung pada Oktober 2025. Seluruh pendanaan proyek ini bersumber dari APBN 2025.
Menurut Adjib Al Hakim, rehab jaringan irigasi ini merupakan langkah strategis dalam mendorong peningkatan produktivitas pertanian di Aceh dan Riau.
“Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan intensitas tanam dari satu kali menjadi dua kali per tahun, sehingga produktivitas lahan petani dapat meningkat secara signifikan,” ujar Adjib dalam keterangan tertulis diterima Line1.News, Kamis, 3 Juli 2025.
Adjib menyampaikan lingkup proyek di Provinsi Aceh akan mencakup rehabilitasi irigasi pada 11 kabupaten/kota. Sementara di Provinsi Riau, rehabilitasi irigasi akan dilakukan pada 3 kabupaten.
Selain itu, ruang lingkup rehabilitasi mencakup pekerjaan perencanaan detail desain, normalisasi saluran, rehabilitasi bangunan struktur, hingga pergantian pintu air yang rusak. Komponen utama infrastruktur yang direhabilitasi meliputi saluran primer, sekunder, tersier, dan pintu air.
“Rehabilitasi ini akan berdampak langsung bagi sekitar 150 kelompok tani di kedua provinsi, yang tersebar di kurang lebih 150 desa. Dengan pasokan air irigasi yang lebih andal, petani berpeluang meningkatkan intensitas tanam hingga Indeks Pertanaman 2 (IP2),” kata Adjib.
Dalam pelaksanaannya, Hutama Karya akan menggunakan teknologi digital construction untuk mempercepat dan meningkatkan akurasi pekerjaan. Di Aceh akan digunakan teknologi LiDAR untuk pemetaan, sementara di Riau akan menggunakan drone untuk survei dan pemetaan lokasi pekerjaan.
“Kehadiran kedua proyek ini turut mendorong dampak ekonomi di tingkat lokal melalui penyerapan tenaga kerja lokal dengan mempekerjakan masyarakat setempat,” jelas Adjib.
Untuk meminimalkan potensi gangguan terhadap aktivitas pertanian selama konstruksi, Hutama Karya akan melakukan koordinasi rutin dengan petani, pemerintah desa, dan pemangku kepentingan terkait guna menyusun metode kerja yang adaptif di lapangan.
Adjib menambahkan rehab jaringan irigasi ini merupakan investasi strategis dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.
“Dengan meningkatnya produktivitas lahan di Aceh dan Riau, kami optimistis proyek ini dapat memberi kontribusi nyata terhadap pencapaian swasembada pangan 2025, sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo,” ucapnya.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy