Khutbah Idul Adha: Meneladani Ketaatan Ibrahim dan Ismail

Lapak Daging Lhokseumawe Line1News Yasir2
Seorang pria memotong daging di sebuah lapak penjualan daging meugang di Lhokseumawe. Foto: Line1.News/Yasir

Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,

Hari raya Idul Adha tidak sekadar hari raya biasa tetapi peringatan tentang kesabaran paling tinggi. Tepat hari ini, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim As menyembelih Nabi Ismail As.

Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai salah satu kisah kesabaran yang sangat luar biasa untuk kita teladani bersama, sebagaimana firman Allah swt yang artinya:

“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar’.” (QS Ash-Shaffat, [37]: 102).

Ada dua sosok luar biasa dari kisah tersebut. Sosok pertama, ayah yang berserah penuh kepada Allah dengan mengorbankan putranya. Sosok kedua, anak yang menerima takdir dengan sabar dan ikhlas.

Nabi Ibrahim tidak hanya menunjukkan ketaatan sebagai seorang hamba, tapi juga keberanian sebagai seorang ayah yang sanggup menundukkan rasa cintanya kepada sang anak demi patuh kepada Tuhannya. Begitu juga Ismail, keteguhan hatinya memperlihatkan bahwa jiwanya tidak goyah sekalipun diperintah untuk menyerahkan nyawanya.

Namun, apa yang dilakukan keduanya tidak sekadar hubungan antara ayah dan anak biasa. Keduanya adalah manusia pilihan yang berbeda dengan manusia pada umumnya. Maka keteladanan ini bukanlah ajakan agar orang tua bisa meminta apa pun pada anaknya, atau agar anak selalu menuruti tanpa berpikir. Karena pelajaran besarnya adalah tentang kesungguhan iman ketika perintah dari Allah datang dengan jelas, dan pengorbanan terhadap ego pribadi ketika kebenaran sudah nyata.

Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah,

Ketika Nabi Ibrahim telah membaringkan putranya, dan pisau telah siap di tangannya, serta Nabi Ismail telah ridha dan pasrah pada perintah Allah. Pada saat itulah, datang seruan dari Allah swt, bahwa semua itu hanyalah ujian keimanan, dan tidak benar-benar akan mengambil nyawa sang anak.

Kemudian Allah menggantikan Ismail dengan seekor hewan sembelihan yang agung. Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya:

“Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.” (QS Ash-Shaffat, [37]: 105-107).

Inilah ruh dari Idul Adha, yaitu tunduk patuh dan menerima pada apa yang Allah tetapkan sebagaimana yang tercermin dalam diri Nabi Ibrahim, serta ikhlas dan sabar sebagaimana dalam diri Nabi Ismail. Ibrahim tidak hanya semata menyembelih, tapi melepas rasa kepemilikan yang berlebihan, menyembelih ego, menyembelih rasa takut yang menghalanginya dari total patuh kepada Allah.

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini adalah menerima semua takdir dan ketentuan Allah dengan ikhlas dan percaya, bahwa semua itu benar-benar yang terbaik tanpa mengeluh, tanpa marah, dan tanpa memberontak. Karena ketika Ibrahim dan Ismail pasrah dan menerima semuanya, apa yang terjadi? Allah memberikan ganti dari ujian tersebut dan tidak menjadikan Ismail sebagai kurban.

Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah,

Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita arti sejati dari cinta yang tidak melampaui cinta kepada Allah. Nabi Ismail mengajarkan kepada kita makna kesabaran, keikhlasan, dan ridha dalam menerima takdir. Inilah keteladanan yang kita cari dalam diri manusia, yaitu menjadi hamba yang patuh tanpa syarat, dan menjadi manusia yang teguh saat diuji dengan pengorbanan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berserah diri kepada-Nya dalam segala keadaan, dan semoga ibadah kita diterima sebagaimana Allah menerima pengorbanan Ibrahim dan Ismail.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy