Keluarga: Korban Sipil Ledakan Amunisi Bekerja dengan TNI bukan Pemulung

Keluarga korban ledakan amunisi
Keluarga korban ledakan pemusnahan amunisi menangis saat menunggu pemulangan jenazah di RSUD Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (13/05). Foto: Antara/BBC

Bandung – Ledakan amunisi afkir di Garut milik TNI AD pada Senin pagi, 12 Mei 2025, menelan 13 korban jiwa, sembilan di antara mereka warga sipil dan empat lainnya anggota TNI.

Warga sipil yang terlibat dan menjadi korban pemusnahan amunisi tak layak itu mengaku sudah bertahun-tahun bekerja untuk TNI.

Kesaksian mereka bertolak belakang dengan keterangan TNI yang menyebutkan warga sipil korban ledakan itu adalah “masyarakat yang datang untuk ambil sisa-sisa ledakan”.

Seperti diungkapkan Anjas Tajudin yang selamat dari ledakan itu. Dia mengingat bagaimana Rustiawan–salah satu korban meninggal dunia–meminta dirinya mengambil barang-barang yang diperlukan untuk membuat lubang ledakan baru.

“Disuruh bawa [mengambil] tutup drum sama peti karena mau bikin lubang baru, buat bikin ledakan,” kata Anjas dilansir dari BBC News Indonesia, Rabu, 14 Mei 2025.

Permintaan itu hanya beberapa detik sebelum ledakan. Anjas segera naik sepeda motor, dan melaju. Tapi selang beberapa detik dentuman keras menusuk telinganya. Ledakan itu berasal dari lokasi Rustiawan dan belasan orang lainnya berkumpul.

Saat itu, Anjas hanya berjarak sekira 25 meter dari lubang ledakan. “Serpihan tulang sama badan korban itu kena ke punggung saya,” kata Anjas.

Baca juga: Disposal Amunisi Akfir di Garut Renggut Nyawa, TNI Dinilai Tak Kompeten

Ia juga merasakan semburan pasir di punggung.

“Baju saya juga sampai robek bagian belakang. Terbakar ini, menyala,” kata Anjas sambil menunjukkan bagian punggungnya.

Setelah merasa jarak aman, ia melepas bajunya.

“Alhamdulillah, kalau tidak disuruh ambil barang peti sama tutup drum sama Pak Rus, saya juga enggak tahu [nasib saya]”.

Rustiawan juga disebut Anjas sebagai “sudah ahli, sudah senior” dalam hal pemusnahan amunisi.

Video Rustiawan saat ia mengelola beberapa jenis amunisi beredar viral di media sosial.

Anjas menjelaskan, ledakan yang menewaskan rekan-rekannya itu terjadi saat mereka membuat dua lubang baru.

Adapun dua lubang sebelumnya sudah diledakkan—kemungkinan video ledakan ini yang beredar di media sosial.

“Itu jaraknya [dari ledakan sebelumnya] sudah lama, hampir dua jam lebih,” kata Anjas.

Di lokasi pemusnahan itu, Anjas bersama rekan-rekannya bekerja sebagai tukang gali lubang dan angkut barang. Pekerjaan pemusnahan amunisi afkir ini tidak berlangsung setiap hari, tapi tergantung panggilan.

Saat tidak ada pekerjaan pemusnahan amunisi, ayah dua anak ini bekerja sebagai petani. Ia mengaku sudah ikut membantu pemusnahan amunisi afkir sejak 2017.

“Kalau upahnya harian, tergantung, kadang Rp100.000, Rp150.000, Rp200.000. Tergantung banyaknya kerjaan… Pekerjaan biasa dimulai jam 8, istirahat jam 12, pulang jam 4,” katanya.

Ia berharap pemerintah dan pihak terkait memberi bantuan kepada korban dan keluarganya.

“Saya memohon kebijaksanaan dari aparatur pemerintah, yang lainnya untuk yang selamat, terutama untuk korban dan keluarganya.”

Baca juga: Resah, Keluarga Korban Minta Lokasi Peledakan Amunisi TNI AD Dialihkan ke Tempat Lain

Menurut Cici Rusli, istri Rustiawan, suaminya sudah bertahun-tahun dipercaya TNI membantu proses pemusnahan amunisi kedaluwarsa.

Bahkan, kata Cici, Rustiawan sering diundang ke berbagai daerah untuk melakukan hal yang sama, seperti ke Gorontalo dan daerah lain di luar Jawa.

“Bapak sudah dipercaya sama mereka [TNI],” ucapnya.

Masih menurut Cici, pekerjaan pemusnahan amunisi ini setidaknya berlangsung setahun dua kali.

Seorang anak Rustiawan membantah tuduhan bahwa mereka adalah “pemulung”. Bantahan itu disampaikan kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang mendatangi keluarga korban, Selasa, 14 Mei 2025.

“Saya minta pertanggung jawaban, Pak. Karena bapak saya di situ bukan seperti yang orang-orang pikirin. Bapak saya bukan mulung. Bapak saya kerja sama tentara,” kata perempuan yang mengaku sebagai anak Rustiawan kepada Dedi, seperti terlihat di unggahan akun YouTube gubernur konten itu.

Perempuan berhijab hitam itu didampingi sang paman, Agus. Pria 55 tahun ini adalah abang Rustiawan yang mengaku sudah bekerja 10 tahun lebih menangani pemusnahan amunisi afkir.

“Kalau upah, Pak, enggak tahu ya ke sananya. Mungkin kalau ke saya, dari adik saya, cuma Rp150.000 sehari,” katanya.

Di tempat terpisah, otoritas di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, mengatakan warga yang terlibat proses pemusnahan amunisi afkir sudah dipekerjakan TNI selama bertahun-tahun.

“Masyarakat memang dilibatkan dalam proses itu, bukan hanya menggali lubang, tapi dari mulai memilah hingga menyusun,” kata Doni David, pejabat di Desa Sagara seperti dikutip Tribunnews.

Baca juga: 4 TNI 9 Sipil Tewas Saat Pemusnahan Amunisi Kedaluwarsa di Garut

Doni menegaskan, kabar yang beredar soal korban tewas akibat memulung sisa ledakan merupakan informasi yang keliru. Dia menyebut selama ini warga memang dipercaya oleh TNI untuk membantu proses pemusnahan.

“Kami dari pemerintahan desa tidak menerima warga kami dianggap memulung, tidak mungkin memulung karena lokasi tersebut dijaga ketat. Apalagi saat kejadian kan anggota TNI juga jadi korban,” katanya.

Sebelumnya, Kapuspen TNI Brigjen Kristomei Sianturi menduga terjadi ledakan kedua atau susulan meski prosedur sudah dijalankan.

“Mungkin ada ledakan kedua, detonator yang belum meledak,” ujarnya.

Selain itu, Kristomei menduga warga yang menjadi korban sedang berupaya mengumpulkan sisa-sisa logam dari bekas ledakan, seperti serpihan granat dan mortir.

“Memang biasanya apabila selesai peledakan, masyarakat datang untuk ambil sisa-sisa ledakan tadi, apakah serpihan-serpihan logamnya yang dikumpulkan, kemudian tembaga, atau besi, yang memang bekas dari granat, mortir, itu yang biasanya masyarakat ambil logam tersebut,” ujar Kristomei.

Kristomei menduga terdapat bom yang belum sepenuhnya meledak. Akibatnya, ketika warga mendekat, ledakan susulan terjadi dan menelan korban jiwa.

Di sisi lain, Panglima Komando Daerah Militer III Siliwangi Mayjen Dadang Arif Abdurahman, menyampaikan penyelidikan atas insiden ledakan amunisi masih berlangsung.

“Masih investigasi, belum selesai,” ucapnya saat mengunjungi keluarga para korban di RSUD Pameungpeuk.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy