9 Kabupaten-Kota di Aceh Dilanda Banjir, Ini Data BPBA

Warga angkat motor di tengah banjir
Sejumlah warga terpaksa mengangkat sepeda motor yang terjebak banjir merendam badan jalan. Foto: BPBA

Banda Aceh – Sembilan kabupaten dan kota di Aceh ditetapkan berstatus darurat bencana hidrometeorologi atau bencana banjir.

Sembilan kabupaten/kota itu adalah Aceh Utara, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Singkil, dan Aceh Selatan.

Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Fadmi Ridwan mengatakan penetapan status tersebut dikeluarkan oleh masing-masing kepala daerah berdasarkan kondisi terkini yang melanda wilayah setempat.

“Kabupaten yang telah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi yaitu Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, [Aceh] Singkil, Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Aceh Barat,” kata Fadmi, dilansir laman resmi BPBA, Rabu, 26 November 2025.

Baca juga: Lhokseumawe Darurat Banjir, Ini Lokasi Terdampak dan Titik Pengungsian

Adapun kota sudah ditetapkan berstatus darurat banjir antara lain Lhokseumawe dan Langsa.

BPBA menyebut periode 18-26 November 2025, pukul 12.00 waktu Aceh, banjir berdampak terhadap rumah milik 14.235 KK/46.893 jiwa dan 455 KK/1.497 jiwa mengungsi.

Jumlah pengungsi disebut BPBA jauh lebih kecil dibandingkan data versi Pemkab Aceh Utara yang di kabupaten ini saja telah mencapai 3.507 jiwa per Rabu (26/11).

Baca juga: Ayahwa Instruksikan Evakuasi Warga Terjebak Banjir, 3.507 Jiwa Mengungsi

Menurut BPBA, sebagian besar kejadian dipicu curah hujan tinggi, angin kencang, dan kondisi geologi labil yang berdampak pada banjir, tanah bergerak, serta tanah longsor.

Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur wilayah Bireuen pada Minggu siang (23/11) mengakibatkan banjir luapan di beberapa kecamatan.

Menurut laporan Pusdalops BPBD Bireuen, banjir tersebut bermula sekitar pukul 02.00 dinihari ketika hujan turun dengan intensitas cukup tinggi. Air hujan yang mengalir ke saluran drainase tidak dapat tertampung dengan baik. Akibatnya, air meluap ke area sekitar.

Banjir di Bireuen menyebabkan 7 kecamatan tergenang seperti Kecamatan Gandapura (60 KK), Kecamatan Jangka (439 KK/1.382 Jiwa), Kecamatan Juli (38 KK/143 Jiwa), Kecamatan Kuta Blang (1 KK/2 Jiwa), Kecamatan Makmur (38 KK/145 Jiwa), Kecamatan Peudada (19 KK/60 Jiwa), dan Kecamatan Peusangan (361 KK/540 Jiwa).

Di Lhokseumawe, banjir dan longsor pada Rabu (26/11) pukul 08.40. Akibat hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang yang berlangsung terus-menerus pada 20-26 November 2025, menyebabkan genangan, banjir, dan tanah longsor.

Banjir dan longsor di Lhokseumawe terjadi di empat kecamatan seperti, Kecamatan Banda Sakti, Kecamatan Blang Mangat, Kecamatan Muara Dua (100 KK), dan Kecamatan Muara Satu.

Baca juga: BMKG: Siklon Tropis Senyar Picu Hujan Lebat dan Angin Kencang di Aceh

Cuaca ekstrem yang terjadi di Aceh Timur pada Sabtu, 22 November 2025, kembali mengakibatkan banjir dan angin kencang di sejumlah Desa. Hujan dengan intensitas tinggi hingga lebat disertai angin kencang melanda wilayah Aceh Timur.

Debit air yang tinggi dan durasi hujan yang cukup lama menyebabkan saluran drainase di beberapa titik tidak mampu menampung luapan air.

Hujan dan longsor di Aceh Timur terjadi di Kec. Banda Alam (1 KK/3 Jiwa), Kec. Birem Bayeun (5 KK/14 Jiwa), Kec. Darul Ihsan (1 KK/1 Jiwa), Kec. Idi Timur (65 KK/ 260 Jiwa) Kec. Indra Makmur(134 KK/536 Jiwa), Kec. Julok (858 KK/2.564 Jiwa), Kec. Madat (3.194 KK/12.392 Jiwa) Kec. Nurussalam (355 KK/1.253 Jiwa), Kec. Pante Bidari (130 KK/588 Jiwa), Kec. Ranto Peureulak (23 KK/92 Jiwa), dan Kec. Simpang Ulim (124 KK/508 Jiwa).

Laporan Pusdalops BPBA, banjir terjadi akibat hujan dengan instesitas tinggi selama tiga hari terakhir di Langsa menyebabkan banjir genangan. Banjir genangan tersebut merupakan air kiriman dari lahan perkebunan kelapa sawit PTPN 1 Langsa.

Dampak material dari musibah ini terendamnya 110 rumah di Desa Paya Bujok Seulemak. Ketinggian air di beberapa titik dilaporkan mencapai 20-40 cm.

Banjir dan longsor terjadi di beberapa kecamatan seperti Kec. Langsa Barat, Kec. Langsa Barat (150 KK/420 Jiwa), Kec. Langsa Kota, Kec. Langsa Lama, dan Kec. Langsa Timur.

Di Bener Meriah, akibat hujan deras dengan intensitas tinggi yang terus-menerus mengguyur menyebabkan longsor di Desa Pantai Kemuning, Kecamatan Timang Gajah, Rabu (19/11).

Banjir mengenangi 10 kecamatan seperti di Kec. Bandar, Kec. Bener Kelipah, Kec. Bukit, Kec. Gajah Putih, Kec. Mesidah, Kec. Permata, Kec. Pintu Rime Gayo, Kec. Syiah Utama, Kec. Timang Gajah dan Kec. Wih Pesam.

Pusdalops PB BPBA melaporkan banjir di Gayo Lues pada Selasa (18/11). Banjir setidaknya membuat 11 kecamatan terdampak banjir seperti di Kec. Blang Jeurago, Kec. Blang Keujeren, Kec. Blang Pegayon, Kec. Dabun Gelang, Kec. Kuta Panjang, Kec. Pantan Cuaca, Kec. Pining, Kec. Putri Beutung, Kec. Rikit Gaib, Kec. Teuragon, dan Kec. Tripe Jaya.

Intesitas hujan yang tinggi di Aceh Singkil mengakibatkan meluapnya Sungai Lae Cinedang. Banjir merendam beberapa kecamatan seperti, Kec. Danau Paris, Kec. Gunung Meriah (201 KK/766 Jiwa), Kec. Kota Baharu (41 KK/ 170 Jiwa), Kec. Kuala Baru , Kec. Pulau Banyak, Kec. Pulau Banyak Barat, Kec. Simpang Kanan (230 KK/1.024 Jiwa), Kec. Singkil 5.463 KK/19.636 Jiwa), Kec. Singkil Utara ( 83 KK/321 Jiwa), Kec. Singkohor, Kec. Suro (91 KK/ 405 Jiwa).

Di Aceh Utara, erosi tebing sungai dan banjir setinggi ± 30-50 cm di Kecamatan Baktiya (1.156 KK/2.335 Jiwa), Kec. Baktiya Barat, Kec. Banda Baru, Kec. Cot Girek, Kec. Dewantara, Kec. Sawang, Kec. Geureudong Pase, Kec. Kuta Makmur, Kec. Langkahan, Kec. Lapang, Kec. Lhoksukon, Kec. Matangkuli, Kec. Meurah Mulia (24 KK), Kec. Muara Batu (59 KK), Kec. Nibong, Kec. Nisam, Kec. Nsiam Antara, Kec. Paya Bakong, Kec. Pirak Timu, Kec. Samudera, Kec. Seunuddon (566 KK/725 Jiwa), Kec. Simpang Keuramat, Kec. Syamtalira Aron, Kec. Syamtalira Bayu, Kec. Tanah Jambo Aye (219 KK/494 Jiwa), Kec. Tanah Luas dan Kec. Tanah Pasir.

Rumah dan lahan kebun warga terendam banjir wilayah Aceh Selatan pada Sabtu (22/11). Petugas jaga Pusdalops PB BPBD Aceh Selatan menerima laporan dari masyarakat terkait naiknya debit yang kemudian meluap dan menggenangi wilayah permukiman dan lahan warga.

Siap Siaga

Menindaklanjuti surat Menteri Dalam Negeri(Mendagri) Nomor 300.2.8/9333/SJ tanggal 18 November 2025, Bupati dan Wali Kota seluruh Aceh telah diinstruksikan untuk siap siaga potensi bencana hidrometeorologi.

Tindakan yang harus dilakukan pemerintah: aktifkan posko siaga darurat BPBD; evakuasi masyarakat; siapkan logistik darurat; aktifkan layanan kesehatan darurat; pantau data cuaca dan debit air sungai; koordinasi dengan lembaga terkait; dan kaji cepat di daerah yang terdampak dan tetapkan status tanggap darurat.

Tindakan yang harus dilakukan masyarakat: segera evakuasi diri ke tempat yang lebih tinggi; dan matikan listrik, gas dan kompor sebelum evakuasi.

Pemerintah daerah juga diminta segera melakukan pertolongan cepat, pendataan jumlah korban, dan kerugian serta pemenuhan kebutuhan dasar korban terdampak bencana sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang berlaku.

BPBA terus melakukan koordinasi dengan BPBD di berbagai wilayah serta memastikan langkah-langkah penanganan darurat berjalan optimal.

BPBA mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi banjir, tanah bergerak, dan longsor, terutama pada wilayah dengan curah hujan tinggi.

“Mitigasi sederhana seperti membersihkan saluran air, menjauhi lereng saat hujan, serta memantau informasi dari BMKG dan BPBD setempat menjadi langkah penting dalam mengurangi risiko bencana”.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy