1,5 Juta Lebih Umat Islam dari Seluruh Dunia Memulai Ibadah Haji

Jamaah Muslim berdoa di sekitar Ka'bah di Masjidil Haram di Makkah. Foto: AFP/Gulf Today
Jamaah Muslim berdoa di sekitar Ka'bah di Masjidil Haram di Makkah. Foto: AFP/Gulf Today

Makkah – Lebih dari satu juta Muslim sedunia memulai ibadah haji pada Jumat, 14 Juni 2024. Ritual haji tahun ini dilakukan di tengah cuaca musim panas yang sangat menyengat, dan dibayang-bayangi situasi suram Perang Gaza di Palestina.

“Saudara-saudara kita sedang sekarat, dan kita dapat melihatnya dengan mata kepala kita sendiri,” ujar Zahra Benizahra, 75 tahun, dari Maroko, sambil menangis.

Belinda Elham dari Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, mengatakan akan “berdoa setiap hari agar apa yang terjadi di Palestina berakhir”.

Warga Gaza tidak bisa berhaji tahun ini karena sejak Mei lalu Israel menutup jalur penyeberangan Rafah dekat perbatasan Mesir. “Kami dilarang menunaikan ibadah haji karena penutupan penyeberangan dan karena perang serta kehancuran,” ujar Amna Abu Mutlaq, 75 tahun.

“Kami tidak bisa pergi dan setiap kali kami mencoba pergi, mereka memberitahu kami bahwa penyeberangan ditutup dan kami tidak bisa pergi. Mereka merampas segalanya dari kami.”

Namun, otoritas Palestina mengatakan 4.200 orang dari Tepi Barat yang diduduki Israel telah tiba di Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Selain itu, ada juga seribu jamaah lainnya yang merupakan keluarga warga Palestina yang tewas dan terluka dalam perang. Mereka telah berada di luar Gaza sebelum Rafah ditutup. Senin lalu, Raja Salman dari Arab Saudi mengundang mereka untuk menunaikan haji. Salman mengeluarkan keputusan untuk menampung 1.000 jamaah dari keluarga para syuhada dan yang terluka di Jalur Gaza.

Dengan adanya undangan khusus tersebut, jemaah Palestina yang mendapat kehormatan khusus beribadah haji tahun ini menjadi 2.000 orang.

Haji tahun ini spesial bagi jemaah asal Suriah. Setelah lebih dari satu dekade, mereka bisa terbang langsung dari Damaskus ke Makkah untuk pertama kalinya. Situasi ini menjadi pertanda mencairnya hubungan Arab Saudi dan Suriah yang dilanda konflik.

Hal itu berkebalikan dengan apa yang terjadi di Yaman dan Sudan. Perang selama lebih dari satu tahun antara jenderal-jenderal yang bersaing telah menciptakan krisis pengungsian terbesar di dunia.

Tahun lalu, jumlah jemaah haji yang datang lebih dari 1,8 juta orang, setelah Arab Saudi mencabut pembatasan era pandemi dan menghapus batasan usia.

Tahun ini, jemaah haji tahun ini akan beribadah di tengah sengatan suhu tertinggi rata-rata 44 derajat Celsius atau 111 derajat Fahrenheit.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Saudi, Mohammed Al-Abdulali mengatakan ada lebih dari 10 ribu kasus penyakit terkait panas yang terdokumentasi pada tahun lalu. Sebanyak 10 persen di antaranya adalah serangan panas.

Tahun ini, otoritas haji melakukan langkah-langkah mitigasi seperti sistem kabut dan penutup jalan yang memantulkan panas.

Jemaah haji telah dikirimkan pesan teks berisi instruksi agar minum air secara teratur, lebih dari 2 liter setiap hari dan selalu membawa payung, mengingat suhu bisa naik hingga 48 derajat Celcius.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy