Sensasi Naik Bus Listrik Medan: Murah dan Wangi

Bus listrik di Medan
Bus listrik di Medan. Foto: Humas Pemko Medan

Medan – Nisa Yustia berdiri di halte 19 depan kantor Wali Kota Medan, Selasa sore, 27 Mei 2025. Sebuah tas tersampir di pundak kanannya.

Pelajar SMK Negeri 1 itu sedang menunggu bus. Namun, yang ditunggu bukanlah bus konvensional atau angkutan umum lainnya. Nisa sedang menunggu bus listrik, moda transportasi umum yang dihadirkan Pemko Medan sejak Januari 2024.

Dari halte 19, Nisa bakal menumpang bus listrik itu ke halte Lapangan Merdeka lalu lanjut ke halte Padang II di Jalan Letda Sujono. Di sana, ayah Nisa sudah menunggu untuk menjemputnya ke rumah mereka di Lau Dendang.

Sepekan ini, Nisa sedang melaksanakan praktik kerja lapangan di Bagian Kerjasama Setdako Medan. Karena itu, bus listrik menjadi andalan utamanya untuk pergi-pulang dari rumah ke kantor wali kota.

“Kalau pagi dari Lapangan Merdeka saya jalan ke kantor Wali Kota. Tapi kalau pulang, saya dari halte 19 ke Lapangan Merdeka dan lanjut ke halte Padang II. Untuk perjalanan ini saya cukup sekali bayar,” ungkapnya dilansir dari Laman Pemko Medan.

Pemko Medan mulai mengenakan tarif bus listrik sejak Januari 2025. Tarif tersebut sesuai dengan Peraturan Wali Kota Medan Nomor 550/16.K yang diteken Bobby Nasution saat jadi Wali Kota Medan.

Ada dua tarif: reguler untuk masyarakat umum sebesar Rp5 ribu per sekali jalan dan tarif khusus Rp3 ribu per sekali jalan.

Pembayaran dilakukan secara non-tunai. Penumpang bisa menggunakan e-wallet atau dompet digital apapun. Hanya saja, jika dalam 75 menit melakukan perjalanan dua kali atau lebih di rute yang sama bakal dihitung sekali perjalanan.

Tarif khusus diperuntukkan bagi pelajar seperti Nisa. Juga untuk mahasiswa, orang lanjut usia dan penyandang disabilitas. Namun penikmat tarif khusus harus meregistrasi lebih dulu ke Dinas Perhubungan Medan untuk memperoleh kartu.

Tarif itu membuat Nisa tak perlu merogoh kocek hingga Rp7 ribu bila menumpang angkutan umum sekali jalan. Jika pergi-pulang, dia harus merelakan Rp14 ribu keluar dari kantongnya.

“Sedangkan naik bus listrik enam ribu. Lebih menguntungkan naik bus listrik. Hampir lima puluh persen,” ungkapnya.

Nisa mengaku nyaman naik bus listrik yang memiliki pendingin udara. Aroma dalam bus juga wangi dan segar.

“Selain nyaman, waktu tibanya juga tepat. Kita pun bisa memantau keberadaan bus melalui aplikasi,” ucap Siswa Jurusan Akuntansi Keuangan Lembaga tersebut.

Bus listrik hanya berhenti di halte yang telah ditentukan. Bagi Nisa, ini membuatnya merasa aman. Sebab hanya penumpang yang menumpang bus tersebut.

“Supirnya juga ramah. Setiap kita naik selalu disapanya.”

Saat ini terdapat 60 bus listrik yang beroperasi di enam koridor: Amplas, Tembung, Belawan, Pinang Baris, Tuntungan, dan J City.

Infrasko Purba, ASN Pemko Medan yang tinggal di kawasan Amplas, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran bus listrik.

“Apalagi di hari Selasa. PNS Pemko Medan yang tidak diperbolehkan membawa kendaraan ke kantor Wali Kota Medan bisa menggunakan bus listrik,” ujar pegawai Inspektorat Kota Medan itu.

Sejak ada bus listrik, Frasko sudah jarang ke kantor menggunakan sepeda motor.

“Nyaman kita naik bus listrik. Pakai AC, kebersihan terjaga. Juga dari sisi harga sangat terjangkau. Rp5.000 sekali perjalanan. Bagi kita sangat terbantu,” ujarnya.

Frasko mengaku jarang melihat aplikasi untuk mengetahui sudah di titik lokasi mana bus listrik itu berada. Dia sudah hafal kapan bus listrik itu masuk ke Terminal Amplas.

Namun, ia menyarankan trayek bus listrik diperbanyak supaya bisa menjangkau banyak koridor.

“Masih banyak jalan di Medan yang belum dilalui.”[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy