Meureudu – Puluhan anak yatim, piatu, fakir miskin, dan duafa yang tinggal di Yayasan Bustanul Aitam, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, hingga kini masih hidup dalam kondisi serba terbatas.
Pascabanjir melanda kawasan tersebut pada akhir November 2025, anak-anak yang seharusnya mendapat perlindungan dan kasih sayang justru harus bertahan dengan kekurangan makanan, tempat tidur, selimut, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya.
Melansir NU Online, Sabtu, 3 Januari 2026, Yayasan Bustanul Aitam yang terletak di belakang Pasar Keude Ulim itu masih menunjukkan jejak dampak banjir.
Material lumpur masih terlihat di sejumlah sudut bangunan dan halaman yayasan itu. Kondisi ini menunjukkan proses pemulihan belum sepenuhnya tuntas. Adapun aktivitas pengasuhan anak terus berjalan dengan segala keterbatasan.
Kasur dan tempat tidur yang digunakan anak-anak tampak kusam, lembap, bahkan sebagian rusak akibat terendam air. Selimut dan perlengkapan tidur lainnya tidak lagi layak digunakan, sehingga anak-anak terpaksa tidur dalam kondisi kurang nyaman.
Situasi ini berdampak pada kesehatan dan psikologis mereka, terutama di usia yang masih membutuhkan perhatian penuh.
Salah seorang remaja penghuni yayasan menceritakan kondisi sulit yang mereka alami. Dengan suara lirih dan mata penuh harap, ia menyampaikan permohonan sederhana yang sarat makna.
“Kami sangat butuh makanan dan tempat tidur, Pak. Semua perlengkapan yang ada sudah terendam banjir. Tolong bantu kami. Di sini banyak anak yatim, piatu, dan fakir miskin,” ujarnya.
Pengasuh Yayasan Bustanul Aitam, Teungku Nasruddin, Kamis, 1 Januari 2026, membenarkan kondisi tersebut. Dia menjelaskan jumlah anak asuh di yayasan tersebut mencapai puluhan orang dengan latar belakang sosial yang beragam.
Sebagian besar merupakan anak yatim dan piatu, sementara lainnya berasal dari keluarga fakir miskin yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar.
“Anak-anak di sini jumlahnya puluhan orang. Saat ini kami sangat kekurangan makanan, kasur, selimut, dan perlengkapan sehari-hari lainnya. Setelah banjir, banyak fasilitas yang rusak dan belum tergantikan,” ujarnya.
Dia menyebut keterbatasan tersebut juga berpengaruh pada aktivitas belajar anak-anak. Dalam kondisi serba kekurangan, anak-anak tetap berusaha menjalani pendidikan, meski dengan fasilitas yang jauh dari kata memadai.
Padahal, pendidikan merupakan harapan utama agar mereka dapat keluar dari lingkaran kemiskinan di masa depan.
“Kami sangat berharap ada perhatian dari pemerintah, para dermawan, dan donatur. Bantuan sekecil apa pun sangat berarti bagi anak-anak di sini,” tambahnya.
Keprihatinan atas kondisi tersebut juga datang dari Gus Masrur, yang pernah mengemban amanah Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Pidie Jaya. Dia menilai keberadaan yayasan yatim dan duafa seperti Bustanul Aitam merupakan amanah sosial yang harus dijaga bersama.
“Kita sangat berharap penderitaan anak-anak di Yayasan Bustanul Aitam ini segera teratasi. Mereka adalah anak-anak yang dititipkan Allah kepada kita semua. Sudah seharusnya negara hadir, dan masyarakat juga ikut ambil bagian meringankan beban mereka,” katanya.
Menurutnya, kepedulian terhadap anak yatim dan duafa bukan hanya persoalan bantuan materi, tetapi juga wujud tanggung jawab moral dan keagamaan.
Dia berharap semakin banyak pihak yang tergerak untuk membantu, sehingga anak-anak tersebut dapat kembali hidup lebih layak dan menjalani pendidikan dengan tenang.
Pihak Yayasan Bustanul Aitam pun berharap uluran tangan dari berbagai elemen dapat segera terwujud. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar, mereka berharap anak-anak yatim dan duafa yang diasuh dapat kembali tersenyum, tumbuh dengan sehat, dan melanjutkan masa depan mereka dengan lebih baik.[]
Foto
Gambar kiri: Seorang anak di Yayasan Bustanul Aitam, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya. Foto: NU Online


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy