Tapaktuan – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bencana banjir yang melanda tujuh desa di Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, dipicu gelombang Rossby Ekuatorial.
“Gelombang Rossby Ekuatorial merupakan gelombang atmosfer yang bergerak ke arah barat di sekitar ekuator. Gelombang ini juga dikenal sebagai gelombang planet,” ujar Prakirawati Stasiun BMKG Meulaboh-Nagan Raya, Almira Aprilianti, Jumat, 4 April 2025, dilansir dari CNN Indonesia.
Gelombang tersebut, kata dia, bisa menyebabkan aktifnya massa udara sehingga penambahan awan lebih banyak dan berpotensi hujan lebat dengan intensitas sedang hingga lebat.
Selain itu, penyebab tingginya curah hujan di wilayah pantai barat selatan Aceh juga adanya belokan angin atau shearline. Akibatnya, terjadi penumpukan massa udara yang dapat menyebabkan bencana hidrometeorologi selama dua hari ke depan.
Menurut Almira, kondisi anomali suhu muka laut yang hangat di perairan barat Aceh juga dapat meningkatkan potensi penguapan atau penambahan massa uap air.
Baca juga: Tujuh Desa di Aceh Selatan Terendam Banjir
BMKG mengimbau kepada masyarakat agar dapat mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang dan lainnya akibat hujan lebat yang terus-menerus maupun dengan durasi lama.
Banjir di Kluet Tengah terjadi setelah Krueng Manggamat meluap usai hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur wilayah Aceh Selatan sejak pukul 14.30 waktu Aceh pada Kamis sore, 3 April 2025.
Tujuh desa yang terendam banjir hingga Jumat yakni Jambo Papan, Malaka, Simpang Dua, Padang, Koto, Pulo Air, dan Mersak. Bencana tersebut menyebabkan 644 jiwa atau 167 keluarga terdampak.
Menurut BPBD Aceh Selatan, ketinggian air yang merendam permukiman warga di kawasan tersebut berkisar antara 50-80 sentimeter.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy