Wamenag Singgung Banyak yang Taat Saat Susah Tapi Lupa Ketika Nyaman, Itu Kamu?

Wamenang Romo Syafii dalam Majelis Mujahadah
Wakil Menteri Agama RI, Romo H.R. Muhammad Syafi’i, menekankan pentingnya integritas dan amanah jabatan dalam Majelis Mujahadah Inspektorat Jenderal (MMI), Kamis (30/4/2026). Foto: Kemenag

Jakarta – Pernahkah kita merasa begitu khusyuk berdoa saat masalah datang bertubi-tubi, namun mendadak “sibuk” dan lupa bersujud ketika semua urusan berjalan mulus?

Sentilan halus namun mendalam ini disampaikan oleh Wakil Menteri Agama, Romo Muhammad Syafi’i. Ia mengingatkan ujian hidup tidak melulu soal kesulitan atau air mata. Justru, keberhasilan, jabatan, dan kenyamanan seringkali menjadi ujian yang lebih berat bagi integritas seseorang.

“Tidak sedikit yang tetap taat saat susah, tetapi lalai ketika diberi kemudahan. Karena itu, kita harus menjaga fitrah pengabdian kepada Allah,” tegas Romo Syafi’i dalam Majelis Mujahadah Inspektorat Jenderal (MMI), Kamis malam, 30 April 2026, dilansir laman Kemenag pada Jumat (1/5).

Bekerja Adalah Cara “Menjual Diri” kepada Tuhan

Di hadapan ratusan pegawai dan auditor, Wamenag mengajak Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mengubah cara pandang terhadap pekerjaan. Baginya, bekerja bukan sekadar rutinitas birokrasi atau mencari nafkah, melainkan sebuah bentuk ibadah yang total.

“Ketika kita ‘menjual’ diri kepada Allah, maka jabatan, harta, dan kebebasan tidak lagi kita gunakan semau sendiri. Semua harus mengikuti kehendak Allah SWT,” ujarnya.

Ia mengulas kandungan Surah At-Taubah ayat 111 tentang Allah yang “membeli” diri dan harta orang beriman dengan surga sebagai balasan. Menurutnya, ayat tersebut mengandung pesan mendalam tentang penggunaan kebebasan, kekuasaan, dan amanah.

Manusia, lanjut Wamenag, diberi kebebasan dalam menjalani hidup. Namun, kebebasan itu menjadi ujian untuk menentukan apakah seseorang tetap berada di jalan Allah atau justru mengikuti kepentingan dan hawa nafsu.

“Kita bebas memilih, termasuk untuk hadir dalam majelis seperti ini. Harta yang kita miliki juga milik Allah, tetapi kita diberi ruang untuk mengelolanya. Dari situlah Allah menilai pilihan kita,” katanya.

Menjadi Umat yang Dirindukan

Suasana tausiah yang digelar daring tersebut semakin khidmat saat Wamenag mengutip hadis tentang kerinduan Rasulullah SAW kepada umatnya yang hidup jauh setelah masa kenabian. Yaitu mereka yang tidak pernah melihat wajah Rasul, namun tetap teguh menjalankan ajarannya di tengah godaan zaman.

“Mudah-mudahan kita termasuk umat yang dirindukan Rasulullah SAW,” ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris Inspektorat Jenderal, Khoirul Huda Basyir, menambahkan bahwa kegiatan spiritual seperti Majelis Mujahadah ini adalah “bahan bakar” mental bagi para pegawai. Dengan tema “Mujahadah untuk Pengokoh Integritas”, diharapkan para punggawa pengawasan di Kemenag tetap istikamah meski berada di tengah zona nyaman.

Karena pada akhirnya, pilihan untuk tetap jujur dan taat saat berada di puncak adalah pembuktian kualitas iman yang sesungguhnya. Jadi, di posisi manakah kita hari ini? Tetap sujud atau mulai menjauh?[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy