Nabi Yusya’ bin Nun: Murid Nabi Musa yang Memimpin Bani Israil ke Baitul Maqdis

Ilustrasi
Ilustrasi. Foto: Pixabay.com

Nabi Yusya’ ‘alaihissalam merupakan salah satu utusan Allah yang hidup di masa Nabi Musa ‘alaihissalam. Dialah sahabat setia dan murid Nabi Musa yang ikut mendampinginya ketika hendak bertemu dengan Nabi Khidir ‘alaihissalam.

Dikutip dari NU Online, Ustaz Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen menuliskan, meskipun nama Nabi Yusya’ tidak disebut langsung dalam Al-Qur’an, para mufasir menegaskan bahwa dialah “fatâ” (pemuda) yang disebut dalam Surah Al-Kahfi ayat 60: “Ketika Musa berkata kepada muridnya (pembantunya): “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai pertemuan dua laut atau aku akan berjalan (terus-menerus sampai) bertahun-tahun.”

Tafsir ath-Thabari menegaskan “fatâ” tersebut adalah Yusya’ bin Nun, sebagaimana juga dijelaskan dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari mengenai perjalanan Nabi Musa dan muridnya mencari Nabi Khidir.

Imam Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah menyebut Yusya’ memiliki nasab mulia, yaitu keturunan Nabi Yusuf hingga Nabi Ibrahim. Nasab lengkapnya: Yusya’ bin Nun bin Afrayim bin Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khalil.

Sebagian riwayat menyebutkan Yusya’ diangkat menjadi nabi pada masa akhir hidup Nabi Musa. Pendapat ini dikemukakan Imam ath-Thabari dan mufassir lainnya berdasarkan riwayat dari Ibnu Ishaq.

Imam Ibnu Katsir menuliskan: “Adapun riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dan para ahli tafsir lainnya dari Muhammad bin Ishaq, bahwa kenabian dipindahkan dari Musa kepada Yusya’ pada akhir hayat Musa. Musa sering mendatangi Yusya’ dan bertanya kepadanya tentang wahyu Allah berupa perintah dan larangan. Hingga suatu ketika Yusya’ berkata: ‘Wahai Kalimullah, dulu aku tidak pernah menanyakan kepadamu tentang wahyu yang Allah turunkan, sampai engkau sendiri yang menceritakannya kepadaku.’ Maka saat itulah Musa mulai tidak menyukai kehidupan dan mencintai kematian.”

Namun, menurut Imam Ibnu Katsir, riwayat itu perlu ditinjau kembali. Sebab, menurut data yang kuat, Nabi Musa tetap menerima wahyu langsung dari Allah hingga wafatnya. Ia menyimpulkan, jika memang riwayat itu benar berasal dari Ibnu Ishaq, kemungkinan besar sumbernya adalah cerita-cerita ahli kitab.

Setelah Musa dan Harun wafat, Yusya’ bin Nun memimpin Bani Israil. Mayoritas ulama berpendapat Nabi Harun wafat dua tahun sebelum Nabi Musa.

Imam Ibnu Katsir mencatat: “Harun wafat di padang Tih sebelum Musa, saudaranya, sekitar dua tahun lebih awal. Setelah itu Musa pun wafat di padang Tih sebagaimana telah disebutkan. Musa sempat memohon kepada Allah agar didekatkan ke Baitul Maqdis, dan permohonannya dikabulkan. Maka yang membawa Bani Israil keluar dari padang Tih dan memimpin mereka menuju Baitul Maqdis adalah Yusya’ bin Nun. Ahli kitab dan para sejarawan menyebutkan Yusya’ menyeberangkan Bani Israil melewati Sungai Yordan hingga sampai ke kota Yerikho (Ariha), salah satu kota paling kuat pertahanannya, paling tinggi bangunannya, dan paling padat penduduknya. Yusya’ mengepung kota tersebut selama enam bulan.”

Padang Tih terletak di antara Mesir dan Palestina, umumnya diyakini berada di sekitar Semenanjung Sinai (Gurun Sinai). Di tempat inilah Bani Israil tersesat selama 40 tahun setelah diselamatkan Allah dari kejaran Fir’aun.

Peristiwa itu terjadi karena mereka menolak perintah Allah untuk memasuki dan membebaskan Baitul Maqdis dari kaum yang kejam dan bengis. Mereka takut menghadapi kekuatan kaum tersebut, bahkan berkata: “Wahai Musa! Kami tidak akan pernah memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap menunggu di sini saja,” (Q.S. Al-Maidah: 24).

Mendengar itu, Nabi Musa berdoa agar dipisahkan dari kaum fasik tersebut. Allah pun berfirman: “(Jika demikian) maka (negeri itu) terlarang bagi mereka selama empat puluh tahun. (Selama itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Maka janganlah engkau bersedih hati terhadap kaum fasik itu,” (Q.S. Al-Maidah: 26).

Kata “Tih” memiliki kesamaan dengan kata “yatîhûna” (mereka mengembara kebingungan) dari ayat tersebut. Artinya, mereka benar-benar berputar-putar tanpa arah selama 40 tahun hingga generasi penentang perintah Allah habis, lalu digantikan generasi baru yang dipimpin Nabi Yusya’ bin Nun.

Sayyidina Ibnu ‘Abbas ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Mereka berkelana di bumi selama 40 tahun. Setiap hari mereka berjalan tanpa pernah menetap. Allah menaungi mereka dengan awan di padang Tih, dan menurunkan manna dan salwa untuk makanan mereka. Lalu wafatlah Harun ‘alaihissalam, kemudian tiga tahun setelahnya wafat Musa Kalimullah ‘alaihissalam. Allah mengangkat Yusya’ bin Nun sebagai nabi dan khalifah menggantikan Musa bin ‘Imran. Kebanyakan Bani Israil meninggal di tempat itu selama masa tersebut.”

Setelah masa hukuman 40 tahun tahun berakhir, Nabi Yusya’ memimpin generasi baru Bani Israil keluar dari padang Tih. Mereka menyeberangi Sungai Yordan menuju Ariha. Nabi Yusya’ mengepung kota ini dan menaklukkannya.

Setelah itu, ia menaklukkan kota demi kota hingga mendekati Baitul Maqdis. Disebutkan, Nabi Yusya’ berhasil mengalahkan 31 kerajaan di wilayah Syam dalam ekspedisi menuju Baitul Maqdis.

Sesampainya di Baitul Maqdis, Nabi Yusya’ mengepung kota tersebut pada hari Jumat menjelang Asar. Jika matahari terbenam, sudah masuk hari Sabtu, yang saat itu wajib digunakan hanya untuk beribadah. Karena itu Nabi Yusya’ berdoa: “Engkau (matahari) diperintahkan, dan aku pun diperintahkan. Ya Allah, tahanlah matahari untukku.”

Maka Allah menahan matahari hingga kota itu berhasil ditaklukkan. Rasulullah SAW bersabda: “Matahari tidak pernah ditahan untuk seorang manusia pun kecuali untuk Yusya’ ketika ia berjalan menuju Baitul Maqdis,” (H.R. Ahmad).

Setelah memasuki kota, Nabi Yusya’ dan pengikutnya mengalahkan qauman jabbarin (kaum perkasa dan bengis) yang selama ini ditakuti Bani Israil. Para mufassir menjelaskan kaum ini memiliki fisik besar, kejam, dan suka memperbudak bangsa lain. Dalam Tafsir ath-Thabari disebutkan: “Karena dahsyatnya kekuatan dan besarnya fisik mereka, sebagaimana diriwayatkan, mereka telah menundukkan seluruh bangsa lain selain mereka.”

Allah memerintahkan Bani Israil memasuki kota itu dengan rendah hati dan penuh syukur, seraya mengucapkan “hitthah” (ampunilah dosa kami). Namun sebagian dari mereka mengganti ucapan itu dan berbuat zalim, sehingga mereka mendapat balasan dari Allah.

Setelah kaum zalim itu dibinasakan, Baitul Maqdis dibangun kembali oleh Nabi Yusya’ bersama orang-orang saleh dari Bani Israil. Ia memimpin dengan hukum Allah. Dari sinilah cikal bakal kerajaan besar yang kelak dipimpin Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Dengan demikian, Nabi Yusya’ bin Nun merupakan peletak dasar kemajuan Bani Israil di Tanah Suci.

Menurut perkiraan Imam Ibnu Katsir, Nabi Yusya’ wafat pada usia seratus dua puluh tujuh tahun, sekitar dua puluh tujuh tahun setelah wafatnya Nabi Musa.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy