Jakarta – Sering mendengar ungkapan “uang bukan segalanya”? Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), K.H. Cholil Nafis, punya perspektif menarik soal ini. Menurutnya, meski harta bukan tujuan akhir, faktanya hampir seluruh pelaksanaan syariat Islam membutuhkan dukungan finansial.
“Harta bukan segalanya, melainkan segalanya membutuhkan harta. Itulah mengapa Islam memandang harta sebagai sesuatu yang penting,” tegas Kiai Cholil, Jumat (27/3), dikutip dari MUI Digital pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Kiai Cholil menjelaskan bahwa manusia secara alami adalah makhluk ekonomi yang tidak bisa lepas dari kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi. Namun, Islam memberikan batasan tegas: harta adalah sarana, bukan tujuan hidup.
Kapan Harta Jadi Berkah atau Musibah?
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, ini membagi harta menjadi dua “wajah” yang sangat berbeda:
Harta Terpuji: Harta yang diperoleh dengan cara halal dan digunakan untuk kebaikan, seperti zakat, haji, sedekah, hingga membantu sesama.
Harta Tercela: Harta yang didapat dengan jalan yang tidak benar (batil) dan digunakan untuk kemaksiatan atau sekadar menumpuk kekayaan pribadi.
“Harta akan menjadi petaka dan fitnah jika diperoleh dengan cara tidak halal. Ingat, setiap umat memiliki cobaan, dan cobaan umat Rasulullah SAW adalah harta,” tambahnya mengutip hadis riwayat Turmudzi.
Ekonomi yang Berakar pada Rohani
Lebih lanjut, Kiai Cholil menekankan bahwa ekonomi dalam Islam tidak melulu soal mengejar profit atau fisik semata. Ada dimensi etika dan nilai kemanusiaan yang harus terpenuhi.
“Ekonomi dalam pandangan Islam juga harus dapat memenuhi kebutuhan rohani. Karenanya, harta itu baik dicari untuk sarana ibadah, namun jangan sampai terlalu dicintai hingga menjadi tujuan hidupnya,” tegas CEO Amanah Zakat tersebut.
Sebagai pengingat, Kiai Cholil juga mengutip firman Allah SWT dalam QS At-Taghabun ayat 15 yang menegaskan bahwa harta dan anak-anak hanyalah cobaan, dan pahala yang besar hanya ada di sisi-Nya.
Baca juga: Bukan Cuma Soal Cuan, Kiai Cholil Nafis Ungkap Beda Tajam Ekonomi Syariah vs Kapitalis.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy