Melihat Tradisi Debat dalam Sejarah Intelektual Islam

In The Madrasa karya Ludwig Deutsch
In The Madrasa karya Ludwig Deutsch

Berabad-abad sebelum berinteraksi dengan karya dialektika Aristoteles, umat Islam telah mempraktikkan budaya perdebatan. Mereka menggambarkan tradisi argumentatif ini dengan berbagai konsep, seperti al-hija’ (satire) dan al-naqa’iḍ (flytings/kompetisi dalam puisi), mujādalah (polemik) dalam konteks Qur’an, khilāf (disagreement/perbedaan pandangan), dan jadal (dialectical/debat) dalam ilmu hukum dan teologi.

Pengaruh Aristoteles terhadap intelektual Muslim dimulai saat para sarjana–terutama teolog (mutakallimūn)–pertama kali menghadapi karya dialektika Aristoteles. Khalifah al-Mahdi memerintahkan untuk menerjemahan buku Aristoteles “Topics” pada tahun 165/782.

Ia juga meminta para teolog Muslim merespons argumen golongan heretik (pelaku bidah) dan skeptis (para filsuf) dengan mengintegrasikan dialektika atau jadal dalam praktik dan karya ilmiah mereka. Tujuannya hanya satu: membela akidah Islam.

Abu al-Hasan Ahmad ibn Yahya ibn Ishaq al-Rawandi atau Ibn Riwandi, seorang teolog terkemuka, menulis risalah berjudul Adab al-Jadal pada akhir abad ketiga atau awal abad keempat. Setelah itu, tulisan-tulisan jadal teologis lainnya muncul, baik untuk mengkritik atau membela Riwandi.

Tulisan-tulisan tersebut lebih fokus pada pengembangan teori jadal, dengan tujuan mencapai kebenaran, mengalahkan lawan, atau membela posisi teologis tertentu dari tantangan eksternal.

Beberapa teolog yang menulis tentang jadal termasuk Abu Mansur al-Maturdi, Ibn Wahb al-Katib, al-Mutahhar Tahir al-Maqdisi, Abu Bakr Muḥammad Ibn Furak, Ibn Hazm, dan al-Khatib al-Baghdadi. Periode ini mencerminkan perkembangan yang signifikan dalam penggunaan dan pemahaman jadal di kalangan intelektual Muslim, menandai tahap awal dalam formulasi teori jadal mereka sendiri.

Pengembangan karya tentang jadal oleh para teolog Muslim, meskipun mencakup tujuan apologetik, memiliki klaim normatif bahwa jadal dapat mencapai kebenaran. Dalam hal ini, para teolog Islam berusaha membedakan tujuan dialektika mereka dari dialektika Aristoteles. Jika tujuan dialektika Aristoteles adalah untuk menunjukkan kontradiksi dalam penalaran lawan agar seseorang bisa memenangkan perdebatan, para sarjana Islam menyatakan tujuan mereka melalui pengembangan praktik dan teori jadal adalah untuk mencapai kebenaran.

Demi mencapai kebenaran, para teolog Muslim memodifikasi pertanyaan-pertanyaan dialektika Aristoteles, yaitu pertanyaan “ya” atau “tidak” yang bersifat membatasi (erotema), menjadi pertanyaan yang lebih terbuka (pusma) yang memerlukan jawaban lebih panjang.

Selain itu, mereka beralih dari pertanyaan logis yang menilai validitas logis lawan menjadi pertanyaan epistemik yang mencari pengetahuan dan buktinya. Dengan demikian, pendekatan ini mencerminkan upaya para sarjana Muslim untuk mencapai kebenaran substantif melalui penerapan jadal.

Para sarjana Islam tidak sepakat bila jadal yang merupakan jalan mencari kebenaran menggunakan cara-cara yang nir-adab. Jadal yang memiliki motif-motif nir-etika ini biasanya tumbuh dalam genre teologis ketimbang hukum.

Abu Bakr al-Qaffal al-Syasyi lantas membedakan antara “jadal terpuji” yang tujuannya mencari kebenaran; dan “jadal tercela” yang hanya bertujuan untuk menang. “Jadal yang terpuji” merupakan cara yang tepat dalam mencapai kebenaran yang substantif; sementara “jadal yang tercela” hanya akan berujung pada permusuhan yang kontraproduktif.

Para ulama kemudian menulis buku tentang aturan “jadal yang terpuji” dalam konteks wacana hukum. Selain al-Qaffal al-Syasyi, ada Abu al-Husayn al-Saymiri, Ibn Hazm, Abu al-Walid al-Baji, Abu Bakr al-Khaffaf, Abu Ishaq al-Syirazi, dan Abu al-Wafa’ ‘Aqil. Pengembangan teori jadal pada periode ini mencapai puncaknya dengan kehadiran Imam al-Haramayn al-Juwayni.

Al-Juwayni bukan hanya seorang ahli fikih (faqih), tapi juga seorang teolog (mutakallim) yang menulis risalah teologi berpengaruh seperti kitab al-Irsyad dan al-Syamil fi usul al-din. Ia mengikuti mazhab Syafi’i dalam fikih (hukum) dan mazhab Asy’ari dalam kalam (teologi).

Al-Juwayni merumuskan teori dialektika yang terorganisir secara sistematis dalam al-Kafiyah fi al-jadal, yang kemudian juga diterapkan dalam karya-karya kalam dan fikihnya. Dalam konteks ini, sebagai seorang faqih dan mutakallim, Imam al-Haramayn menggunakan “jadal yang terpuji” baik dalam pengaturan hukum maupun teologi.

Al-Juwayni mendefinisikan jadal (baik dalam pembahasan fikih maupun teologi) sebagai “jadal yang bertujuan mencari kebenaran dan mengungkap kebohongan, bercita-cita mendapatkan petunjuk ilahi, bersama mereka yang ingin kembali kepada kebenaran dari kebatilan”. Kebenaran, kata Imam al-Haramayn, adalah al-tsubut (kepastian atau keyakinan). Tingkat al-tsubut yang dihasilkan dari proses jadal adalah “keyakinan yang lebih kuat” (ghalabat al-ẓann), yaitu adanya kepastian epistemologis (qat’i) dan kepastian psikologis (al-yaqin).

Dengan kata lain, meskipun dialektika Aristoteles memiliki pengaruh terhadap para sarjana Islam pada Abad Pertengahan, namun mereka mampu memodifikasinya agar sesuai dengan kepentingan umat Islam. Mereka sukses mengembangkan gagasan “jadal yang terpuji” yang tidak bertujuan untuk mengalahkan pihak lawan secara retoris dengan maksud memperoleh ketenaran, kekayaan, atau prestise. Dalam Islam, tradisi jadal diarahkan pada usaha untuk memperoleh kebenaran. Dengan konteks ini, kebenaran yang diupayakan mencakup dimensi epistemik dan psikologis.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy