Gaza – Israel membunuh 91 orang di Gaza, 24 di antaranya anak-anak dalam sebuah serangan masif tadi malam, Selasa, 28 Oktober 2025.
Serangan itu disebut dipicu tewasnya seorang anggota pasukan zionis dalam baku tembak di Rafah, Gaza bagian selatan–walaupun klaim ini belum bisa dipastikan kebenarannya. Namun, pembunuhan ini diperintahkan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu.
Israel menyerang dengan jet tempur, drone, dan pesawat pengintai. Al Jazeera melaporkan suasana di Gaza kini penuh dengan kepanikan dan keputusasaan.
Saat serangan dimulai, ledakan bergema sepanjang malam, menggemparkan seluruh lingkungan permukiman, menerangi langit, dan menimbulkan lebih banyak ketakutan.
Dari 42 orang yang terbunuh di Gaza tengah, 18 orang berasal dari satu keluarga. “Tiga generasi tewas dalam satu serangan di rumah mereka – anak-anak, orang tua mereka, dan kakek-nenek mereka,” tulis media tersebut.
Sementara di rumah sakit, koridor-koridor dipenuhi tandu, keluarga-keluarga yang berduka, dan mereka yang selamat dari serangan duduk lesu dengan darah bersimbah di tubuhnya.
Tak hanya serangan, penangkapan juga terus dilakukan pasukan zionis yang melanggar kesepakatan gencatan senjata. Kantor berita Wafa melaporkan, sembilan warga Palestina ditangkap di tiga lokasi di Tepi Barat yang diduduki.
Selama serangan tersebut, lima warga Palestina juga ditangkap di pinggiran kota Aktaba, timur Tulkarem. Sedangkan seorang lainnya ditangkap di kota Kafr Qallil, selatan Nablus. Tiga pria juga ditangkap di Azzun, sebuah kota di timur Qalqilya.
Sebelum serangan, pasukan zionis juga menggerebek kamp pengungsi Dheisheh di Betlehem, menangkap sekitar 50 warga Palestina. Banyak dari mereka yang ditangkap baru saja dibebaskan dari tahanan Israel.
Di kota Kafr Qud, Tepi Barat, militer zionis menyerang sebuah mobil setelah tiga warga Palestina meninggal dunia akibat tembakan Israel di Jenin, Tepi Barat utara, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Sementara di utara Ramallah, sekelompok pemukim Israel membakar kendaraan milik warga Palestina di desa Atara tadi pagi waktu setempat.
Mouin Rabbani, peneliti nonresiden di Pusat Studi Konflik dan Kemanusiaan, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Israel tidak pernah benar-benar memenuhi komitmen gencatan senjata.
“Ada gencatan senjata, tetapi Israel telah membunuh lebih dari 100 warga Palestina,” ujarnya.
Israel, kata Rabbani, juga belum menarik diri dari garis yang disepakati di Gaza. Mereka bahkan tidak mengizinkan jumlah bantuan yang disepakati untuk masuk ke Gaza.
“Sekarang, mereka menggunakan dalih ini, di satu sisi, mencegah masuknya peralatan berat yang dibutuhkan untuk mencari jenazah di bawah 61 juta ton puing dan penundaan yang sudah diperkirakan sebelumnya dalam upaya menemukan jenazah-jenazah tersebut sebagai alasan untuk mengikis perjanjian,” ujarnya.
“Masalah utama di sini sekarang adalah bagaimana Amerika Serikat akan … merespons.”
Amerika jelas membela Israel. Presiden Donald Trump menormalisasi serangan mematikan itu dan balik menyalahkan Hamas.
“Setahu saya, mereka (Hamas) menembak mati seorang tentara Israel. Jadi, Israel membalas dan mereka seharusnya membalas. Ketika itu terjadi, mereka seharusnya membalas,” ujarnya di atas pesawat Air Force One saat ia melakukan perjalanan dari Jepang ke Korea Selatan.
Trump juga menyepelekan pembunuhan warga dan anak-anak Palestina oleh Netanyahu itu.
“Tidak ada yang akan membahayakan gencatan senjata. Anda harus memahami bahwa Hamas hanyalah bagian kecil dari perdamaian di Timur Tengah, dan mereka harus bersikap baik.”
“Jika mereka (Hamas) baik, mereka akan bahagia, dan jika mereka tidak baik, mereka akan dimusnahkan, nyawa mereka akan dimusnahkan,” kata Trump.
“Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada [seorang] tentara Israel [yang tewas], tetapi mereka (Israel) mengatakan itu adalah tembakan penembak jitu. Dan [serangan] itu adalah pembalasan atas perbuatannya, dan saya pikir mereka (Israel) berhak melakukan itu.”
Namun, Hamas membantah bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan Israel di Rafah. Mereka mengatakan tidak terlibat dalam serangan itu dan tetap berkomitmen pada kesepakatan gencatan senjata.
Sebelumnya, sayap bersenjata Hamas, Brigade Qassam, mengatakan akan menunda rencana penyerahan jenazah seorang tawanan yang hilang bila Israel terus melanggar kesepakatan.
Mereka memperingatkan bahwa setiap serangan Israel akan menghambat operasi pencarian, penggalian, dan pengambilan jenazah, yang berdampak tertundanya pemulihan jenazah dari 13 tawanan Yahudi yang tersisa di Gaza.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy