Permintaan Luar Negeri Membeludak, Harga Gabah Kopi Gayo Lues ‘Nikmat’ di Rp69 Ribu

penjemuran gabah kopi Arabika Gayo Lues kualitas tinggi untuk ekspor.
Gabah kopi Arabika atau kopi Gayo saat dijemur oleh petani di Blangkejeren. Foto: Dok. Psc/AS

Blangkejeren – Komoditas kopi Arabika di Kabupaten Gayo Lues menunjukkan tren positif pasca-Lebaran Idulfitri 2026. Meski sempat fluktuatif akibat bencana alam akhir tahun lalu, kini harga gabah kopi Gayo kembali stabil di level tertinggi dan membawa angin segar bagi para petani.

Informasi dari tauke dan petani kopi Blangkejeren, Minggu, 29 Maret 2026, harga gabah kopi berkualitas tinggi kini Rp69.000 per bambu. Angka ini merangkak naik dari hari sebelumnya yang berada di level Rp68.000.

Musdar Aman Indah, pemilik UD. Indah Kopi di Desa Porang, Blangkejeren, mengonfirmasi tren kenaikan ini dipicu oleh tingginya permintaan pasar global. “Kemungkinan harga akan terus naik meskipun saat ini sudah di angka tertinggi,” ujarnya kepada wartawan.

Dia pun berpesan agar momentum harga tinggi ini dibarengi dengan konsistensi petani dalam menjaga kualitas hasil panen. “Kualitas adalah kunci agar harga kopi Gayo tetap melambung tinggi [di pasar dunia],” pungkasnya.

Kilas Balik: Bangkit dari Keterpurukan Pascabencana

Kenaikan harga di angka Rp69.000 ini menjadi pencapaian penting mengingat sektor kopi Gayo Lues sempat terpukul akibat banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025. Kala itu, akses transportasi yang terputus membuat tauke (pengepul) kesulitan membawa kopi keluar daerah.

Junaidi, salah seorang petani kopi Gayo di Blangkejeren pada awal Februari 2026, mengatakan harga gabah kopi pada masa awal pascabanjir dan longsor sempat anjlok ke angka Rp23.000 per bambu.

Namun, perlahan beberapa pekan kemudian harga kembali naik ke Rp55 ribu, Rp60 ribu, hingga sempat menyentuh Rp73 ribu per bambu saat stok terbatas pada Februari 2026 akibat banyak kebun yang tertimbun longsor.

Harapan Baru bagi Petani Muda

Optimisme terhadap masa depan kopi Gayo bukan sekadar isapan jempol. Junaidi mengajak generasi muda dan masyarakat yang memiliki lahan untuk tidak ragu kembali ke kebun.

“Bagi masyarakat Gayo Lues yang ingin menanam kopi, masih belum terlambat. Dari tahun ke tahun, harga kopi terus naik dan volume ekspor meningkat. Jika kita konsisten menjaga kualitas, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan harga gabah kopi di Gayo Lues benar-benar menembus angka Rp100.000 per bambu,” pungkas Junaidi penuh harap.

Momentum kenaikan harga ini menjadi pengingat bahwa di balik pahitnya bencana banjir dan longsor yang lalu, selalu ada kemanisan ‘nikmat’ yang menanti bagi mereka yang telaten merawat tanaman kopi dari Tanah Gayo.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy