Dua WNI Masuk Red Notice Interpol Terkait Perdagangan Orang Berkedok Program Mahasiswa Magang

Iklan Ferienjob Program in Germany di salah satu media sosial. Foto: Tempo
Iklan Ferienjob Program in Germany di salah satu media sosial. Foto: Tempo

Jakarta – Dua Warga Negara Indonesia (WNI) Amisulistiani atau Ami Ensch dan Enik Rutita atau Enik Waldkonig, masuk dalam red notice International Criminal Police Organization (Interpol). Keduanya tersangka dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) terhadap mahasiswa Indonesia yang magang di Jerman.

“Sudah terbit [red notice], sedang dikomunikasikan dengan Otoritas Jerman,” ujar Kepala Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri Inspektur Jenderal Krishna Murti, Kamis, 6 Juni 2024.

Ami merupakan bos PT CVGEN, sedangkan Enik bos PT Sinar Harapan Bangsa. Mereka saat ini berada di Jerman.

Sangkaan TPPO terhadap Ami dan Enik berhubungan dengan pengiriman mahasiswa Indonesia di Jerman untuk mengikuti program magang. Kebetulan pada saat bersamaan pemerintah Jerman mengadakan program ferienjob, yaitu program kerja untuk pelajar dan mahasiswa selama libur kuliah.

Diduga, para tersangka memanfaatkan program pemerintah Jerman itu untuk mendapat keuntungan.

Penyidik telah berkali-kali mengundang Ami dan Enik untuk diperiksa. Namun karena mereka tak kunjung memenuhi undangan, polisi memasukkan keduanya dalam daftar pencarian orang (DPO).

Polri juga menyorot peran sejumlah pejabat di puluhan universitas dalam kasus perdagangan orang itu. Bahkan dua dosen Universitas Negeri Jakarta, MZ dan AJ, sudah ditetapkan menjadi tersangka. Begitu juga dengan guru besar Universitas Jambi Siholl Situngkir. Mereka diduga terlibat secara aktif mempromosikan dan mengirim mahasiswanya magang ke Jerman.

Dari hasil penyelidikan diketahui, para tersangka saling berbagi peran untuk program pengiriman mahasiswa ke Jerman ini. Mulai dari membuat surat keterangan untuk mengikuti kuliah jarak jauh hingga meminjamkan uang jaminan. Faktanya, selama tiga bulan mahasiswa bekerja di Jerman tidak ada perkuliahan daring.

Para tersangka diduga secara aktif mengajak berbagai universitas untuk mengikuti program magang Ferienjob ini. Mereka mengklaim program tersebut sudah resmi menjadi bagian dari program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka dan dapat konversikan menjadi 21 Satuan Kredit Semester.

Para tersangka tidak memberi informasi secara gamblang kepada mahasiswa tentang bentuk pekerjaan yang akan dilakoni selama di Jerman.

Ferienjob bukan Magang Pendidikan

April tahun lalu, Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Judha Nugraha mengungkapkan, ferienjob diikuti oleh 1.047 mahasiswa dari 33 kampus di Indonesia.

Menurut Judha, ferienjob tidak didesain untuk program magang pendidikan. “Ferienjob sendiri artinya adalah bekerja semasa libur kuliah, ditujukan untuk menambah uang saku pelajar dan mahasiswa selama libur kuliah,” ujar Judha, 3 April 2024.

Ferienjob, tambah Judha, diarahkan untuk mengisi kekurangan tenaga kerja di sektor-sektor kerja fisik. Karena itu, program diarahkan selama mahasiswa di Jerman libur kuliah. Mahasiswa tidak boleh dipekerjakan selama masa kuliah.

Namun, agensi yang memberangkatkan mahasiswa dari Indonesia justru menawarkannya sebagai program pendidikan. “Di satu sisi program itu resmi dari Pemerintah Jerman, namun informasi yang disampaikan kepada pihak mahasiswa itu salah karena tidak ada kaitannya dengan program Magang Merdeka,” ucap Judha.

Judha menjelaskan, mulanya, KBRI Berlin menerima pengaduan dari empat mahasiswa pada Oktober 2023. Mahasiswa tersebut berada di Jerman sebagai peserta ferienjob. Mereka mengadu merasa ditipu karena dijanjikan magang pendidikan di Jerman. Namun, sesampainya di Jerman, para mahasiswa ternyata diminta melakukan pekerjaan kasar, antara lain sebagai kuli angkut di pusat-pusat kota.

Berdasarkan laporan tersebut, KBRI Berlin lalu berkoordinasi dengan KJRI Frankfurt. KJRI kemudian melakukan pendalaman untuk melihat seberapa dalam kasus ini. “Total mahasiswa yang berangkat ferienjob ada 1.047 berasal dari 33 kampus,” ungkap Judha. Saat ini, seluruh mahasiswa itu sudah kembali ke Indonesia karena ferienjob berakhir pada Desember 2023.

KBRI Berlin juga sudah berkoordinasi dengan Badan Ketenagakerjaan Jerman untuk mendorong adanya investigasi terhadap kasus ini. Otoritas Jerman lantas melakukan wawancara terhadap beberapa korban.

Di Indonesia, Bareskrim Polri sudah menerapkan lima orang tersangka. Lima orang tersebut merupakan WNI, dan dua di antaranya masih berada di Jerman, yakni Ami dan Enik.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy