Cak Imin: Jemaah Haji Indonesia Tidur Berimpitan Kayak Sarden

Cak Imin saat sidak ke Mina. Foto: twitter.com/cakimiNOW
Cak Imin saat sidak ke Mina. Foto: twitter.com/cakimiNOW

Makkah – Ketua Tim Pengawas Haji DPR RI Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin mengatakan jemaah haji Indonesia tidur berhimpitan seperti sarden. Bahkan, para jemaah tidur di lorong sempit antar tenda.

Ucapan itu muncul dalam postingan di akun X Cak Imin (@cakimiNOW), saat Wakil Ketua DPR RI itu melakukan inspeksi mendadak atau sidak ke tenda-tenda jemaah haji Indonesia di Mina.

“Mengintip jamaah tidur berhimpitan kayak sarden dan di lorong sempit antar tenda,” cuit Cak Imin di unggahan yang memuat beberapa foto kondisi tenda jemaah haji Indonesia di Mina. Di foto-foto itu terlihat Cak Imin berdialog bersama para jemaah haji. Ada juga yang mengajaknya foto bersama.

Mengutip laman DPR RI, dalam sidak itu Cak Imin menemukan fakta bahwa jumlah jemaah tidak sesuai dengan kapasitas tenda.

“Satu orang hanya mendapat tempat tidur tidak sampai satu meter. Mana bisa tidur? Akhirnya tidur di lorong. Ini tidak boleh terulang,” ujar Cak Imin saat berada di salah satu tenda jemaah haji asal Bogor, Jawa Barat, Senin tengah malam waktu Arab Saudi, dikutip Rabu, 19 Juni 2024.

Selain masalah kapasitas tenda, Ia juga menyoroti ketidakadilan dalam pembagian luas tenda. “Ada tenda yang berlebihan luas dan leluasa. Ini tidak adil. Pembagian yang salah ini harus diperbaiki. Ke depan, setiap tenda harus memiliki ukuran per orang yang standar per nama, seperti di hotel,” ujar Cak Imin.

Dia juga menyoroti rasio kamar mandi yang tidak imbang, menyebabkan jemaah harus mengantre hingga dua jam, bahkan ada yang pingsan.

“Rasio kamar mandi harus dihitung ulang. Kebersihan juga tidak terjaga. Mengapa untuk wudhu harus menggunakan wastafel? Seharusnya wudhu biasa saja. Ini semua soal biaya, baik biaya yang dikeluarkan oleh jemaah maupun oleh negara,” ujarnya.

Menurut Cak Imin, harus ada negosiasi ulang dan penataan ulang agar para jemaah nyaman, sebab di Mina hanya dua hari.

Selain itu, ia juga menemukan fasilitas ramah lansia dan difabel masih belum memadai. “Memang ada kamar mandi untuk difabel, tapi jumlahnya sangat sedikit dan tidak sebanding dengan rasio jemaah lansia dan difabel. [Tagline] Haji Ramah Lansia jangan hanya kampanye, tapi harus betul-betul diterapkan. Rasio kamar mandi harus dihitung berdasarkan jumlah lansia dan difabel yang harus difasilitasi, dan yang paling penting, keran-keran wudhu tersendiri harus disediakan.”

Pentingnya Perencanaan Matang

Cak Imin menekankan pentingnya perencanaan yang matang sejak awal terkait kebutuhan jemaah haji. “Tidak boleh ada keterdesakan atau dadakan. Ledakan jumlah jemaah harus diantisipasi dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Negara kita kuat, pemerintah kita besar. Masak menangani hal seperti ini saja tidak bisa? Harus bisa,” uja Politisi Fraksi PKB ini.

Cak Imin juga menekankan pentingnya pemerintah mengambil peran dominan dalam menentukan fasilitas jemaah. “Setiap rapat dengan Kementerian Agama, DPR selalu meminta agar pemerintah tidak didikte oleh perusahaan. Pemerintah harus mendikte, sehingga kita bisa memilih tempat yang layak karena jumlah kita besar dan posisi kita kuat,” ujarnya.

Sebagai kesimpulan, Cak Imin menyerukan adanya revolusi dalam penyelenggaraan haji. “Harus ada revolusi penyelenggaraan haji dari awal, perbaikan total sehingga kondisi yang memprihatinkan ini tidak terulang lagi. Revolusi penanganan haji dimulai dari sini, kita akan benahi total,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah baru benar-benar melihat fakta ini dan tidak mendiamkan serta mengulang masalah yang sama setiap tahunnya. Selain itu, Cak Imin berharap temuan-temuannya itu segera ditindaklanjuti pihak-pihak terkait untuk meningkatkan kenyamanan dan kesejahteraan jemaah haji Indonesia di masa mendatang.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy